alexametrics

Bukan Besar Kecilnya Kurban, yang Diterima Allah Ta'ala Adalah Ketulusan

loading...
Bukan Besar Kecilnya Kurban, yang Diterima Allah Taala Adalah Ketulusan
Foto/Ilustrasi/SINDOnews
SECARA etimologi, kurban berarti mendekat/pendekatan. Sedangkan menurut istilah adalah usaha pendekatan diri seorang hamba kepada penciptanya dengan jalan menyembelih binatang yang halal dan dilaksanakan sesuai dengan tuntunan, dalam rangka mencari ridla-Nya. (Baca juga: Berikut 5 Dalil tentang Ibadah Kurban Wajib Bagi yang Mampu)

Salah satu ajaran Islam yang penuh dengan kesakralan (suci) dan juga syarat dengan muatan kemanusiaan adalah ibadah kurban.

Dalam konteks ini, ibadah kurban adalah kesempatan bagi si miskin untuk merasakan kenikmatan dari si kaya. Mengalirnya darah-darah suci dari hewan kurban akan menghanyutkan noktah-noktah hitam di hati manusia, memercikkan aroma harum jalinan kasih antara sesama sembari menyemaikan rona ceria di wajah masing-masing.

Dari sinilah, Prof Dr M. Quraish Shihab menyatakan ibadah kurban merupakan ibadah yang sempurna sepanjang hayat manusia. Pasalnya, ibadah kurban merupakan ajaran tertua sepanjang sejarah kehidupan manusia yang terus berlangsung hingga saat ini.

Makna Kurban
Menurut Quraish Shihab, kurban dalam bahasa Indonesia ada dua makna: seseorang yang disakiti, bisa jadi hatinya atau badannya. Kurban juga berarti ketulusan, persembahan.



Persembahan kepada siapapun, apalagi kepada Allah, tidak bisa kalau tidak disertai dengan ketulusan. Orang yang dikorbankan mestinya menimbulkan rasa sedih di hati kita, tapi kesedihan itu baru muncul kalau hati kita lembut, kalau hati keras, tidak ada rasa peduli. Dengan demikian, dalam bahasa Indonesia diartikan dengan ketulusan, pengabdian, atau yang disakiti, yang dikorbankan.

Dalam bahasa Al Quran, Quraish Shihab menjelaskan, pengertian kurban bukan dalam arti yang disakiti, tapi kurban lebih banyak diartikan sebagai persembahan.



Qurb itu artinya dekat, sesuatu yang berharga kita persembahkan dalam rangka mendekatkan diri pada Allah, itulah kurban.

Dalam Idul Adha, memang ada kata yang juga diartikan kurban terambil dalam kata adha ini. "Karena itu tadi, seorang atau sesuatu yang terlukai itu mestinya menimbulkan rasa iba kepadanya dan pada akhirnya anda akan merasakan sakit sebagaimana sakitnya yang dikurbankan," tuturnya.

Dalam Al Quran, diceritakan bahwa dua anak Adam, Qabil dan Habil mempersembahkan hasil usahanya, kepada Tuhan. Yang satu diterima, yang satu tidak. Dijelaskan bahwa yang diterima Allah adalah kurban yang baik, yaitu kurban yang diberikan Habil. Tapi dari persembahan yang diberikan Habil, Allah tidak menerima daging korban, tidak juga menerima darahnya. Yang diterima Allah dari kurban yang diberikan manusia adalah ketulusan hati dan ketakwaan yang memberikan.
halaman ke-1 dari 5
Ikuti Kuis Berhadiah Puluhan Juta Rupiah di SINDOnews
cover top ayah
وَمَا عَلَّمۡنٰهُ الشِّعۡرَ وَمَا يَنۡۢبَغِىۡ لَهٗؕ اِنۡ هُوَ اِلَّا ذِكۡرٌ وَّقُرۡاٰنٌ مُّبِيۡنٌۙ
Dan Kami tidak mengajarkan syair kepadanya (Muhammad) dan bersyair itu tidaklah pantas baginya. Al-Qur'an itu tidak lain hanyalah pelajaran dan Kitab yang jelas,

(QS. Yasin:69)
cover bottom ayah
preload video
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak