Hajar Aswad (2): Tragedi Berdarah Batu Hitam dari Masa ke Masa

Jum'at, 07 Mei 2021 - 03:59 WIB
Ilustrasi/Ist
HAJAR ASWAD sudah tak orisinil lagi. Batu hitam ini awalnya seputih susu, menjadi legam karena tercemar dosa-dosa manusia. Batu dari surga ini pun sempat menjadi rebutan, pernah dijarah dan dirusak.

Baca juga: Tragedi Qaramithah: Ka'bah Tanpa Hajar Aswad Selama 22 Tahun

Hajar Aswad, dahulu berbentuk satu bongkahan. Namun setelah terjadinya penjarahan yang terjadi pada tahun 317 H, pada masa pemerintahan al Qahir Billah Muhammad bin al Mu’tadhid, Hajar Aswad menjadi delapan bongkahan kecil. Rusak akibat dalam pengambilannya dengan cara mencongkel dari tempatnya

Adalah Abu Thahir , Sulaiman bin Abu Said al Husain al Janabi, tokoh golongan Qaramithah pada masanya, telah menggegerkan dunia Islam dengan melakukan kerusakan dan peperangan terhadap kaum Muslimin.

Kisahnya, pada musim haji tahun 317 H, tepatnya pada hari Tarwiyah (tanggal 8 Dzul Hijjah), orang-orang Qaramithah melakukan huru-hara di tanah Haram. Mereka merampok harta-harta jamaah haji dan menghalalkan untuk memeranginya. Banyak jamaah haji yang menjadi korban, bahkan, meskipun berada di dekat Ka’bah.

Ia memerintahkan untuk mencongkel Hajar Aswad dari tempatnya. Seorang lelaki memukul dan mencongkelnya. Dengan nada menantang, Abu Thahir sesumbar : “Mana burung-burung Ababil? Mana bebatuan dari Neraka Sijjil?”

Abu Thahir menuju daerahnya dengan membawa Hajar Aswad dan harta-harta rampasan dari jamaah haji. Batu dari Jannah ini, ia bawa pulang ke daerahnya, yaitu Hajr (Ahsa), dan berada di sana selama 22 tahun.

Baca juga: Kisah Penuh Ibrah: Perusakan Hajar Aswad Jadi Sasaran Musuh Islam

Perbuatan Abu Thahir al Qurmuthi, orang yang memerintahkan penjarahan Hajar Aswad ini, oleh al-Hafidz Ibnu Katsir dikatakan: “Dia telah melakukan ilhad (kekufuran) di Masjidil Haram, yang tidak pernah dilakukan oleh orang sebelumnya dan orang sesudahnya”.

Setelah masa 22 tahun Hajar Aswad dalam penguasaan Abu Thahir, ia kemudian dikembalikan. Tetapnya pada tahun 339 H. Pada saat mengungkapkan kejadian tahun 339 H, al-Hafidz Ibnu Katsir menyebutnya sebagai tahun berkah, lantaran pada bulan Dzul Hijjah tahun tersebut, Hajar Aswad dikembalikan ke tempat semula.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!