Mahkota Sufi Imam Al-Ghazali (2)

Intelektualitas Al-Ghazali Berada di Tingkatan yang Sulit Dilampaui

loading...
Intelektualitas Al-Ghazali Berada di Tingkatan yang Sulit Dilampaui
Imam Al-Ghazali. Foto/Ilustrasi/Ist
PADA suatu waktu, ketika hanya sedikit ahli agama yang mampu dengan seksama mengkaji sebuah Hadis Rasul secara benar, itu pun hanya terbatas pada orang-orang tua, Imam al-Ghazali telah diangkat sebagai seorang Profesor pada universitas terkenal, Nizhamiyah di Baghdad. Kala itu usianya baru 33 tahun. (Baca juga: Imam Al-Ghazali dari Persia, Sang Pembela Islam)

Idries Shah dalam The Sufis yang diterjemahkan M. Hidayatullah dan Roudlon, S.Ag. menjadi Mahkota Sufi: Menembus Dunia Ekstra Dimensi, menyebut Intelektualitasnya benar-benar berada di tingkatan yang sulit dilampaui dalam Islam. Baginya, obyek pendidikan yang sebenarnya tidak semata untuk memberikan informasi, tetapi juga memberikan stimulasi terhadap kesadaran batin, sebuah konsep yang sangat revolusioner bagi pengajaran yang ada saat itu. Ia telah mengemukakan teorinya itu dalam bukunya, Ihya' Ulumiddin (Menghidupkan Ilmu-ilmu Agama).

Baca juga: Ridha Dengan Bala untuk Meraih Cinta Allah Ta'ala

Dibanding Jalaluddin Rumi (yang baru menyatakan tentang batas-batas puisi setelah menjadi penyair besar), menurut Idries Shah, al-Ghazali saat itu telah mampu menunjukkan keterpelajarannya. Tak kurang dari tiga ratus ribu Hadis Nabi SAW ia hafal, dan telah mendapat predikat Hujjatul-Islam (Pembela Islam).



(Baca juga: Imam Al-Ghazali (1): Karya-Karyanya Tak Hanya Mendahului Zamannya)

Kekuatan-kekuatan intelektualnya yang telah menyatu dengan kegelisahan pikirannya, seperti yang ia kemukakan dalam tulisan-tulisan otobiografinya, membuatnya melakukan penyelidikan tanpa kenal lelah pada setiap dogma dan doktrin yang ia rasakan bertentangan. Ini semua dilakukan pada saat ia masih muda belia.

Baca juga: Imam Al-Ghazali (2): Tarekat sampai Untung dan Rugi)



Selama masih mengajar, al-Ghazali telah membuat kesimpulan bahwa canon law, prinsip utama hukum (seperti yang telah ia tulis dalam buku-buku yang terpercaya) adalah basis yang tak cukup untuk mewadahi realitas, dan ia pun jatuh ke dalam Skeptisisme.
halaman ke-1 dari 4
cover top ayah
اَلَمۡ تَكُنۡ اٰيٰتِىۡ تُتۡلٰى عَلَيۡكُمۡ فَكُنۡتُمۡ بِهَا تُكَذِّبُوۡنَ‏
Bukankah ayat-ayat-Ku telah dibacakan kepadamu, tetapi kamu selalu mendustakannya?

(QS. Al-Mu’minun:105)
cover bottom ayah
TULIS KOMENTAR ANDA!
preload video