3 Syarat Tobat Menurut Imam Nawawi, Bagaimana Jika Dosa dengan Sesama Manusia?
Jum'at, 02 Juni 2023 - 08:57 WIB
loading...
A
A
A
“Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” ( QS Az-Zumar : 53)
Bahkan Allah telah berfirman tentang keadaan orang munafik:
“Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka. Kecuali orang-orang yang tobat dan mengadakan perbaikan” (QS An Nisa/4: 145-146)
Hasan Al-Bashri sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya, berkata, “Perhatikanlah kemuliaan dan kemurahan dari Allah ini.. Mereka membunuh wali-wali Allah akan tetapi Allah masih menyeru mereka menuju tobat dan ampunan”.
Oleh karena itu tidak diperbolehkan membuat seseorang putus asa dari rahmat Allah walaupun dosanya sangat banyak, sebagaimana tidak diperbolehkannya mendorong seseorang untuk berbuat maksiat dan mendekati dosa.
Baca juga: Hakikat dan Keutamaan Tobat Menurut Penjelasan Ulama
Ibnu Abbas ra berkata, “Barangsiapa yang menjadikan seseorang dari hamba Allah putus asa dari tobat setelah ini, sungguh ia telah mengingkari kitab Allah”.
Seorang hamba hendaknya ia segera bertobat, dan secepat mungkin mewujudkannya, sebelum ia kehilangan kesempatan. Nabi SAW bersabda:
“Sesungguhnya Allah menerima tobat hamba-Nya selama nyawanya belum sampai kerongkongan” (HR Tirmidzi)
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Barangsiapa yang bertobat sebelum matahari terbit dari timur maka Allah menerima taubatnya”. (HR Muslim)
Seorang hamba wajib untuk bertobat dari dosa-dosanya, dengan memenuhi syarat-syaratnya agar tobatnya diterima.
Baca juga: Hasil Tobat Diketahui dari Kerinduan yang Muncul
Bahkan Allah telah berfirman tentang keadaan orang munafik:
قال الله تعالى : إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الْأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ وَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ نَصِيرًا(145)إِلَّا الَّذِينَ تَابُوا وَأَصْلَحُوا
“Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka. Kecuali orang-orang yang tobat dan mengadakan perbaikan” (QS An Nisa/4: 145-146)
Hasan Al-Bashri sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya, berkata, “Perhatikanlah kemuliaan dan kemurahan dari Allah ini.. Mereka membunuh wali-wali Allah akan tetapi Allah masih menyeru mereka menuju tobat dan ampunan”.
Oleh karena itu tidak diperbolehkan membuat seseorang putus asa dari rahmat Allah walaupun dosanya sangat banyak, sebagaimana tidak diperbolehkannya mendorong seseorang untuk berbuat maksiat dan mendekati dosa.
Baca juga: Hakikat dan Keutamaan Tobat Menurut Penjelasan Ulama
Ibnu Abbas ra berkata, “Barangsiapa yang menjadikan seseorang dari hamba Allah putus asa dari tobat setelah ini, sungguh ia telah mengingkari kitab Allah”.
Seorang hamba hendaknya ia segera bertobat, dan secepat mungkin mewujudkannya, sebelum ia kehilangan kesempatan. Nabi SAW bersabda:
إنَّ الله عزَّ وجلَّ يقبل توبةَ العبد ما لم يُغَرْغِر
“Sesungguhnya Allah menerima tobat hamba-Nya selama nyawanya belum sampai kerongkongan” (HR Tirmidzi)
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
من تاب قبل أن تطلع الشمس من مغربها تاب الله عليه
“Barangsiapa yang bertobat sebelum matahari terbit dari timur maka Allah menerima taubatnya”. (HR Muslim)
Seorang hamba wajib untuk bertobat dari dosa-dosanya, dengan memenuhi syarat-syaratnya agar tobatnya diterima.
Baca juga: Hasil Tobat Diketahui dari Kerinduan yang Muncul
(mhy)
Lihat Juga :