Tafsir Puasa dan Makna Ramadan Menurut Syaikh Abdul Qadir al-Jailani

Rabu, 03 April 2024 - 15:00 WIB
Demikianlah, segala sesuatu memiliki pusat orbitnya masing-masing. Dari pusat orbit itulah semua hal bermula. Dia menjadi semacam pijakan awal dalam keberlangsungan alam semesta. Dia menjadi yang terbaik di antara yang lain.

Syaikh Abdul Qadir al-Jilani menandai Ramadan sebagai punggawa di antara bulan-bulan lainnya (sayyidusy syuhur). Seperti Adam sebagai Tuan bagi sekalian manusia, Muhammad sebagai Tuannya bangsa Arab dan non Arab, Salman Al-Farisi sebagai punggawanya orang-orang Persia; Al-Baqarah sebagai sayyid Al-Quran, dan ayat kursi menjadi tuannya surat Al-Baqarah.



Ramadan, kata Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani, ibarat hati di dalam dada; seperti kehadiran para nabi di antara sekian makhluk. Layaknya Makkah bagi Arab, di mana Dajjal tak diizinkan menginjakkan kakinya di sana. Setan terbelenggu, dan para Nabi memberikan syafaat bagi para pelaku kemaksiatan.

Bulan Ramadan menjadi syafaat bagi mereka yang berpuasa, sementara hati-hati dihiasi dengan cahaya makrifat dan keimanan. Bulan itu, dilimpahi kilauan bacaan Al-Quran.
(mhy)
Halaman :
Lihat Juga :
Follow
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Hadits of The Day
Dari Abdullah bin Buraidah dari ayahnya dia berkata, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pernah mendengar seseorang mengucapkan: Ya Allah, sesungguhnya aku meminta kepada-Mu, bahwasanya Engkau adalah Allah Yang Maha Esa, yang bergantung pada-Nya segala sesuatu, yang tidak beranak dan tidak diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan-Nya. Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: Sungguh dia telah meminta kepada Allah dengan nama-Nya yang Agung, yang apabila diminta dengan menyebut-Nya, pasti akan diberi dan apabila berdoa dengan menyebut-Nya pasti akan dikabulkan.

(HR. Sunan Ibnu Majah No. 3847)
Artikel Terkait
Al-Qur'an, Bacalah!
Rekomendasi
Terpopuler
Artikel Terkini More