Rumi: Cinta Terbesar Adalah Keheningan dan Tidak Bisa Diungkapkan dengan Kata-Kata

Jum'at, 11 September 2020 - 10:49 WIB

Mereka meninggalkan Nisyapur dengan kata-kata kewalian Aththar yang terngiang dalam telinga mereka, "Anak ini akan memercikkan api kemuliaan dan keagungan suci bagi dunia". Kota itu tidak aman. Seperti Najmuddin, Aththar menunggu gilirannya menuju ke-syahid-an yang diterimanya dari tangan orang-orang Mongol tidak lama setelah itu.

Kelompok sufi dengan pemimpin mudanya itu sampai ke Baghdad di mana mereka mendengar penghancuran Balkh dan pembantaian penduduknya. Selama beberapa tahun mereka mengembara, menunaikan ibadah Haji ke Makkah, kembali menuju utara ke Syria dan Asia Kecil, mengunjungi pusat-pusat Sufi. (Baca juga: Rumi: Di Musim Dingin, Sebuah Pohon Tengah Mengumpulkan Makanan )

Asia Tengah terpecah-belah karena serangan orang-orang Mongol yang tiada henti-hentinya, dan setelah tegak kurang dari enam abad, peradaban Islam tampaknya menjelang keruntuhannya.

Asy-Syekh al Akbar

Pada akhirnya ayah Rumi mendirikan pusat kegiatannya tak jauh dari Konia, yang terkait dengan nama St. Paul. Pada saat itu, kota itu berada di tangan penguasa Seljuk dan Raja Seljuk mengundang Jalaluddin untuk tinggal di sana. Ia menerima sebuah jabatan profesional dan melanjutkan mengajar putranya tentang rahasia-rahasia Sufi. (Baca juga: Jalaluddin Rumi dan Asal-Usul Tarekat Darwis Berputar )


Jalaluddin juga berhubungan dengan Guru Terbesar ( asy-Syekh al Akbar ), penyair dan seorang guru dari Spanyol, yaitu Ibnu Arabi yang pada waktu itu berada di Baghdad. Hubungan itu terjadi melalui Burhanuddin, salah seorang guru Rumi yang melakukan perjalanan ke kawasan Seljuk untuk menemui ayah Rumi yang baru saja meninggal. Karena menggantikannya sebagai pembimbing Rumi, ia membawanya ke Aleppo dan Damaskus.

Baca juga: Informasi soal Partai Baru Amien Rais Dicicil Agar Undang Rasa Ingin Tahu Publik


Ketika usianya mencapai empat puluh tahun, Rumi memulai pengajaran mistiknya secara semi-publik. Seorang darwis misterius, "Syamsuddin at-Tabrizi" mengilhaminya untuk menghasilkan sejumlah besar puisinya yang terbaik dan untuk meramu ajaran-ajarannya dengan cara dan bentuk yang dirancang untuk mempertahankan keseluruhan Tarekat Mevlevi. Karyanya telah diselesaikan dan darwis misterius itu lenyap setelah masa sekitar tiga tahun dan tidak ada lagi jejak tentang dirinya yang bisa dilaporkan.

Baca juga: Jejak Amien Rais: Kritisi Hasil Kongres, Mengaku Dikeluarkan dari PAN, hingga Umumkan Partai Baru

"Utusan dari dunia tak dikenal" ini oleh putra Rumi disepadankan dengan Khidr yang misterius, pembimbing dan pelindung para sufi yang muncul kemudian berlalu dari kognisi normal setelah menyampaikan pesannya.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!