Mahkota Sufi Imam Al-Ghazali (3)

Imam Al-Ghazali, Sang Pemintal Dirinya Sendiri

loading...
Imam Al-Ghazali, Sang Pemintal Dirinya Sendiri
Imam Al-Ghazali. Foto/Ilustrasi/Ist
SEPERTI guru-guru zuhud lainnya, Imam al-Ghazali mempertahankan bahwa sufisme adalah pengajaran batin semua agama, dan ia telah menggunakan banyak kutipan dari Bibel dan Apocrypha untuk menetapkan pendiriannya. (Baca juga: Intelektualitas Al-Ghazali Berada di Tingkatan yang Sulit Dilampaui )

Ia telah menulis sebuah kritik awal tentang pemutarbalikan dalam idea-idea Kristen , "Al-Qaul al-Jamil fir-Radd 'ala Man Ghayyaral Injil" (Pendapat Baik untuk Memberi Bantahan terhadap Orang yang Mengubah Injil). Sebagai konsekuensinya, tentu ia setuju berada di bawah pengaruh Kristen.

Kenyataannya, setidak-tidaknya ia memang demikian, yang bahkan BBC (British Broadcasting Corporation) ketika pada kesempatan tertentu menggunakan cerita-cerita sufi untuk program agamanya di pagi hari, mungkin saja mengambilnya dari sumber-sumber sekunder, dan menggunakannya dalam makna esoterik mereka bila sesuai dengan nilai-nilai Kristen. (Baca juga: Imam Al-Ghazali dari Persia, Sang Pembela Islam )

Baca juga: Imam Al-Ghazali (2): Tarekat sampai Untung dan Rugi )

Al-Ghazali telah dituduh mengkhotbahkan sesuatu dan di belakang layar mengajarkan sesuatu yang lain. Idries Shah dalam The Sufis yang diterjemahkan M. Hidayatullah dan Roudlon, S.Ag. menjadi Mahkota Sufi: Menembus Dunia Ekstra Dimensi mengatakan, itu adalah kebenaran yang tak diragukan, jika diterima bahwa ia telah menganggap sufisme aktif sebagai sebuah tanggung jawab khusus yang hanya cocok untuk sejumlah orang tertentu yang memiliki kemampuan untuk menerima "Kepandaian".

Aspek-aspek doktrinal dan eksternal Islam yang ia umumkan dengan ortodoksi yang benar-benar sempurna, telah diperuntukkan bagi mereka yang tidak dapat mengikuti batin "Jalan Sufi".

Baca juga: Imam Al-Ghazali (1): Karya-Karyanya Tak Hanya Mendahului Zamannya

Insan Kamil (manusia sempurna) itu, karena hidupnya dalam waktu yang bersamaan berdimensi beda, harus mengikuti lebih dari satu perangkat doktrin. Seseorang yang berenang menyeberangi sebuah danau akan melakukan gerakan-gerakan, dan bereaksi terhadap apa yang ia lihat, yang berbeda dengan seseorang yang menuruni sebuah bukit, misalnya, ia manusia yang sama; dan ia mengerahkan seluruh kemampuan renangnya ketika menyeberang.

Baca juga: Musik dan Tarian Sebagai Pembantu Kehidupan Keagamaan (1)

Dengan keberanian luar biasa ia benar-benar mengemukakan hal itu dalam bukunya, Mizanul Amal (Timbangan Amal).
halaman ke-1
cover top ayah
وَلۡتَكُنۡ مِّنۡكُمۡ اُمَّةٌ يَّدۡعُوۡنَ اِلَى الۡخَيۡرِ وَيَاۡمُرُوۡنَ بِالۡمَعۡرُوۡفِ وَيَنۡهَوۡنَ عَنِ الۡمُنۡكَرِ‌ؕ وَاُولٰٓٮِٕكَ هُمُ الۡمُفۡلِحُوۡنَ‏
Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.

(QS. Ali 'Imran:104)
cover bottom ayah
preload video