Tabiin yang Sahid di Tangan Penguasa Kufah Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi
Rabu, 26 Agustus 2020 - 12:15 WIB
Sa’id bin Jubair kemudian tersenyum.
Hajjaj, “Mengapa engkau tersenyum?”
Sa’id, “Aku takjub atas kecongkakanmu terhadap Allah dan kelapangan Allah terhadapmu.”
Hajjaj, “Bunuh dia sekarang!”
Sa’id, (menghadap kiblat sambil membaca firman Allah), “Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah,” (Al-An’am: 79).
Hajjaj, “Palingkan dia dari kiblat!”
Sa’id, (membaca firman Allah Ta’ala), “Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka ke manapun kamu menghadap di situlah wajah Allah,” (Al-Baqarah: 115).
Hajjaj, “Sunggkurkan dia ke tanah!”
Sa’id, (membaca firman Allah Ta’ala), “Dari bumi (tanah) itulah Kami menjadikan kamu dan kepadanya Kami akan mengembalikan kamu daripadanya Kami akan mengeluarkan kamu pada kali yang lain,” (Thaha: 55).
Hajjaj, “Sembelihlah musuh Allah ini! Aku belum pernah menjumpai orang yang suka berdalih dengan ayat-ayat Allah seperti dia.”
Sa’id, (mengangkat kedua tangannya sambil berdo’a), “Ya Allah jangan engkau beri kesempatan ia melakukannya atas orang lain setelah aku.”
Dr Abdurrahman Ra’at Basya dalam Mereka adalah Para Tabi’in menceritakan tak lebih dari lima 15 hari setelah wafatnya Sa’id bin Jubair, mendadak Hajjaj bin Yusuf terserang demam. Kian hari suhu tubuhnya makin meningkat dan bertambah parah rasa sakitnya hingga keadaannya silih berganti antara pingsan dan siuman. Tidurnya tak lagi nyenyak, sebentar-bentar terbangun dengan ketakutan dan mengigau, “Ini Sa’id bin Jubair hendak menerkammu! Ini Sa’id bin Jubair berkata, ‘Mengapa engkau membunuhku’?” Dia menangis tersedu-sedu menyesali diri, “Apa yang telah aku perbuat atas Sa’id bin Jubair? Kembalikan Sa’id bin Jubair kepadaku!”
Kondisi itu terus berlangsung hinga dia meninggal. Setelah kematian Hajjaj, seorang kawannya pernah memimpikannya. Dalam mimpinya itu dia bertanya kepada Hajjaj, “Apa yang Allah perbuat terhadapmu setelah membunuh orang-orang itu, wahai Hajjaj?”
Dia menjawab, “Aku disiksa dengan siksaan yang setimpal atas setiap orang tersebut, tapi untuk kematian Sa’id bin Jubair aku disiksa 70 kali lipat.” (
Siapa Said bin Jubair?
Nama lengkapnya adalah Sa’id bin Jubair al-Asadi al-Kufi, yang mempunyai julukan “Abu Abdillah”. Ia seorang ahli fiqh, pembaca al-Qur’an yang fasih dan ahli ibadah. Sufyan ats-Tsauri lebih mendahulukannya dari pada Ibrahim an-Nakha’i, ia berkata: “Ambilah tafsir dari empat orang, yaitu dari Sa’id bin Jubair, Mujahid, Ikrimah dan adl-Dhahhak”.
Dr Abdurrahman Ra’fat Basya dalam Shuwaru min Hayati at-Tabi’in menceritakan Said bertubuh kekar, sempurna bentuk tubuhnya, lincah gerak-geriknya, cerdas otaknya, jenius akalnya, antusias terhadap kebajikan dan menjauhi dosa. Meski hitam warna kulitnya, keriting rambutnya dan asalnya dari Habsy, namun tidaklah jatuh rasa percaya dirinya untuk menjadi manusia yang istimewa.
Sa’id mengarungi samudera kehidupan tanpa berleha-leha dan berpangku tangan. Sejak masih muda, orang-orang telah mengenalnya sebagai pemuda yang akrab dengan buku-buku yang ia baca. Atau jika mereka tidak mendapatkannya sedang membaca buku, maka ia tengah di mihrabnya untuk beribadah.
Sa’id berguru kepada banyak sahabat senior, tapi guru utamanya adalah Abdullah bin Abbas, guru besar umat Islam dan lautan ilmu yang luas. Dengan setia Sa’id bin Jubair mengikuti Abdullah bin Abbas layaknya bayangan yang selalu mengikuti orangnya. Dari sahabat inilah ia menggali tafsir Al-Qur’an, hadis-hadis dan seluk beluknya. Darinya pula ia mendalami persoalan agama maupun tafsirnya. Juga mempelajari bahasa hingga mahir dengannya. Dan pada gilirannya, tidak ada seorangpun di muka bumi ini kecuali memerlukan ilmunya.
Selanjutnya ia mengembara dan berkeliling di negara-negara muslimin untuk mencari ilmu sesuai kehendak Allah. Setelah merasa cukup, ia memilih Kufah sebagai tempat tinggalnya. Dan kelak ia menjadi guru dan imam di kota itu.
Hajjaj, “Mengapa engkau tersenyum?”
Sa’id, “Aku takjub atas kecongkakanmu terhadap Allah dan kelapangan Allah terhadapmu.”
Hajjaj, “Bunuh dia sekarang!”
Sa’id, (menghadap kiblat sambil membaca firman Allah), “Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah,” (Al-An’am: 79).
Hajjaj, “Palingkan dia dari kiblat!”
Sa’id, (membaca firman Allah Ta’ala), “Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka ke manapun kamu menghadap di situlah wajah Allah,” (Al-Baqarah: 115).
Hajjaj, “Sunggkurkan dia ke tanah!”
Sa’id, (membaca firman Allah Ta’ala), “Dari bumi (tanah) itulah Kami menjadikan kamu dan kepadanya Kami akan mengembalikan kamu daripadanya Kami akan mengeluarkan kamu pada kali yang lain,” (Thaha: 55).
Hajjaj, “Sembelihlah musuh Allah ini! Aku belum pernah menjumpai orang yang suka berdalih dengan ayat-ayat Allah seperti dia.”
Sa’id, (mengangkat kedua tangannya sambil berdo’a), “Ya Allah jangan engkau beri kesempatan ia melakukannya atas orang lain setelah aku.”
Dr Abdurrahman Ra’at Basya dalam Mereka adalah Para Tabi’in menceritakan tak lebih dari lima 15 hari setelah wafatnya Sa’id bin Jubair, mendadak Hajjaj bin Yusuf terserang demam. Kian hari suhu tubuhnya makin meningkat dan bertambah parah rasa sakitnya hingga keadaannya silih berganti antara pingsan dan siuman. Tidurnya tak lagi nyenyak, sebentar-bentar terbangun dengan ketakutan dan mengigau, “Ini Sa’id bin Jubair hendak menerkammu! Ini Sa’id bin Jubair berkata, ‘Mengapa engkau membunuhku’?” Dia menangis tersedu-sedu menyesali diri, “Apa yang telah aku perbuat atas Sa’id bin Jubair? Kembalikan Sa’id bin Jubair kepadaku!”
Kondisi itu terus berlangsung hinga dia meninggal. Setelah kematian Hajjaj, seorang kawannya pernah memimpikannya. Dalam mimpinya itu dia bertanya kepada Hajjaj, “Apa yang Allah perbuat terhadapmu setelah membunuh orang-orang itu, wahai Hajjaj?”
Dia menjawab, “Aku disiksa dengan siksaan yang setimpal atas setiap orang tersebut, tapi untuk kematian Sa’id bin Jubair aku disiksa 70 kali lipat.” (
Siapa Said bin Jubair?
Nama lengkapnya adalah Sa’id bin Jubair al-Asadi al-Kufi, yang mempunyai julukan “Abu Abdillah”. Ia seorang ahli fiqh, pembaca al-Qur’an yang fasih dan ahli ibadah. Sufyan ats-Tsauri lebih mendahulukannya dari pada Ibrahim an-Nakha’i, ia berkata: “Ambilah tafsir dari empat orang, yaitu dari Sa’id bin Jubair, Mujahid, Ikrimah dan adl-Dhahhak”.
Dr Abdurrahman Ra’fat Basya dalam Shuwaru min Hayati at-Tabi’in menceritakan Said bertubuh kekar, sempurna bentuk tubuhnya, lincah gerak-geriknya, cerdas otaknya, jenius akalnya, antusias terhadap kebajikan dan menjauhi dosa. Meski hitam warna kulitnya, keriting rambutnya dan asalnya dari Habsy, namun tidaklah jatuh rasa percaya dirinya untuk menjadi manusia yang istimewa.
Sa’id mengarungi samudera kehidupan tanpa berleha-leha dan berpangku tangan. Sejak masih muda, orang-orang telah mengenalnya sebagai pemuda yang akrab dengan buku-buku yang ia baca. Atau jika mereka tidak mendapatkannya sedang membaca buku, maka ia tengah di mihrabnya untuk beribadah.
Sa’id berguru kepada banyak sahabat senior, tapi guru utamanya adalah Abdullah bin Abbas, guru besar umat Islam dan lautan ilmu yang luas. Dengan setia Sa’id bin Jubair mengikuti Abdullah bin Abbas layaknya bayangan yang selalu mengikuti orangnya. Dari sahabat inilah ia menggali tafsir Al-Qur’an, hadis-hadis dan seluk beluknya. Darinya pula ia mendalami persoalan agama maupun tafsirnya. Juga mempelajari bahasa hingga mahir dengannya. Dan pada gilirannya, tidak ada seorangpun di muka bumi ini kecuali memerlukan ilmunya.
Selanjutnya ia mengembara dan berkeliling di negara-negara muslimin untuk mencari ilmu sesuai kehendak Allah. Setelah merasa cukup, ia memilih Kufah sebagai tempat tinggalnya. Dan kelak ia menjadi guru dan imam di kota itu.
Lihat Juga :