Menceritakan Nikmat kepada Orang Lain (3): Ini Tipsnya Agar Tidak Mengundang Hasad
Sabtu, 15 Juli 2023 - 13:47 WIB
loading...
A
A
A
Dengan menceritakan nikmat hanya kepada orang dekat, pertama akan mencegah orang-orang untuk hasad. Karena mereka yang mendapatkan cerita tersebut justru akan senang mendengarnya. Orang tua misalnya sebagai contoh yang paling nyata, pasti akan sangat bahagia ketika mendengar cerita dari anaknya bahwa ia telah mendapatkan sebuah nikmat.
Kedua, dengan menceritakan kepada orang-orang dekat seperti ini, akan meminimalisir niat riya atau pamer. Masa iya mau pamer ke orang-orang yang seharusnya mereka kita perlakukan dengan baik. Hal ini akan sedikit berbeda bila dishare ke khalayak ramai, agak sulit menjaga niat tidak pamer.
Meskipun kita tidak boleh men-judge mereka yang men-share nikmat yang dia dapatkan ke orang banyak berarti pamer. Karena bisa jadi ia memang niatnya untuk "tahaduts bini'matillah". Jangan mengukur orang lain dengan ukuran kita.
Terlebih jika nikmat itu memang tidak bisa untuk disembunyikan, seperti nikmat dapat rumah baru, beli kendaraan baru dll. Lalu ia menyelenggarakan syukuran dengan mengadakan acara makan-makan misalnya. Justru ini yang nampaknya lebih tepat.
Sudahlah bersyukur, dapat pula pahala sedekah terbaik yakni memberi makan. Daripada dapat nikmat diam-diam saja, giliran dapat musibah seluruh penjuru negeri tahu semua beritanya.
2. Menjaga Niat Saat Menceritakan Nikmat
Berkata Imam Ibnul 'Arabi rahimahullah:
إن التحدث بالعمل يكون بإخلاص من النية عند أهل الثقة فإنه ربما خرج إلى الرياء وإساءة الظن بصاحبه
"Ketika menceritakan sebuah nikmat berupa amal shalih hendaknya dengan niat ikhlas dan menceritakannya kepada orang-orang yang dipercayai. Karena hal seperti ini secara umum bisa menjaga dari riya’ dan prasangka buruk terhadap orang yang mendengar cerita nikmat tersebut." [Tahrir wa at Tanwir (30/405)]
Peranan niat dalam setiap aktivitas sangatlah penting. Niat inilah yang akan menentukan kadar suatu pekerjaan bernilai pahala atau sebaliknya justru mendapatkan dosa. Sebagaimana disebutkan dalam Hadits yang Masyhur "Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya." (HR Al-Bukhari dan Muslim)
3. Mengingat Bahwa Penghancur Nikmat Adalah dengan Memamerkannya
Sebagaimana kufur nikmat adalah hal yang bisa menghancurkan atau menghilangkan nikmat, kita juga harus mengetahui, bahwa nikmat juga bisa hancur ketika diceritakan dengan niat untuk memerkannya.
Kedua, dengan menceritakan kepada orang-orang dekat seperti ini, akan meminimalisir niat riya atau pamer. Masa iya mau pamer ke orang-orang yang seharusnya mereka kita perlakukan dengan baik. Hal ini akan sedikit berbeda bila dishare ke khalayak ramai, agak sulit menjaga niat tidak pamer.
Meskipun kita tidak boleh men-judge mereka yang men-share nikmat yang dia dapatkan ke orang banyak berarti pamer. Karena bisa jadi ia memang niatnya untuk "tahaduts bini'matillah". Jangan mengukur orang lain dengan ukuran kita.
Terlebih jika nikmat itu memang tidak bisa untuk disembunyikan, seperti nikmat dapat rumah baru, beli kendaraan baru dll. Lalu ia menyelenggarakan syukuran dengan mengadakan acara makan-makan misalnya. Justru ini yang nampaknya lebih tepat.
Sudahlah bersyukur, dapat pula pahala sedekah terbaik yakni memberi makan. Daripada dapat nikmat diam-diam saja, giliran dapat musibah seluruh penjuru negeri tahu semua beritanya.
2. Menjaga Niat Saat Menceritakan Nikmat
Berkata Imam Ibnul 'Arabi rahimahullah:
إن التحدث بالعمل يكون بإخلاص من النية عند أهل الثقة فإنه ربما خرج إلى الرياء وإساءة الظن بصاحبه
"Ketika menceritakan sebuah nikmat berupa amal shalih hendaknya dengan niat ikhlas dan menceritakannya kepada orang-orang yang dipercayai. Karena hal seperti ini secara umum bisa menjaga dari riya’ dan prasangka buruk terhadap orang yang mendengar cerita nikmat tersebut." [Tahrir wa at Tanwir (30/405)]
Peranan niat dalam setiap aktivitas sangatlah penting. Niat inilah yang akan menentukan kadar suatu pekerjaan bernilai pahala atau sebaliknya justru mendapatkan dosa. Sebagaimana disebutkan dalam Hadits yang Masyhur "Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya." (HR Al-Bukhari dan Muslim)
3. Mengingat Bahwa Penghancur Nikmat Adalah dengan Memamerkannya
Sebagaimana kufur nikmat adalah hal yang bisa menghancurkan atau menghilangkan nikmat, kita juga harus mengetahui, bahwa nikmat juga bisa hancur ketika diceritakan dengan niat untuk memerkannya.
Lihat Juga :