Benarkah Ada Kemiripan Antara Sikap Golongan Kolonialis Muslim dan Eropa?
Senin, 16 Januari 2023 - 19:24 WIB
Salah satu pertanyaan yang dilontarkan oleh refleksi atas peristiwa-peristiwa yang terjadi ini adalah mengapa umat Islam Asia Timur tidak menanggapi dengan mengirimkan kapal-kapal ke Eropa untuk tujuan perdagangan.
Ada saudagar-saudagar muslim dengan keahlian komersialnya dan ada pula pelaut-pelaut muslim dengan pengalaman yang sudah lama di samudra Indonesia.
Apabila ketrampilan pembuatan kapal dan ketrampilan navigasional yang diperlukan, maka secara pasti hampir dapat dipelajari dengan cepat. Apakah barang-barang yang harus diberikan oleh Eropa tidak merupakan kecenderungan menyeluruh untuk mengabsahkan pelayaran?
Baca juga: Agresi Kerajaan Ottoman di Mata Orientalis Montgomery Watt
Sementara pada saat bangsa Eropa membawa barang-barang dagangannya ke Asia Selatan harus diterima. Apakah ada stabilitas politik yang memadai, agar para saudagar makin berkurang sandaran politik yang mereka butuhkan? Atau apakah kegagalan orang Islam untuk pergi ke Eropa ini benar-benar menjadikan kombinasi faktor-faktor tersebut?
Apapun alasan-alasan yang dibuat, itu masih pula menyisakan kenyataan bahwa perdagangan antara Eropa dan Asia Selatan itu seluruhnya berada di tangan bangsa Eropa.
Masalah lain adalah sikap personal para penjajah itu. Diperintah oleh orang-orang asing adalah selalu tidak enak, namun tingkat ketidakenakan ini dapat naik atau turun oleh karena sikap-sikap para penguasa yang memerintah.
Kemiripan
Ada kemiripan antara sikap golongan kolonialis muslim -- tepatnya pemikiran Spanyol -- dan golongan kolonialis Eropa. Pada kedua kasus ini ada kultur para penguasa yang superior dan kedua kasus penguasa kolonialis ini juga merasa dirinya sebagai manusia yang superior terhadap rakyatnya yang dikuasai.
Boleh jadi umat Islam telah mewarisi kebanggaan Arab kuno karena memiliki suku bangsa yang besar dan dapat mengembangkan kesukuan besar ini bagi superioritas Islam sebagai agama.
Sikap para penjajah Eropa ini telah dianalisis secara mendalam oleh Edward Said pada bukunya yang berbicara tentang Orientalism.
Pernyataan-pernyataannya tentang orientalisme itu bahkan menghadiran superioritas para penjajah seperti yang tampak pada ucapan dan tulisan-tulisan AJ Balfour dan Lord Cromer sekitar tahun 1910 berkenaan dengan kontrol Inggris atas negeri Mesir.
Mereka mengasumsikan superioritas Inggris merupakan keharusan yang tak perlu dipersoalkan, dan berdasarkan landasan stereotipe yang bertentangan terhadap perkataan "Oriental" (yang meliputi bangsa Mesir) sebagai yang mempunyai semua bentuk kelemahan: tidak ada kemampuan bagi pemerintah sendiri; degradasi moral dan sosial; tidak mampu berpikir logis atau tidak mampu mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang jelas; ketidakcermatan secara umum; dan lain-lain.
Baca juga: Tragedi Perang Salib dan Kolonialisme Eropa Menurut Montgomery Watt
Ada saudagar-saudagar muslim dengan keahlian komersialnya dan ada pula pelaut-pelaut muslim dengan pengalaman yang sudah lama di samudra Indonesia.
Apabila ketrampilan pembuatan kapal dan ketrampilan navigasional yang diperlukan, maka secara pasti hampir dapat dipelajari dengan cepat. Apakah barang-barang yang harus diberikan oleh Eropa tidak merupakan kecenderungan menyeluruh untuk mengabsahkan pelayaran?
Baca juga: Agresi Kerajaan Ottoman di Mata Orientalis Montgomery Watt
Sementara pada saat bangsa Eropa membawa barang-barang dagangannya ke Asia Selatan harus diterima. Apakah ada stabilitas politik yang memadai, agar para saudagar makin berkurang sandaran politik yang mereka butuhkan? Atau apakah kegagalan orang Islam untuk pergi ke Eropa ini benar-benar menjadikan kombinasi faktor-faktor tersebut?
Apapun alasan-alasan yang dibuat, itu masih pula menyisakan kenyataan bahwa perdagangan antara Eropa dan Asia Selatan itu seluruhnya berada di tangan bangsa Eropa.
Masalah lain adalah sikap personal para penjajah itu. Diperintah oleh orang-orang asing adalah selalu tidak enak, namun tingkat ketidakenakan ini dapat naik atau turun oleh karena sikap-sikap para penguasa yang memerintah.
Kemiripan
Ada kemiripan antara sikap golongan kolonialis muslim -- tepatnya pemikiran Spanyol -- dan golongan kolonialis Eropa. Pada kedua kasus ini ada kultur para penguasa yang superior dan kedua kasus penguasa kolonialis ini juga merasa dirinya sebagai manusia yang superior terhadap rakyatnya yang dikuasai.
Boleh jadi umat Islam telah mewarisi kebanggaan Arab kuno karena memiliki suku bangsa yang besar dan dapat mengembangkan kesukuan besar ini bagi superioritas Islam sebagai agama.
Sikap para penjajah Eropa ini telah dianalisis secara mendalam oleh Edward Said pada bukunya yang berbicara tentang Orientalism.
Pernyataan-pernyataannya tentang orientalisme itu bahkan menghadiran superioritas para penjajah seperti yang tampak pada ucapan dan tulisan-tulisan AJ Balfour dan Lord Cromer sekitar tahun 1910 berkenaan dengan kontrol Inggris atas negeri Mesir.
Mereka mengasumsikan superioritas Inggris merupakan keharusan yang tak perlu dipersoalkan, dan berdasarkan landasan stereotipe yang bertentangan terhadap perkataan "Oriental" (yang meliputi bangsa Mesir) sebagai yang mempunyai semua bentuk kelemahan: tidak ada kemampuan bagi pemerintah sendiri; degradasi moral dan sosial; tidak mampu berpikir logis atau tidak mampu mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang jelas; ketidakcermatan secara umum; dan lain-lain.
Baca juga: Tragedi Perang Salib dan Kolonialisme Eropa Menurut Montgomery Watt
Lihat Juga :