Begini Argumentasi Michael H Hart Tempatkan Nabi Isa di Bawah Nabi Muhammad SAW
Sabtu, 21 Januari 2023 - 10:38 WIB
loading...
Michael H Hart memasukkan Nabi Isa as dalam urutan ke-3 sebagai tokoh berpengaruh dalam sejarah, di bawah Nabi Muhammad SAW. Foto/Ilustrasi: Istt
A
A
A
Michael H Hart memasukkan Nabi Isa as dalam urutan ke-3 sebagai tokoh berpengaruh dalam sejarah, di bawah Nabi Muhammad SAW (1) dan Isaac Newton (2). Lalu, bagaimana argumentasi Astrofisikawan Yahudi -Amerika yang lahir 27 April 1932 atas penilaiannya itu?
"Mungkin banyak orang bertanya-tanya kenapa Isa tidak berada di tempat teratas," tutur Michael H Hart dalam bukunya berjudul "The 100: A Ranking of the Most Influential Persons in History" dan diterjemahkan Mahbub Djunaidi menjadi "Seratus Tokoh yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah" (PT Dunia Pustaka Jaya, 1982).
Baca juga: Ini Mengapa Nabi Musa Ditempatkan di Urutan 16 Tokoh Berpengaruh dalam Sejarah
Michael H Hart mengakui pengaruh Nabi Isa terhadap sejarah kemanusiaan begitu jelas dan begitu besar. Itu sebabnya, Nabi Isa berada di tempat hampir teratas.
Akan halnya kekristenan, kata dia, tak adalah kiranya masalahnya. "Dalam perjalanan sang waktu tak syak lagi agama ini sudah memperoleh pemeluk lebih besar dari agama lain yang mana pun juga," katanya.
Lalu, mengapa Nabi Isa tidak ditempatkan pada urutan pertama? "Perlu ditegaskan bukanlah perihal pengaruh dari pelbagai agama yang menjadi titik perhitungan di buku ini, melainkan ihwal yang menyangkut pengaruh perorangan," jelasnya.
Tidaklah seperti Agama Islam, lanjut Michael H Hart, Agama Nasrani didirikan bukan oleh seorang melainkan dua -- Isa dan St. Paul -- karena itu pengakuan jasa-jasa atas perkembangan agama itu harus dibagi sama antara kedua tokoh itu.
Berikut penuturan Michael H Hart selengkapnya:
Nabi Isa meletakkan dasar-dasar pokok gagasan etika kekristenan termasuk pandangan spiritual serta ide pokok mengenai tingkah laku manusia.
Sedangkan teologi Kristen dikelola dasar-dasarnya oleh St. Paul. Isa mempersembahkan pesan-pesan spiritual sedangkan St. Paul menambahkannya ke dalam bentuk pemujaan terhadap Isa. Lebih dari itu, St. Paul merupakan penulis bagian-bagian penting Perjanjian Baru dan merupakan penganjur pertama orang-orang agar memeluk Agama Nasrani pada abad pertama lahirnya agama itu.
Baca juga: Ini Alasan Michael H Hart Tempatkan Umar bin Khattab di Urutan 51 Tokoh Paling Berpengaruh
Isa terhitung berusia muda tatkala "wafat" (lain halnya dengan Buddha atau Muhammad), dan yang ditinggalkannya hanya sejumlah terbatas pengikut. Tatkala Isa mangkat, pengikutnya cuma terdiri dari sejumlah kecil sekte Yahudi. Baru lewat tulisan-tulisan St. Paul dan kegigihan khotbahnya yang tak kenal lelah, sekte kecil itu dirubah menjadi kekuatan dinamis dan merupakan gerakan yang lebih besar, baik terdiri dari orang Yahudi maupun bukan. Dari situlah-akhirnya- tumbuh menjadi salah satu agama besar dunia.
Akibat hal-hal itu sementara orang beranggapan St. Paul-lah dan bukan Isa yang lebih layak dipandang sebagai pendiri Agama Nasrani, karena itu tempatnya dalam daftar urutan buku ini mesti lebih tinggi ketimbang Isa! Biarpun sulit dibayangkan apa wujud kekristenan tanpa St. Paul, tapi sebaliknya juga amatlah jelas: tanpa Nabi Isa, Agama Nasrani tak akan pernah ada samasekali.
"Mungkin banyak orang bertanya-tanya kenapa Isa tidak berada di tempat teratas," tutur Michael H Hart dalam bukunya berjudul "The 100: A Ranking of the Most Influential Persons in History" dan diterjemahkan Mahbub Djunaidi menjadi "Seratus Tokoh yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah" (PT Dunia Pustaka Jaya, 1982).
Baca juga: Ini Mengapa Nabi Musa Ditempatkan di Urutan 16 Tokoh Berpengaruh dalam Sejarah
Michael H Hart mengakui pengaruh Nabi Isa terhadap sejarah kemanusiaan begitu jelas dan begitu besar. Itu sebabnya, Nabi Isa berada di tempat hampir teratas.
Akan halnya kekristenan, kata dia, tak adalah kiranya masalahnya. "Dalam perjalanan sang waktu tak syak lagi agama ini sudah memperoleh pemeluk lebih besar dari agama lain yang mana pun juga," katanya.
Lalu, mengapa Nabi Isa tidak ditempatkan pada urutan pertama? "Perlu ditegaskan bukanlah perihal pengaruh dari pelbagai agama yang menjadi titik perhitungan di buku ini, melainkan ihwal yang menyangkut pengaruh perorangan," jelasnya.
Tidaklah seperti Agama Islam, lanjut Michael H Hart, Agama Nasrani didirikan bukan oleh seorang melainkan dua -- Isa dan St. Paul -- karena itu pengakuan jasa-jasa atas perkembangan agama itu harus dibagi sama antara kedua tokoh itu.
Berikut penuturan Michael H Hart selengkapnya:
Nabi Isa meletakkan dasar-dasar pokok gagasan etika kekristenan termasuk pandangan spiritual serta ide pokok mengenai tingkah laku manusia.
Sedangkan teologi Kristen dikelola dasar-dasarnya oleh St. Paul. Isa mempersembahkan pesan-pesan spiritual sedangkan St. Paul menambahkannya ke dalam bentuk pemujaan terhadap Isa. Lebih dari itu, St. Paul merupakan penulis bagian-bagian penting Perjanjian Baru dan merupakan penganjur pertama orang-orang agar memeluk Agama Nasrani pada abad pertama lahirnya agama itu.
Baca juga: Ini Alasan Michael H Hart Tempatkan Umar bin Khattab di Urutan 51 Tokoh Paling Berpengaruh
Isa terhitung berusia muda tatkala "wafat" (lain halnya dengan Buddha atau Muhammad), dan yang ditinggalkannya hanya sejumlah terbatas pengikut. Tatkala Isa mangkat, pengikutnya cuma terdiri dari sejumlah kecil sekte Yahudi. Baru lewat tulisan-tulisan St. Paul dan kegigihan khotbahnya yang tak kenal lelah, sekte kecil itu dirubah menjadi kekuatan dinamis dan merupakan gerakan yang lebih besar, baik terdiri dari orang Yahudi maupun bukan. Dari situlah-akhirnya- tumbuh menjadi salah satu agama besar dunia.
Akibat hal-hal itu sementara orang beranggapan St. Paul-lah dan bukan Isa yang lebih layak dipandang sebagai pendiri Agama Nasrani, karena itu tempatnya dalam daftar urutan buku ini mesti lebih tinggi ketimbang Isa! Biarpun sulit dibayangkan apa wujud kekristenan tanpa St. Paul, tapi sebaliknya juga amatlah jelas: tanpa Nabi Isa, Agama Nasrani tak akan pernah ada samasekali.
Lihat Juga :