Tiga Amalan untuk Mendatangkan Kecintaan Allah Ta'ala

Jum'at, 12 Juni 2020 - 06:53 WIB
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (( ليس الغنى عن كثرة العرض ولكن الغنى غنى النفس )) [أخرجه البخاري].

“Bukanlah kaya karena banyaknya harta benda, akan tetapi kaya yang sebenarnya adalah kaya hati.” (HR al-Bukhari).

Baca juga: Baca juga: Bukti-bukti Keniscayaan Hari Akhir Menurut Al-Qur'an

Menurut Ibnu Baththal, makna hadis di atas bahwa kaya yang sebenarnya bukanlah dengan banyak harta, karena banyak sekali orang yang diluaskan Allah subhanahu wa ta’ala hartanya ternyata tidak merasa cukup dengan yang diberikan, maka ia terus berusaha menambah dan tidak perduli dari mana datangnya.

Seolah-olah ia orang fakir karena sangat tamaknya. Dan hakikat kaya yang sebenarnya adalah kaya jiwa, yaitu orang yang merasa kaya dengan yang diberikan, merasa cukup dengannya dan ridha, tidak tamak untuk menambah dan tidak terus menerus meminta, maka seolah-olah ia orang kaya.

Baca juga: Hati Adalah Raja, Amalan Hati Lebih Penting Ketimbang Amal Badan .

Kaya jiwa muncul dari ridha dengan qadha Allah subhanahu wa ta’ala dan berserah diri kepada perintah-Nya, karena mengetahui bahwa yang ada di sisi Allah subhanahu wa ta’ala lebih baik dan lebih kekal.

Ibnu Hajar rahimahullah berkata, sesungguhnya kekayaan jiwa bisa didapatkan dengan kaya hati, bahwa ia berharap kepada Rabb-nya dalam semua perkaranya, maka terealisasikan bahwa Dia-lah Yang Maha Pemberi lagi Maha Menghalangi. Maka ia ridha dengan qadha-Nya, bersyukur kepada-Nya terhadap segala nikmat-Nya, bersegera kepada-Nya dalam menyingkirkan kesusahannya, maka muncul dari harapan hati kepada Rabb-nya, kaya jiwanya dari selain Rabb-nya subhanahu wa ta’ala.

Baca juga: Hubungan Akrab Nabi Sulaiman dengan Malaikat Izrail

Rasulullah bersabda, “barangsiapa yang berusaha untuk mencukupkan diri, maka Allāh akan mencukupkan dirinya (Allāh akan berikan kecukupan kepada dia).”

Baca juga: Kematian, Hanya Nabi Ibrahim dan Nabi Musa yang Bis a Menawar

Ketiga, khafiy. Hal yang ketiga ini ada dua bentuk. Al-khafiy dan al-hafiy. Yakni dalam huruf kha (خ) dan dalam huruf ha (ح). Jika dengan huruf kha (خ) yaitu al khafiyلخفي) artinya “samar” ( tersembunyi). Maksudnya, orang ini berusaha menjauhkan dirinya dari pandangan manusia, dia tidak ingin riya’ dan sum’ah.

Baca juga: Kisah Cinta Mengharukan Atikah dan Abdullah Putra Abu Bakar

Dia sibuk dalam perkara-perkara yang bermanfaat bagi dirinya; bermanfaat bagi dunianya maupun bagi akhiratnya.

Para ulama menyebutkan bahwa ini adalah dalil tentang keutamaan untuk mengasingkan diri, terutama di zaman-zaman fitnah.

Seseorang hendaknya jangan sibuk dengan fitnah, tetapi sibuk dengan yang bermanfaat, sibuk dengan ibadah.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!