Sunah Menurut Kaum Syiah Rafidah yang Gemar Memaki Sahabat Nabi

Sabtu, 05 Oktober 2024 - 09:24 WIB
Kaum Rafldhah mempunyai ketentuan dasar bahwa orang yang tidak mengangkat Ali sebagai pemimpin, berarti ia telah menodai pesan Nabi. Ilustrasi: Ist/mhy
BAGI kaum Rafidah , sunnah bukanlah seperti yang dimiliki orang Sunni . Sunnah, menurut pengertian mereka, adalah hadis yang diriwayatkan oleh para imam yang ma'shum (suci dari dosa). Mereka berjumlah dua belas. Adapun hadis yang diriwayatkan oleh selain imam, maka itu tidak dipandang sebagai hadis, walaupun sanadnya sahih dan muttashil (bersambung kepada Nabi).

Dr. Mustafa as-Siba'i menyatakan, kaum Rafldhah mempunyai ketentuan dasar bahwa orang yang tidak mengangkat Ali bin Abi Thalib sebagai pemimpin, berarti ia telah menodai pesan Nabi. la telah menentang imam yang benar. Dengan begitu, ia tidak bisa dipandang adil dan terpercaya.

Dalam menerima atau meneliti hadits, mereka tidak menggunakan metoda ilmiah, misalnya meneliti sanad (silsilah hadits) dan matan (teks hadits), seperti yang dilakukan oleh ulama Sunni, untuk mengetahui mana hadits yang sahih dan yang lemah (dha'if). Mereka tidak menggunakan metoda itu. Mereka hanya berpegang kepada riwayat imam, seperti telah disebutkan tadi. Ketersucian sang imam dari dosa sudah cukup bagi mereka sebagai kriteria kesahihan sebuah hadits.

Baca juga: Salah Satu Ciri Sesat Kaum Rafidhah, Gemar Memaki Sahabat Nabi Muhammad SAW

Padahal, hadits-hadits yang diriwayatkan melalui sanad keluarga Nabi atau Ahlul Bayt sangatlah sedikit jumlahnya. Itulah sebabnya mengapa mereka meluputkan sejumlah hadits yang cukup besar.

Mereka beranggapan, hadits tidak datang kecuali melalui sanad Ahlul Bayt. Lalu, syarat 'ishmah (keterbebasan dari dosa) mereka kenakan kepada para perawi. Karena itu, hadits Nabi menjadi terlalu sempit untuk dapat menerangkan berbagai aspek Islam seperti yang telah diterangkan oleh Rasulullah SAW. juga, anggapan tersebut tidak mampu menjabarkan bagian ajaran Islam yang disampaikan Nabi tanpa penjelasan.

Kenyataan di atas menyebabkan kaum Rafidhah harus terus berbohong dimana mereka bersandar kepada imam-imam mereka. Dari sini mereka meneruskan kebohongan mereka itu kepada Nabi, atau mencukupkan hingga kepada 'Ali dan Fatimah, atau kepada salah seorang dari keturunan mereka.

Mereka melakukan perbuatan tidak mulia itu walaupun harus berlawanan dengan hadits Nabi, namun sejalan dengan riwayat salah seorang sahabat yang mereka pandang kafir, seperti akan dijelaskan kemudian.

Dr. 'Abdullah Fayadh, dosen Sejarah Islam di Universitas Baghdad, di dalam bukunya Tarikh al-Imamiyah yang diberi kata pengantar oleh Sayyid Muhammad Baqir, menulis:5"Sesungguhnya kepercayaan bahwa imam-imam itu ma'shum (bebas dosa) menyebabkan semua hadits yang keluar dari mereka sahih dengan sendirinya, tanpa melihat apakah riwayat itu berasal dari Nabi (muttashil) ataukah tidak, sebagaimana dilakukan oleh perawi Sunni".6

Baca juga: Begini Pengertian Rafidah dan Syiah Menurut Ulama Suni
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!