Kisah Pembebasan Mesir: Orang-Orang Kopti Memilih Netral ketika Pasukan Muslim dan Romawi Bertempur
Sabtu, 22 Juni 2024 - 12:40 WIB
Andaikata bangsa ini terang-terangan membantu pasukan Arab lalu Romawi yang menang, seribu kali celakalah mereka. Ilustrasi: Ist
Sukses pasukan muslim di bawah Amr bin Ash menguasai Farama atau Pelusium, Mesir, dipandang sejarawan sebagai keajaiban. Bagaimana hal ini terjadi? Bagaimana 4000 prajurit itu dapat mengepung kota yang diperkuat dengan tembok-tembok dan benteng-benteng yang begitu kukuh dan kuat, dengan melumpuhkan pasukannya, menyerbu tembok-tembok serta menerobos benteng-benteng itu?
Di antara mereka mencari dalih dengan beranggapan bahwa orang-orang Kopti Farama memberikan bantuan kepada pasukan Arab selama melakukan pengepungan. "Itulah yang menyebabkan mereka berhasil mengalahkan pihak musuh," tulis Muhammad Husain Haekal dalam bukunya berjudul "Al-Faruq Umar" dan diterjemahkan Ali Audah menjadi "Umar bin Khattab "Sebuah teladan mendalam tentang pertumbuhan Islam dan Kedaulatannya masa itu" (PT Pustaka Litera AntarNusa, 2000).
Menurut Haekal, sudah tentu orang-orang Kopti itu tidak akan membantu Romawi dalam berperang dengan pihak Arab kalau tidak karena terpaksa dalam keadaan mereka berada di bawah kekuasaannya. Mereka tidak senang terhadap kekuasaan Kaisar dan para pejabatnya.
Baca juga: Kisah Amr bin Ash Menaklukkan Barqah dan Tripoli Tanpa Perlawanan
Akan tetapi sudah tentu mereka juga tidak akan membantu pasukan Arab, kecuali bantuan-bantuan yang bersifat pribadi yang dilakukan secara sukarela dan diam-diam, yaitu mereka yang benar-benar sudah tak dapat menahan kemarahan kepada pihak Romawi dan pemerintahannya.
Mereka mempertaruhkan kemerdekaan dan hidup mereka dengan memperlihatkan segala rahasia Romawi. Tetapi yang di luar itu, menghadapi golongan yang sedang berperang itu bangsa Mesir bersikap seperti penonton yang penuh perhatian.
Mereka sudah merasakan pelbagai macam kekejaman, pemerasan dan penindasan dari Romawi sehingga mereka sudah kehilangan semangat untuk membantunya.
Mereka tidak tahu keadaan pihak Arab, akan juga menjadi sasaran kebencian mereka atau akan mereka sambut dengan senang hati. Soalnya, kekuatan dan kekuasaan Romawi di Mesir membuat mereka sangsi siapa yang akhirnya akan memperoleh kemenangan.
Menurut Haekal, berita-berita kemenangan Arab di Syam dan di Irak sudah sampai kepada mereka, tetapi mereka belum melupakan kemenangan Heraklius terhadap Persia di Mesir sampai akhirnya mereka terusir.
Baca juga: Politik Amr bin Ash di Mesir: Bebas Berkeyakinan dan Memberi Keringanan Pajak
Di antara mereka mencari dalih dengan beranggapan bahwa orang-orang Kopti Farama memberikan bantuan kepada pasukan Arab selama melakukan pengepungan. "Itulah yang menyebabkan mereka berhasil mengalahkan pihak musuh," tulis Muhammad Husain Haekal dalam bukunya berjudul "Al-Faruq Umar" dan diterjemahkan Ali Audah menjadi "Umar bin Khattab "Sebuah teladan mendalam tentang pertumbuhan Islam dan Kedaulatannya masa itu" (PT Pustaka Litera AntarNusa, 2000).
Menurut Haekal, sudah tentu orang-orang Kopti itu tidak akan membantu Romawi dalam berperang dengan pihak Arab kalau tidak karena terpaksa dalam keadaan mereka berada di bawah kekuasaannya. Mereka tidak senang terhadap kekuasaan Kaisar dan para pejabatnya.
Baca juga: Kisah Amr bin Ash Menaklukkan Barqah dan Tripoli Tanpa Perlawanan
Akan tetapi sudah tentu mereka juga tidak akan membantu pasukan Arab, kecuali bantuan-bantuan yang bersifat pribadi yang dilakukan secara sukarela dan diam-diam, yaitu mereka yang benar-benar sudah tak dapat menahan kemarahan kepada pihak Romawi dan pemerintahannya.
Mereka mempertaruhkan kemerdekaan dan hidup mereka dengan memperlihatkan segala rahasia Romawi. Tetapi yang di luar itu, menghadapi golongan yang sedang berperang itu bangsa Mesir bersikap seperti penonton yang penuh perhatian.
Mereka sudah merasakan pelbagai macam kekejaman, pemerasan dan penindasan dari Romawi sehingga mereka sudah kehilangan semangat untuk membantunya.
Mereka tidak tahu keadaan pihak Arab, akan juga menjadi sasaran kebencian mereka atau akan mereka sambut dengan senang hati. Soalnya, kekuatan dan kekuasaan Romawi di Mesir membuat mereka sangsi siapa yang akhirnya akan memperoleh kemenangan.
Menurut Haekal, berita-berita kemenangan Arab di Syam dan di Irak sudah sampai kepada mereka, tetapi mereka belum melupakan kemenangan Heraklius terhadap Persia di Mesir sampai akhirnya mereka terusir.
Baca juga: Politik Amr bin Ash di Mesir: Bebas Berkeyakinan dan Memberi Keringanan Pajak
Lihat Juga :