Lebaran di Tengah Pandemi
Jum'at, 22 Mei 2020 - 11:57 WIB
Lebaran Idul Fitri kali ini sangat lain. Orang lebih merindukan kapan pandemi berakhir ketimbang kapan berjumpa Idul Fitri. Ilustrasi/SINDOnews
Komaruddin Hidayat
Rektor Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII)
BAGI orang beriman, pandemi sering disikapi sebagai ujian dari Tuhan. Dalam dunia pendidikan, ujian diberikan pada siswa agar belajarnya lebih intens, mendalami pelajaran yang pernah diberikan, siapa yang lulus maka akan naik kelas.
Jadi, ujian selalu berkaitan dengan belajar serius yang buahnya bertambah ilmu dan mengangarkan naik jenjang kelas. Demikianlah, pandemi dan puasa juga memiliki titik temu dan keterkaitan. Pandemi membuat seseorang semakin khusyuk dalam beribadah dan berdoa, sedangkan ibadah puasa membuat seseorang semakin kuat dan sabar menghadapi wabah corona.
Lebaran Idul Fitri kali ini sangat lain. Orang lebih merindukan kapan pandemi berakhir ketimbang kapan berjumpa Idul Fitri. Bagi masyarakat Indonesia, Idul Fitri tidak dimaknai sekedar ramadhan berakhir lalu ditutup salat Ied. (Baca juga: 10 Kebiasaan Rasulullah Dalam Merayakan Idul Fitri )
Lebih dari itu yang membuat bergairah dan heboh dari Idul Fitri adalah pulang mudik ramai-ramai, yang tahun ini terhalang oleh bahaya penyebaran wabah corona. Jika masyarakat dibiarkan berkumpul ramai-ramai baik untuk salat Ied maupun pulang kampung berjejal-jejalan di jalanan serta saling berkunjung di kampung halaman, maka penyebaran corona pasti akan melonjak.
Yang akan menderita adalah masyarakat sendiri, sementara fasilitas rumah sakit serta tenaga medis pasti tak akan mampu melayani pasien. Oleh karena itu, mestinya masyarakat sendiri yang paling bertanggung jawab akan kesehatan dan keselamatan mereka, jangan menyandarkan pada orang lain, termasuk negara. (Baca juga: Presiden Jokowi dan Jajarannya Tak Akan Gelar Open House )
Kemampuan negara terbatas. Rumah sakit, keuangan, tenaga medis, dan obat-obatan yang dimiliki pemerintah tak akan cukup untuk memberi bantuan dan layanan pada masyarakat jika jumlah kurban covid-19 terus meningkat.
Kita memang punya alasan untuk kecewa terhadap kinerja pemerintah dalam menghadapi covid ini. Ibarat kesebalasan sepak bola, tidak terbentuk team work yang kompak dan cerdas, melainkan beberapa pemain intinya tampil di bawah standar. Namun sesungguhnya ini juga terjadi di berbagai negara lain.
Negara-negara di Eropa dan Amerika yang semula kita bayangkan ekonomi dan pendidikannya tinggi dan maju, ternyata prosentase korbannya jauh di atas Indonesia. Oleh karena itu, di samping tetap bersikap kritis terhadap pemerintah, kita perlu lapang dada mendengar dan melihat berbagai keluh-kesah, caci maki, marah-marah, dan berbagai ungkapan sejenis karena saat ini memang dampak corona melebar ke mana-mana. (Baca juga: Menag Imbau Masjid dan Musala Gaungkan Takbir )
Rektor Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII)
BAGI orang beriman, pandemi sering disikapi sebagai ujian dari Tuhan. Dalam dunia pendidikan, ujian diberikan pada siswa agar belajarnya lebih intens, mendalami pelajaran yang pernah diberikan, siapa yang lulus maka akan naik kelas.
Jadi, ujian selalu berkaitan dengan belajar serius yang buahnya bertambah ilmu dan mengangarkan naik jenjang kelas. Demikianlah, pandemi dan puasa juga memiliki titik temu dan keterkaitan. Pandemi membuat seseorang semakin khusyuk dalam beribadah dan berdoa, sedangkan ibadah puasa membuat seseorang semakin kuat dan sabar menghadapi wabah corona.
Lebaran Idul Fitri kali ini sangat lain. Orang lebih merindukan kapan pandemi berakhir ketimbang kapan berjumpa Idul Fitri. Bagi masyarakat Indonesia, Idul Fitri tidak dimaknai sekedar ramadhan berakhir lalu ditutup salat Ied. (Baca juga: 10 Kebiasaan Rasulullah Dalam Merayakan Idul Fitri )
Lebih dari itu yang membuat bergairah dan heboh dari Idul Fitri adalah pulang mudik ramai-ramai, yang tahun ini terhalang oleh bahaya penyebaran wabah corona. Jika masyarakat dibiarkan berkumpul ramai-ramai baik untuk salat Ied maupun pulang kampung berjejal-jejalan di jalanan serta saling berkunjung di kampung halaman, maka penyebaran corona pasti akan melonjak.
Yang akan menderita adalah masyarakat sendiri, sementara fasilitas rumah sakit serta tenaga medis pasti tak akan mampu melayani pasien. Oleh karena itu, mestinya masyarakat sendiri yang paling bertanggung jawab akan kesehatan dan keselamatan mereka, jangan menyandarkan pada orang lain, termasuk negara. (Baca juga: Presiden Jokowi dan Jajarannya Tak Akan Gelar Open House )
Kemampuan negara terbatas. Rumah sakit, keuangan, tenaga medis, dan obat-obatan yang dimiliki pemerintah tak akan cukup untuk memberi bantuan dan layanan pada masyarakat jika jumlah kurban covid-19 terus meningkat.
Kita memang punya alasan untuk kecewa terhadap kinerja pemerintah dalam menghadapi covid ini. Ibarat kesebalasan sepak bola, tidak terbentuk team work yang kompak dan cerdas, melainkan beberapa pemain intinya tampil di bawah standar. Namun sesungguhnya ini juga terjadi di berbagai negara lain.
Negara-negara di Eropa dan Amerika yang semula kita bayangkan ekonomi dan pendidikannya tinggi dan maju, ternyata prosentase korbannya jauh di atas Indonesia. Oleh karena itu, di samping tetap bersikap kritis terhadap pemerintah, kita perlu lapang dada mendengar dan melihat berbagai keluh-kesah, caci maki, marah-marah, dan berbagai ungkapan sejenis karena saat ini memang dampak corona melebar ke mana-mana. (Baca juga: Menag Imbau Masjid dan Musala Gaungkan Takbir )
Lihat Juga :