BWI Ungkap Pentingnya Wakaf dalam Kehidupan Bermasyarakat
Rabu, 21 April 2021 - 00:02 WIB
Ketua BWI Mohammad Nuh bersama jurnalis senior, Wahyu Muryadi saat menjadi narasumber Media Gathering bertema Bersama Menggagas Penguatan Literasi Wakaf Masyarakat di Hotel Mercure, Sabang, Jakarta Pusat, Selasa (20/4/2021). FOTO/SINDOnews/ABDUL MALIK
JAKARTA - Ketua Badan Wakaf Indonesia (BWI) Mohammad Nuh mengungkapkan betapa pentingnya budaya berwakaf terus digulirkan di tengah kehidupan masyarakat. Wakaf memberikan manfaat luar biasa yang bisa dirasakan langsung oleh masyarakat.
"Jika tidak ada orang berwakaf, berapa angka kemiskinan di Indonesia? Berapa siswa angka putus sekolah," kata Mohammad Nuh dalam Media Gathering bertema 'Bersama Menggagas Penguatan Literasi Wakaf Masyarakat di Hotel Mercure, Sabang, Jakarta Pusat, Selasa (20/4/2021).
Menurutnya, wakaf telah dikenal sejak zaman Nabi Muhammad. Bahkan, telah menjadi semacam gaya hidup (lifestyle) para sahabat, selain zakat dan sodaqoh. Masing-masing amal baik itu memiliki perbedaan dalam peruntukannya. Zakat, infaq, dan sodaqoh ibaratnya biaya operasional keumatan yang habis saat dibagikan. Sementara wakaf lebih bersifat strategis untuk membangun peradaban, sehingga tidak boleh berkurang dan harus bertambah.
Baca juga: Mau Investasi Sekaligus Berwakaf, Cek Instrumen SWR002
"Zakat, infak dan sedekah ibarat biaya operasional keumatan, akan habis saat dibagikan. Sementara wakaf bernilai strategis untuk membangun peradaban, karena wakaf tidak boleh berkurang harus bertambah melalui pengelolaan," kata Ketua Dewan Pers ini.
Mohammad Nuh memberikan contoh pengelolaan wakaf yang telah berhasil dan memberikan banyak manfaat. Salah satunya Masjid Al-Falah yang berada di Orchard Road, Singapura. Masjid wakaf ini memiliki gedung megah yang disewakan. Hasilnya digunakan untuk umat dan pengembangan Islam.
Karena itu, mantan Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ini, yakin melalui pengelolaan wakaf Indonesia akan menjadi negara produktif.
Baca juga: Luncurkan Wakaf Super Apps, BWI Ingin Berwakaf Lebih Mudah dan Transparan
"Jika tidak ada orang berwakaf, berapa angka kemiskinan di Indonesia? Berapa siswa angka putus sekolah," kata Mohammad Nuh dalam Media Gathering bertema 'Bersama Menggagas Penguatan Literasi Wakaf Masyarakat di Hotel Mercure, Sabang, Jakarta Pusat, Selasa (20/4/2021).
Menurutnya, wakaf telah dikenal sejak zaman Nabi Muhammad. Bahkan, telah menjadi semacam gaya hidup (lifestyle) para sahabat, selain zakat dan sodaqoh. Masing-masing amal baik itu memiliki perbedaan dalam peruntukannya. Zakat, infaq, dan sodaqoh ibaratnya biaya operasional keumatan yang habis saat dibagikan. Sementara wakaf lebih bersifat strategis untuk membangun peradaban, sehingga tidak boleh berkurang dan harus bertambah.
Baca juga: Mau Investasi Sekaligus Berwakaf, Cek Instrumen SWR002
"Zakat, infak dan sedekah ibarat biaya operasional keumatan, akan habis saat dibagikan. Sementara wakaf bernilai strategis untuk membangun peradaban, karena wakaf tidak boleh berkurang harus bertambah melalui pengelolaan," kata Ketua Dewan Pers ini.
Mohammad Nuh memberikan contoh pengelolaan wakaf yang telah berhasil dan memberikan banyak manfaat. Salah satunya Masjid Al-Falah yang berada di Orchard Road, Singapura. Masjid wakaf ini memiliki gedung megah yang disewakan. Hasilnya digunakan untuk umat dan pengembangan Islam.
Karena itu, mantan Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ini, yakin melalui pengelolaan wakaf Indonesia akan menjadi negara produktif.
Baca juga: Luncurkan Wakaf Super Apps, BWI Ingin Berwakaf Lebih Mudah dan Transparan
Lihat Juga :