Beda Pendapat Rasulullah SAW dengan Umar Bin Khattab, Kadang Allah Benarkan Umar

Senin, 25 April 2022 - 14:19 WIB
Abu Bakar datang menemui Rasulullah dengan permintaan agar bermurah hati kepada para tawanan perang itu atau menerima tebusan dari mereka, yang berarti dengan demikian akan memperkuat Muslimin. Tetapi Umar tetap keras dan tegas. "Rasulullah," katanya. "Mereka musuh-musuh Allah. Dulu mereka mendustakan, memerangi dan mengusir Rasulullah. Penggal sajalah leher mereka. Mereka inilah biang orang-orang kafir, pemuka-pemuka orang sesat. Allah sudah menghina kaum musyrik itu dengan Islam."

Dalam hal ini Rasulullah bermusyawarah dengan Muslimin dan berakhir dengan menerima tebusan dan Nabi membebaskan mereka.

Tetapi tak lama sesudah itu datang wahyu dengan firman Allah ini:

"Tidak sepatutnya seorang nabi akan mempunyai tawanan-tawanan perang, sebelum ia selesai berjuang di dunia. Kamu menghendaki harta benda dunia; Allah menghendaki akhirat. Allah Maha Kuasa, Mahabijaksana." (Qur'an, 8:67).

Begitulah Umar, memberikan pendapatnya sekitar peristiwa Badar, seolah sudah melihat peristiwa itu sebelum terjadi. Dengan demikian, Nabi dan kaum Muslimin sangat menghargai pendapatnya, kedudukannya makin tinggi di samping Nabi dan di kalangan kaum Muslimin umumnya.

Baca juga: Kisah Syahidnya Umar bin Khattab dan Kenaikan Pajak

Pada suatu ketika, Mikraz bin Hafs hendak menebus Suhail bin Amr. Suhail ini seorang orator ulung. Melihat Mikraz melakukan tebusan, cepat-cepat Umar menemui Rasulullah seraya katanya: "Izinkan saya mencabut dua gigi seri Suhail bin Amr ini supaya lidahnya menjulur ke luar dan tidak lagi berpidato mencerca Anda di mana-mana."

Rasulullah menjawab: "Saya tidak akan memperlakukannya secara kejam, supaya Allah tidak memperlakukan saya demikian, sekalipun saya seorang nabi."

Menurut Haekal, ucapan Umar itu teras terang menunjukkan kegigihannya mengenai pendapatnya untuk tidak membiarkan para tawanan yang berkemampuan kembali mengadakan perlawanan kepada kaum Muslimin. la sangat menekankan pendapatnya itu kendati masyarakat Muslimin sudah memutuskan menerima tebusan.

Wahyu turun memperkuat pendapat Umar mengenai para tawanan perang. Ini juga yang membuat Umar makin dekat di hati Nabi. Ia menjadi pendampingnya seperti juga Abu Bakar.

Baca juga: Amalan Idul Fitri, Pahalanya Bisa Seperti Jihad Perang Badar
(mhy)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!