Memperkuat Silaturahmi meski Hanya Lewat Daring

Sabtu, 16 Mei 2020 - 10:03 WIB
Sejumlah jamaah berdoa saat iktikaf di Masjid Jamik, Lhokseumawe, Aceh, kemarin. Memasuki sepuluh hari terakhir Ramadhan, umat muslim memperbanyak ibadah untuk mengharapkan hikmah malam lailatulqadar. Foto/Antara
JAKARTA - Tradisi umat Islam di Indonesia setelah berpuasa Ramadhan selama sebulan adalah melakukan silaturahmi untuk saling memaafkan. Namun di masa Covid-19 ini silaturahmi sulit dilakukan karena demi menghindari terjadinya penularan virus.

Di sisi lain silaturahmi juga harus tertunda karena adanya kebijakan larangan mudik oleh pemerintah. Khususnya perantau pada Lebaran kali ini tidak bisa pulang kampung untuk bertemu dengan keluarga dan kerabat. Larangan mudik ini juga dalam rangka untuk mencegah persebaran Covid-19 yang lebih luas lagi di daerah.

Wakil Menteri Agama (Wamenag) Zainut Tauhid Sa’adi mengatakan, silaturahmi di dalam Islam sangat dianjurkan. Silaturahmi di saat Lebaran menjadi ajang saling memaafkan sehingga dosa-dosa pun terhapus. Selain itu hal tersebut bermanfaat untuk mengikat tali persaudaraan yang terputus dan semakin memupuk keimanan kepada Allah SWT.

Menurutnya hambatan yang ada akibat Covid-19 tak berarti membuat umat Islam sama sekali kehilangan kesempatan bersilaturahmi. Salah satu caranya adalah memanfaatkan teknologi digital atau melalui media dalam jaringan (daring). (Baca: 4 Bahaya Jika Seseorang Menjauh dan Melupakan Alquran)

“Silaturahmi menjadi anjuran agama dan sekarang kita di era teknologi yang semakin canggih sehingga silaturahmi bisa dilakukan melalui media-media daring,” ujar Zainut kepada KORAN SINDO kemarin.

Wamenag mengatakan, mudik memang sebaiknya tidak dilakukan karena dikhawatirkan perantau yang berasal dari zona merah lalu datang ke zona hijau bisa menyebabkan penularan. Memang ada protokol kesehatan yang diterapkan di daerah, tetapi tetap saja berbahaya karena ada pasien yang tidak menunjukkan gejala terinfeksi virus.

Zainut pun berharap semua masyarakat bersabar dan kuat menahan diri untuk menegakkan tanggung jawab bersama sebagai bangsa agar bangsa Indonesia bisa keluar dengan cepat dari krisis ini.

“Dan saya kira itu menjadi tugas mulia. Karena Rasulullah SAW sendiri bersabda jika Anda mendengar di satu daerah terjadi wabah, Anda jangan menuju ke daerah tersebut, tapi jika Anda berada di daerah itu, Anda jangan keluar dari daerah itu,” paparnya.

Peraih gelar doktor dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu menjelaskan, bertelepon untuk meminta maaf dan bertanya kabar pun bisa menjadi silaturahmi. Lalu silaturahmi daring juga bisa dilakukan melalui video call atau memakai Skype. Bahkan saat ini aplikasi Zoom yang biasanya digunakan untuk seminar daring juga bisa dipakai untuk bersilaturahmi daring antarkeluarga.

Memang diakui masalah menjaga silaturahmi ini tidak sesederhana itu, bisa diselesaikan dengan teknologi, karena tidak semua masyarakat mengenali teknologi itu. Namun, kata dia, inti dari semuanya adalah bagaimana umat Islam tetap menjaga diri dan menjaga nyawa orang lain dengan tidak mengambil risiko mudik karena bisa menularkan virus. (Baca juga: Bolak-balik Melakukan Dosa, Ini Penawarnya)
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!