Meneladani Ibrahim (3): Makkah Jadi Kota yang Dicintai Berkat Doa Beliau
Kamis, 29 Juli 2021 - 19:45 WIB
Singkat kisah, setelah beberapa hari menemani keluarganya di tempat yang tanpa manusia itu, Ibrahim pun harus kembali ke Jerusalem dan meninggalkan mereka berdua. Ibrahim harus kembali ke Jerusalem karena memang tempat dakwahnya hanya di kota itu. Setiap Nabi/Rasul diutus pada kaum dan masanya masing-masing. Terkecuali Rasulullah SAW untuk seluruh tempat dan masa.
Di momen itulah keimanannya kembali teruji. Tidak saja keimanan Ibrahim. Tapi juga iman istrinya, Hajar. Di saat Ibrahim akan meninggalkan mereka, terjadi dialog antara Hajar dan suaminya seperti berikut:
Hajar: "Kenapa engkau lakukan kepada kami (tinggalkan kami) di tempat ini, wahai Ibrahim?"
Ibrahim:…..(hanya menunduk. Tak mampu berkata apapun).
Hajar: (untuk kedua kalinya), "Kenapa Engkau lakukan ini kepada kami?"
Ibrahim: (hanya mampu menunduk. Lidahnya bagaikan membeku tak mampu mengeluarkan sepatah kata).
Hajar: "Apakah Allah menyuruhmu untuk melakukan ini?"
Ibrahim: (kembali tidak berkata apapun. Hanya menganggukkan kepala).
Hajar: "Kalau memang Allah yang memerintahkanmu, pergilah. Saya lebih percaya kepada penjagaan Allah untuk kami daripada penjagaanmu."
Demikian kedahsyatan iman Ibunda Hajar, istri dari seorang Nabi (Ibrahim) sekaligus Ibu dari seorang Nabi (Ismail). Sebuah karakter yang akan menundukkan semua tantangan hidupnya pada hari-hari mendatang.
Di momen itulah keimanannya kembali teruji. Tidak saja keimanan Ibrahim. Tapi juga iman istrinya, Hajar. Di saat Ibrahim akan meninggalkan mereka, terjadi dialog antara Hajar dan suaminya seperti berikut:
Hajar: "Kenapa engkau lakukan kepada kami (tinggalkan kami) di tempat ini, wahai Ibrahim?"
Ibrahim:…..(hanya menunduk. Tak mampu berkata apapun).
Hajar: (untuk kedua kalinya), "Kenapa Engkau lakukan ini kepada kami?"
Ibrahim: (hanya mampu menunduk. Lidahnya bagaikan membeku tak mampu mengeluarkan sepatah kata).
Hajar: "Apakah Allah menyuruhmu untuk melakukan ini?"
Ibrahim: (kembali tidak berkata apapun. Hanya menganggukkan kepala).
Hajar: "Kalau memang Allah yang memerintahkanmu, pergilah. Saya lebih percaya kepada penjagaan Allah untuk kami daripada penjagaanmu."
Demikian kedahsyatan iman Ibunda Hajar, istri dari seorang Nabi (Ibrahim) sekaligus Ibu dari seorang Nabi (Ismail). Sebuah karakter yang akan menundukkan semua tantangan hidupnya pada hari-hari mendatang.
Lihat Juga :