alexametrics

Bolehkah Perempuan atau Seorang Istri Berkurban Sendiri?

loading...
Bolehkah Perempuan atau Seorang Istri Berkurban Sendiri?
Syariat menganjurkan kepada setiap muslim dan muslimah untuk melakukan ibadah kurban terutama bagi yang memiliki kelapangan harta. Foto ilustrasi/ist
Pada bulan Dzulhijjah, amalan yang paling dicintai Allah Ta'ala adalah berkurban. Syariat menganjurkan kepada setiap muslim dan muslimah untuk melakukan ibadah kurban terutama bagi yang memiliki kelapangan harta. Bagi mereka yang mampu, tentu berkurban tidak terlalu sulit. Tetapi, ada sebagian orang yang berhalangan berkurban karena satu atau lain hal. Ada yang tidak bisa kurban lantaran kemampuan ekonomi yang rendah.

Kondisi masyarakat saat ini pun bervariasi. Banyak pasangan berkeluarga, masing-masing bekerja. Baik suami atau istri, masing-masing memiliki penghasilan sendiri. Tidak menutup kemungkinan, banyak contoh seorang istri yang mampu berkurban karena berdikari secara ekonomi. Sementara, di saat yang sama, suamitidak berpenghasilan cukup.

Dalam contoh tersebut, bolehkah seorang istri melaksanakan kurban menggantikan posisi suami ? Dan apakah kurban yang ia tunaikan itu bisa ditujukan untuk keluarganya?

Dalam 'Alfiqhul Islami wa Adillatuhu' disebutkan, “Sesunguhnya kurban hukumnya sunnah muakkad atau sangat dianjurkan, bukan wajib. Namun demikian, dimakruhkan meninggalkan kurban bagi orang yang mampu melakukannya.” (Baca juga :Siap-siap Melaksanakan Puasa Tarwiyah dan Arafah)



Anjuran berkurban ini berlaku untuk setiap muslim yang mukallafdan mampu untuk berkurban, baik laki-laki atau perempuan, mukim atau musfir, lagi berhaji atau tidak, sudah menikah atau belum menikah. Laki-laki atau perempuan, baik sudah menikah atau belum, sangat dianjurkan berkurban jika mampu melakukannya.

Pendapat lain dari Syaikh Shalih Al-Munajjid yang mengatakan, kurban itu disyari’atkan untuk laki-laki dan perempuan. Jika seorang perempuan mampu untuk berkurban, maka disunnahkan baginya berkurban. Jika ia berkurban, maka boleh baginya untuk berniat untuk satu keluarga dan nantinya suaminya masuk dalam pahala kurban. (Fatwa Al-Islam Sual wa Jawab)



Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah pernah ditanya, “Apakah kurban itu untuk satu keluarga atau ditujukan perintahnya untuk setiap individu dalam rumah yang telah baligh?

Jawaban dari Syaikh Ibnu Baz, “Hukum kurban adalah sunnah muakkad. kurban disyari’atkan pada laki-laki dan perempuan. Boleh seorang pria meniatkan kurban untuk keluarganya. Boleh juga perempuan atau istri meniatkan untuk keluarganya. Karena setiap tahunnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkurban dengan dua kibas yang gemuk dan bertanduk, salah satunya beliau niatkan untuk dirinya dan anggota keluarganya. Sedangkan qurban yang satunya lagi, beliau niatkan untuk umatnya. (Baca juga :Aurat Dilihat Sesama Muslimah, Bagaimana Hukumnya?)

Dalam kitab Almuhalla, Ibnu Hazm menegaskan bahwa tidak ada perbedaanantara laki-laki dan perempuan terkait anjuran berkurban, baik sudah menikah atau belum. Hal ini karena yang menjadi ukuran kesunahan berkurban adalah mampu melakukannya, bukan menikah atau belum. Berkurban boleh dilakukan oleh musafir, sebagaimana boleh dilakukan bagi orang yang mukim, dan tidak ada bedanya. Demikian pula perempuan atau seorang istri.
halaman ke-1 dari 2
Ikuti Kuis Berhadiah Puluhan Juta Rupiah di SINDOnews
cover top ayah
مَنۡ يُّضۡلِلِ اللّٰهُ فَلَا هَادِىَ لَهٗ ‌ؕ وَ يَذَرُهُمۡ فِىۡ طُغۡيَانِهِمۡ يَعۡمَهُوۡنَ
Barangsiapa dibiarkan sesat oleh Allah, maka tidak ada yang mampu memberi petunjuk. Allah membiarkannya terombang-ambing dalam kesesatan.

(QS. Al-A’raf:186)
cover bottom ayah
preload video
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak