Wasiat Al-Fatih kepada Putranya (4): Jangan Sekali-kali Kamu Mengusir Ulama
Kamis, 23 Juli 2020 - 15:57 WIB
loading...
A
A
A
Sesungguhnya rahasia kekuatan pemerintahan Utsmani dan kemuliaannya, terkandung dalam ketaatannya kepada Allah dan pelaksanaan hukum-hukum Allah, komitmen dengan Syariat-Nya, jihad di jalan Allah, dan berdakwah kepada-Nya. Sultan Muhammad Al-Fatih pernah berkata kepada anaknya: “Sebab agama merupakan tujuan kita, hidayah Allah adalah manhaj hidup kita dan dengan agama kita menang.”
(Baca juga: Al-Fatih Sebaik-Baik Pemimpin, Pasukannya Sebaik-baik Pasukan )
“Bekerjalah engkau untuk meninggikan agama ini dan hormatilah ahlinya," bunyi wasiat selanjutnya ,
Ash-Shalabi mengatakan sesungguhnya peninggian agama dan penegakannya di muka bumi, akan melahirkan hasil yang sangat besar dalam kehidupan umat dan negara. Di antara hasilnya adalah terbentuk jiwa yang stabil, sehingga tidak terjerembab ke dalam dosa dan kekejian, serta mendorongnya berbuat hal-hal yang lebih baik.
Baca juga: Ketika Sultan Muhammad Al-Fatih Ubah Daratan Menjadi Lautan
Oleh karena itu, kecenderungan relijius merupakan hasil dari peninggian agama, menjadi pencegah perbuatan jahat, dan selalu mampu melakukan koreksi diri.
Dia selalu menjadi panduan hidup di depan mata, sehingga membuat jiwa selalu takut kepada Allah serta bertakwa kepada-Nya dalam semua kondisi. Peninggian nilai-nilai agama dan penegakan syariat akan melahirkan persamaan antara pemimpin dan rakyat, dalam memperoleh hak-hak dan menjalankan kewajiban-kewajiban.
Baca juga: Pecat Syaikh Kurani sebagai Hakim, Sultan Muhammad Al-Fatih Menyesal
Pada saat yang sama akan menebarkan keadilan di tengah kehidupan warga negara, membuat turun berkah dan nikmat secara berkelanjutan. Sebab harus kita sadari, bahwa di sana tidak ada dikotomi untuk memperoleh kebaikan dunia dan akhirat, jalan untuk mencapai ke sana hanya satu, yaitu lewat agama.
Berkah itu mungkin ada dalam hal yang sedikit, jika baik dalam mempergunakannya. Salah satu hasil dari penenapan syariat, adalah terbentuknya masyarakat Islam yang bangga dengan agama dan akidahnya. Keteguhan ini berdiri di atas komitmen kepada Kitab Allah dan Sunnah Rasulullah.
Baca juga: Begini Cara Sultan Muhammad Al-Fatih Memuliakan Ulama
(Baca juga: Al-Fatih Sebaik-Baik Pemimpin, Pasukannya Sebaik-baik Pasukan )
“Bekerjalah engkau untuk meninggikan agama ini dan hormatilah ahlinya," bunyi wasiat selanjutnya ,
Ash-Shalabi mengatakan sesungguhnya peninggian agama dan penegakannya di muka bumi, akan melahirkan hasil yang sangat besar dalam kehidupan umat dan negara. Di antara hasilnya adalah terbentuk jiwa yang stabil, sehingga tidak terjerembab ke dalam dosa dan kekejian, serta mendorongnya berbuat hal-hal yang lebih baik.
Baca juga: Ketika Sultan Muhammad Al-Fatih Ubah Daratan Menjadi Lautan
Oleh karena itu, kecenderungan relijius merupakan hasil dari peninggian agama, menjadi pencegah perbuatan jahat, dan selalu mampu melakukan koreksi diri.
Dia selalu menjadi panduan hidup di depan mata, sehingga membuat jiwa selalu takut kepada Allah serta bertakwa kepada-Nya dalam semua kondisi. Peninggian nilai-nilai agama dan penegakan syariat akan melahirkan persamaan antara pemimpin dan rakyat, dalam memperoleh hak-hak dan menjalankan kewajiban-kewajiban.
Baca juga: Pecat Syaikh Kurani sebagai Hakim, Sultan Muhammad Al-Fatih Menyesal
Pada saat yang sama akan menebarkan keadilan di tengah kehidupan warga negara, membuat turun berkah dan nikmat secara berkelanjutan. Sebab harus kita sadari, bahwa di sana tidak ada dikotomi untuk memperoleh kebaikan dunia dan akhirat, jalan untuk mencapai ke sana hanya satu, yaitu lewat agama.
Berkah itu mungkin ada dalam hal yang sedikit, jika baik dalam mempergunakannya. Salah satu hasil dari penenapan syariat, adalah terbentuknya masyarakat Islam yang bangga dengan agama dan akidahnya. Keteguhan ini berdiri di atas komitmen kepada Kitab Allah dan Sunnah Rasulullah.
Baca juga: Begini Cara Sultan Muhammad Al-Fatih Memuliakan Ulama
Lihat Juga :