Burung-Burung itu Meniadakan Diri Dalam Diri Sang Simurgh

Minggu, 27 September 2020 - 06:59 WIB
Kemudian mereka tenggelam dalam tafakur, dan sejenak kemudian, tanpa menggunakan kata-kata, mereka mohon pada sang Simurgh agar menyingkapkan pada mereka rahasia tentang rahasia keesaan dan kejamakan segala wujud. (Baca juga: Lembah Kebebasan: Kisah Cinta Seorang Syaikh dan Putri Pemelihara Anjing )

Sang Simurgh, juga tanpa kata-kata, memberikan jawaban ini, "Matahari keluhuranku ialah cermin. Siapa bercermin di sana melihat jiwa dan raganya, melihat semua itu sepenuhnya. Karena kalian telah datang sebagai tiga puluh burung, si-murgh, kalian pun akan melihat tiga puluh burung dalam cermin itu. Bila empat puluh atau lima puluh yang datang, tentu akan melihat sejumlah itu pula. Meskipun kalian kini telah berubah sepenuhnya, namun kalian melihat diri kalian sendiri sebagaimana keadaan kalian dahulu.

Dapatkah penglihatan seekor semut sampai ke bintang Kartika yang sayup? Dan dapatkah serangga mengangkat landasan? Pernahkah kalian melihat nyamuk mencaplok gajah? (Baca juga: Lembah Keinsafan: Pecinta, Sultan Mahmud, dan Si Gila Tuhan )

Segala yang telah kalian ketahui, segala yang telah kalian lihat, segala yang telah kalian katakan atau kalian dengar-semuanya bukan yang itu lagi. Bila kalian melintasi lembah-lembah Jalan Rohani dan bila kalian melakukan kewajiban-kewajiban yang baik, kalian melakukan semua itu dengan kegiatanku yang menyertai kalian; dan kalian dapat melihat lembah-lembah hakikat dan kesempurnaanku.

Baca juga: Mardani Ali Sera: Harus Ada yang Berani Ambil Alih Orkestrasi Pilkada 2020


Kalian yang hanya tiga puluh burung saja, sepantasnya merasa kagum, tak sabar dan heran. Tetapi aku lebih dari tiga puluh burung. Aku hakikat sang Simurgh yang sejati itu sendiri. Maka leburkan diri kalian dalam diriku dengan jaya dan gembira, dan dalam diriku kalian akan menemukan diri kalian sendiri."

Segera sesudah itu, burung-burung itu akhirnya meniadakan diri mereka sendiri dalam diri sang Simurgh - bayang-bayang telah lenyap dalam cahaya surya, dan begitulah adanya.

Baca juga: Muncul Klaster Gereja, Dua Pendeta Meninggal Positif COVID-19 di Pati


Segala yang telah kau dengar, kau lihat atau kau ketahui bukan pula awal dari apa yang harus kau ketahui, dan karena permukiman yang bobrok di dunia ini bukan tempatmu, maka kau harus meninggalkannya. Carilah pokok pohon itu, dan jangan risaukan apakah cabang-cabangnya ada atau tidak ada.

Kebakaan Setelah Kemusnahan

Setelah seratus ribu keturunan berlalu, burung-burung fana itu dengan sendirinya menyerahkan diri pada kemusnahan sepenuhnya. Tiada siapa pun, baik muda maupun tua, dapat berbicara dengan tepat tentang kematian atau kebakaan.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!