Meneladani Ibrahim (2): Bantuan Malaikat Ditolak karena Kuatnya Tawakkal Beliau

Senin, 26 Juli 2021 - 11:10 WIB
Penggalan kisah ini mengajarkan banyak hal. Tapi tiga hal yang terpenting.

Pertama, betapa kekuasaan yang tidak adil itu sangat rapuh dan kerap kali terbangun di atas irrasionalitas. Dan kekuasaan yang rapuh itu jika tersudutkan akan berubah menjadi ganas, bahkan kekerasan. Tabiat kekuasaan seperti ini selalu berulang dari masa ke masa dalam sejarah manusia.

Kedua, bahwa ada masa-masa dalam hidup ini di mana manusia tidak lagi memiliki daya apa-apa. Walaupun pada keadaan apapun dan bagaimanapun manusia sejatinya memang lemah dan serba terbatas. Tapi di saat-saat terdesak seperti ketika Ibrahim akan dilempar ke dalam api itu, manusia akan lebih tersadarkan akan “kemutlakan” Kuasa Allah dalam hidupnya.

Itulah yang disadari Nabi Ibrahim sehingga kepada Malaikat pun beliau tegaskan tidak memerlukan pertolongannya. Tapi dari Allah semata. Dan itu pula sebuah penegasan yang orang-orang beriman ikrarkan setiap hari: "KepadaMu (semata) kami menyembah dan dariMu (semata) kami memohon pertolongan." (Surah Al-Fatihah)

Ketiga, keikhlasan (kemurnian) dalam akidah menjadi jalan luas yang terbuka bagi pertolongan Allah. Dan pertolongan itu wujudnya kerap berbalik dari realita pemahaman (beyond comprehension) manusia. Api bisa berubah jadi tempat yang dingin/sejuk dan nyaman jika Allah berkehendak.

Bagi kami, komunitas Muslim di Amerika hal seperti ini menjadi motivasi dalam langkah perjuangan dakwah. Bagaimana peristiwa 9/11 di tahun 2001 misalnya dianggap kuburan bagi Islam dan dakwah di Amerika. Tapi Allah membalik realita itu justeru menjadi pintu bagi Dakwah dan perkembangan Islam.

AkuPergi ke Tuhanku

Setelah peristiwa ini berlalu, Nabi Ibrahim kemudian harus meninggalkan tanah kelahirannya. Tentu itulah memang kehendak Allah. Selain karena di daerah itu memang tidak lagi kondusif untuk berdakwah, juga ancaman bagi Ibrahim sangat besar.

Dalam Al-Qur'an disebutkan Ibrahim mengatakan: "Sesungguhnya aku pergi kepada Tuhanku." (QS Shoffat: 99)

"Aku pergi ke Tuhanku" ini barangkali sebuah penggambaran urgensi hijrah dalam kerangka dakwah. Artinya, Dakwah itu menuntut pergerakan (harokah) sebagai esensi hijrah. Maka Ibrahim dalam melanjutkan perjuangan dakwahnya harus pindah dari Babylon menuju Kota Jerusalem.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!