Ketika Khalifah Umar bin Khattab Memimpin Perang dari Jarak Jauh
Rabu, 04 November 2020 - 14:39 WIB
Sekarang mereka akan terkepung, dan tak ada jalan lain mereka harus angkat tangan dan menyerah. Kepada penduduk al-Jazirah yang berada di bawah kekuasaan Romawi mereka mengirim utusan untuk meminta bantuan melawan pasukan Muslimin yang ada di sana. Semua berita ini sudah sampai kepada Sa’ad ketika Hasyim bin Utbah kembali dari Jalula dengan kemenangan. (Baca juga: Kemenangan Muslim, Berakhirnya Kekaisaran Kisra dan Rampasan Perang yang Tak Ternilai )
Juga berita tentang berkumpulnya besar-besaran pasukan Jazirah di kota Hit di pantai Furat. Atas perintah Umar sebuah pasukan dikirim ke sana di bawah pimpinan Amr bin Malik. Ternyata mereka sudah memperkuat diri di kota itu dan sudah menggali parit di sekitarnya. Dengan mewakilkan kepada Haris bin Yazid untuk meneruskan pengepungan, ia sendiri berangkat ke utara ke Qarkisia di persimpangan Furat dengan Khabur yang berada di perbatasan Irak dengan Syam. Kota ini dikuasai dengan jalan disergap dan para penjaga dan penghuninya bersedia membayar jizyah.
Setelah itu ia menulis surat kepada Haris bin Yazid agar pasukan yang bertahan di Hit dibiarkan kalau mereka mau keluar dari sana. Kalau tidak, di luar parit mereka supaya digali sebuah parit lagi dan semua pintunya hanya menuju ke arah itu. Haris memberitahukan pihak Hit tentang rencananya itu, dan meyakinkan mereka bahwa pengepungan akan diteruskan sampai mereka mati. Mereka pun menyerah dan keluar meninggalkan kota itu, yang selanjutnya ditempati oleh pasukan Muslimin. (Baca juga: Mukzijat Musa di Sungai Tigris untuk Pasukan Muslim, Kaisar Persia Lari Terbirit-birit )
Berita-berita mengenai kota-kota Hit dan Qarkisia serta kemenangan pasukannya di sana sudah diketahui oleh Sa’ad. la bertambah yakin akan hikmah kebijaksanaan Umar untuk tidak mengejar pasukan Yazdigird di pegunungan dan dataran Persia itu. Andaikata dengan kekuatan bersenjatanya ia terus mengejar mereka kemudian pihak Irak memberontak dan Persia berusaha mengobarkan semangat mereka, pasti ia
akan menemui kesulitan untuk menumpasnya.
Sesudah kemenangan Hasyim di Jalula ia mendapat berita bahwa angkatan bersenjata Persia berkumpul di Masabazan, di perbatasan Irak-Arab di sebelah timur dengan Persia di sebelah barat. Ia segera mengirim sebuah pasukan di bawah pimpinan Dirar bin Khattab untuk menghadapi mereka di dataran Masabazan. (Baca juga: Hadapi Muslim, Pasukan Persia Anggap Berperang dengan Jin )
Dalam pertempuran itu mereka dapat dipatahkan dan komandan mereka terbunuh. Kemudian mereka dikejar terus sampai ke Masabazan dan dengan jalan kekerasan kota ini pun akhirnya dapat dikuasai. Melihat penduduk yang berlarian ke gunung-gunung, ia memanggil mereka dan panggilan itu mereka penuhi. Mereka bersedia membayar jizyah. Sekarang mereka aman tinggal di kota itu.
Kemenangan akibat serangan-serangan yang terus-menerus di Irak bagian utara dan timur itu membuat mereka tunduk kepada kekuasaan Muslimin. Sebelum di bagian utara dan timur, bagian selatan Irak sudah lebih dulu tunduk, yaitu ketika mereka melihat kekuatan Khalid bin Walid dan Musanna bin Harisah pada masa pemerintahan Abu Bakar .
Bagian selatan ini pernah memberontak kepada kekuatan Muslimin ketika seluruh Irak memberontak. Sesudah Umar mengirim Sa’ad bin Abi Waqqas ke Kadisiah, Utbah bin Gazwan dikirimnya untuk menyerang selatan, yang bersama Arfajah bin Harsamah al-Bariqi berangkat ke Ubullah, di dekat Basrah sekarang, dan merebutnya kembali dari Persia sesudah pertempuran kalah menang yang silih berganti selama beberapa minggu. (Baca juga: Pasukan Muslim Kepung Kota Bahrasir, Ajakan Damai Raja Persia Ditolak )
Ubullah ketika itu merupakan sebuah pelabuhan besar, tempat kapal-kapal yang datang dari Cina dan India berlabuh dan bertolak dari sana. Di tempat ini banyak sekali orang India yang bekerja sebagai pedagang. Penduduk Ubullah keluar dengan membawa barang-barang yang dapat mereka bawa ketika pengawal-pengawal kota sudah mengalami kekalahan.
Juga berita tentang berkumpulnya besar-besaran pasukan Jazirah di kota Hit di pantai Furat. Atas perintah Umar sebuah pasukan dikirim ke sana di bawah pimpinan Amr bin Malik. Ternyata mereka sudah memperkuat diri di kota itu dan sudah menggali parit di sekitarnya. Dengan mewakilkan kepada Haris bin Yazid untuk meneruskan pengepungan, ia sendiri berangkat ke utara ke Qarkisia di persimpangan Furat dengan Khabur yang berada di perbatasan Irak dengan Syam. Kota ini dikuasai dengan jalan disergap dan para penjaga dan penghuninya bersedia membayar jizyah.
Setelah itu ia menulis surat kepada Haris bin Yazid agar pasukan yang bertahan di Hit dibiarkan kalau mereka mau keluar dari sana. Kalau tidak, di luar parit mereka supaya digali sebuah parit lagi dan semua pintunya hanya menuju ke arah itu. Haris memberitahukan pihak Hit tentang rencananya itu, dan meyakinkan mereka bahwa pengepungan akan diteruskan sampai mereka mati. Mereka pun menyerah dan keluar meninggalkan kota itu, yang selanjutnya ditempati oleh pasukan Muslimin. (Baca juga: Mukzijat Musa di Sungai Tigris untuk Pasukan Muslim, Kaisar Persia Lari Terbirit-birit )
Berita-berita mengenai kota-kota Hit dan Qarkisia serta kemenangan pasukannya di sana sudah diketahui oleh Sa’ad. la bertambah yakin akan hikmah kebijaksanaan Umar untuk tidak mengejar pasukan Yazdigird di pegunungan dan dataran Persia itu. Andaikata dengan kekuatan bersenjatanya ia terus mengejar mereka kemudian pihak Irak memberontak dan Persia berusaha mengobarkan semangat mereka, pasti ia
akan menemui kesulitan untuk menumpasnya.
Sesudah kemenangan Hasyim di Jalula ia mendapat berita bahwa angkatan bersenjata Persia berkumpul di Masabazan, di perbatasan Irak-Arab di sebelah timur dengan Persia di sebelah barat. Ia segera mengirim sebuah pasukan di bawah pimpinan Dirar bin Khattab untuk menghadapi mereka di dataran Masabazan. (Baca juga: Hadapi Muslim, Pasukan Persia Anggap Berperang dengan Jin )
Dalam pertempuran itu mereka dapat dipatahkan dan komandan mereka terbunuh. Kemudian mereka dikejar terus sampai ke Masabazan dan dengan jalan kekerasan kota ini pun akhirnya dapat dikuasai. Melihat penduduk yang berlarian ke gunung-gunung, ia memanggil mereka dan panggilan itu mereka penuhi. Mereka bersedia membayar jizyah. Sekarang mereka aman tinggal di kota itu.
Kemenangan akibat serangan-serangan yang terus-menerus di Irak bagian utara dan timur itu membuat mereka tunduk kepada kekuasaan Muslimin. Sebelum di bagian utara dan timur, bagian selatan Irak sudah lebih dulu tunduk, yaitu ketika mereka melihat kekuatan Khalid bin Walid dan Musanna bin Harisah pada masa pemerintahan Abu Bakar .
Bagian selatan ini pernah memberontak kepada kekuatan Muslimin ketika seluruh Irak memberontak. Sesudah Umar mengirim Sa’ad bin Abi Waqqas ke Kadisiah, Utbah bin Gazwan dikirimnya untuk menyerang selatan, yang bersama Arfajah bin Harsamah al-Bariqi berangkat ke Ubullah, di dekat Basrah sekarang, dan merebutnya kembali dari Persia sesudah pertempuran kalah menang yang silih berganti selama beberapa minggu. (Baca juga: Pasukan Muslim Kepung Kota Bahrasir, Ajakan Damai Raja Persia Ditolak )
Ubullah ketika itu merupakan sebuah pelabuhan besar, tempat kapal-kapal yang datang dari Cina dan India berlabuh dan bertolak dari sana. Di tempat ini banyak sekali orang India yang bekerja sebagai pedagang. Penduduk Ubullah keluar dengan membawa barang-barang yang dapat mereka bawa ketika pengawal-pengawal kota sudah mengalami kekalahan.
Lihat Juga :