Amalan Idul Fitri, Pahalanya Bisa Seperti Jihad Perang Badar
Minggu, 24 Mei 2020 - 15:14 WIB
loading...
Bersyukur berjumpa dengan Ramadhan, begitu juga bersyukur berpisah dengan Ramadhan. Alhamdulillah. Foto/Ilustrasi/Ist
A
A
A
Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (NU), KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau Gus Baha meyatakan bahwa pada Idul Fitri ini umat Islam bisa melakukan amalan yang besar pahalanya setara dengan sahabat yang ikut perang Badar .
Amalan kebaikan itu dapat dilakukan sebanyak mungkin di hari raya Idul Fitri sehingga dapat menjadi amalan penyempurna dan pelengkap Ramadhan kita semua. (Baca juga: Mengenal 313 Pejuang Terbaik Ahlul Badar, Siapa Saja Mereka? )
Pertama, silaturahmi, menyambung tali persaudaraan. Namun di tengah Covid -19 yang melanda kita bisa menggunakan sarana lain untuk silaturrahmi, misalnya di media sosial You Tube, zoom dan lainnya. Silaturahim seperti ini, menurut Gus Baha, nilai atau esensi atau unsur ibadahnya sama dengan yang dilakukan secara konvensional.
Baca juga: Sujud Itu Keren: Wahana Intim Antara Hamba Dengan Al-Khaliq
Alkisah, Rasulullah SAW pernah memberi tahu para sahabat bahwa ada orang-orang yang mendapatkan pahala yang setara dengan sahabat yang ikut perang Badar, padahal mereka tidak ikut dalam peperangan. Para sahabat pun bertanya, “Mengapa sama wahai Rasulullah SAW?”
“Karena mental (kekuatan hati) mereka sama dengan yang sedang berperang dan ketidakikutsertaan mereka adalah karena ada halangan syar’i,” jawab Rasul.
Kedua birrul walidain . Saat itu sahabat-sahabat yang lain ingin berjumpa dan sowan kepada Rasulullah SAW, namun ‘Uways al-Qarni berhalangan karena harus mengurus ibundanya. Akhirnya, ‘Uways al-Qarni mendapat julukan ‘Khairul Qurun” dari Rasulullah SAW, tetap dinilai dan dianggap pernah sowan dan berjumpa dengan Nabi SAW.
Kepada Umar bin Khattab, Rasullah SAW mengapresiaisi keutamaan ‘Uways al-Qarni. Beliau meminta menyampaikan salamnya kepada ‘Uways al-Qarni, serta menyarankan Umar untuk meminta istighfar (meminta untuk didoakan) karena istighfar ‘Uways al-Qarni itu mustajab (doanya terkabul). Predikat dan keutamaan tersebut karena amalan ‘Uways al-Qarni kepada ibundanya, dan birrul walidain adalah juga perintah dari Rasulullah SAW. (Baca juga: Kisah Uwais Al-Qorni, Pemuda Miskin yang Terkenal di Langit )
Jika masih ada di antara kita yang memiliki egoisme tinggi sehingga menghalangi kita untuk berbuat baik kepada orang tua, atau bahkan lupa dengan orang tua (naudzubillah), maka inilah salah satu saat yang tepat untuk menyudahi itu semua. "Mari berbuat baik sebanyak-banyaknya kepada orang tua. Mulai dari hal kecil, seperti membuatnya tersenyum di malam Idul Fitri ini, atau membantu pekerjaan rumah, atau hal-hal baik lain yang dapat membuat kedua orang tua tidak kecewa," ujar Gus Baha.
Ketiga, sakit. Sakit yang dimaksud dalam konteks ini bukan sakit yang sebenarnya, melainkan kabar bahagia untuk orang yang sedang sakit. Seseorang yang sudah terbiasa melakukan kebaikan, ibadah seperti tahajud, witir saat sehat maka kebaikan pahalanya tetap dan tidak berkurang saat dirinya sakit. Artinya tahajud dan witirnya yang tidak bisa dilakukan saat sakit tetap dihitung pahala melakukan ibadah tersebut.
Amalan kebaikan itu dapat dilakukan sebanyak mungkin di hari raya Idul Fitri sehingga dapat menjadi amalan penyempurna dan pelengkap Ramadhan kita semua. (Baca juga: Mengenal 313 Pejuang Terbaik Ahlul Badar, Siapa Saja Mereka? )
Pertama, silaturahmi, menyambung tali persaudaraan. Namun di tengah Covid -19 yang melanda kita bisa menggunakan sarana lain untuk silaturrahmi, misalnya di media sosial You Tube, zoom dan lainnya. Silaturahim seperti ini, menurut Gus Baha, nilai atau esensi atau unsur ibadahnya sama dengan yang dilakukan secara konvensional.
Baca juga: Sujud Itu Keren: Wahana Intim Antara Hamba Dengan Al-Khaliq
Alkisah, Rasulullah SAW pernah memberi tahu para sahabat bahwa ada orang-orang yang mendapatkan pahala yang setara dengan sahabat yang ikut perang Badar, padahal mereka tidak ikut dalam peperangan. Para sahabat pun bertanya, “Mengapa sama wahai Rasulullah SAW?”
“Karena mental (kekuatan hati) mereka sama dengan yang sedang berperang dan ketidakikutsertaan mereka adalah karena ada halangan syar’i,” jawab Rasul.
Kedua birrul walidain . Saat itu sahabat-sahabat yang lain ingin berjumpa dan sowan kepada Rasulullah SAW, namun ‘Uways al-Qarni berhalangan karena harus mengurus ibundanya. Akhirnya, ‘Uways al-Qarni mendapat julukan ‘Khairul Qurun” dari Rasulullah SAW, tetap dinilai dan dianggap pernah sowan dan berjumpa dengan Nabi SAW.
Kepada Umar bin Khattab, Rasullah SAW mengapresiaisi keutamaan ‘Uways al-Qarni. Beliau meminta menyampaikan salamnya kepada ‘Uways al-Qarni, serta menyarankan Umar untuk meminta istighfar (meminta untuk didoakan) karena istighfar ‘Uways al-Qarni itu mustajab (doanya terkabul). Predikat dan keutamaan tersebut karena amalan ‘Uways al-Qarni kepada ibundanya, dan birrul walidain adalah juga perintah dari Rasulullah SAW. (Baca juga: Kisah Uwais Al-Qorni, Pemuda Miskin yang Terkenal di Langit )
Jika masih ada di antara kita yang memiliki egoisme tinggi sehingga menghalangi kita untuk berbuat baik kepada orang tua, atau bahkan lupa dengan orang tua (naudzubillah), maka inilah salah satu saat yang tepat untuk menyudahi itu semua. "Mari berbuat baik sebanyak-banyaknya kepada orang tua. Mulai dari hal kecil, seperti membuatnya tersenyum di malam Idul Fitri ini, atau membantu pekerjaan rumah, atau hal-hal baik lain yang dapat membuat kedua orang tua tidak kecewa," ujar Gus Baha.
Ketiga, sakit. Sakit yang dimaksud dalam konteks ini bukan sakit yang sebenarnya, melainkan kabar bahagia untuk orang yang sedang sakit. Seseorang yang sudah terbiasa melakukan kebaikan, ibadah seperti tahajud, witir saat sehat maka kebaikan pahalanya tetap dan tidak berkurang saat dirinya sakit. Artinya tahajud dan witirnya yang tidak bisa dilakukan saat sakit tetap dihitung pahala melakukan ibadah tersebut.
Lihat Juga :