Dianggap Timbulkan Perpecahan, Musthafa Kemal Tolak Ajaran Salat
Jum'at, 07 Agustus 2020 - 12:32 WIB
loading...
A
A
A
Pemerintahan menaruh perhatian yang demikian tinggi terhadap semua yang berbau Eropa. “Maka maraklah beragam kesenian dan diukirlah patung-patung Ataturk di lapangan berbagai kota. Perhatian terhadap seni gambar dan musik demikian tinggi. Delegasi seniman berdatangan ke Turki dan kebanyakan berasal dari Prancis dan Austria ,” tutur Ash-Shalabi.
Tak hanya itu. Pemerintah memerintahkan kaum wanita untuk menanggalkan jilbab dan membiarkan mereka berkeliaran di mana-mana dengan tanpa jilbab, sebagaimana pemerintah juga menghapuskan qawamah kaum lelaki atas wanita dengan semboyan demi kemerdekaan dan persamaan. Pemerintah mendorong diselenggarakannya pesta-pesta tari dan drama-drama yang menggabungkan antara lelaki dan perempuan.
Baca juga: Ini Fatwa yang Lengserkan Sultan Abdul Hamid II dan Hancurkan Khilafah Utsmani
Ash-Shalabi bercerita, pada saat perkawinannya dengan Lathifah Hanum, putri seorang milyarder Izmir yang memiliki hubungan demikian erat dengan kalangan Yahudi , acara perkawinan itu dilakukan dengan menggunakan cara-cara Barat sebagai usaha untuk menghapuskan adat-adat Islam.
Dia menemani sang putri dan membawanya berkeliling kota, sedangkan Lathifah memakai pakaian yang menimbulkan fitnah dan bergabung dengan kalangan lelaki dengan memakai pakaian yang mempertontonkan bagian-bagian anggota tubuh secara telanjang.
Mushtafa Kemal Ataturk juga memerintahkan penerjemahan Al-Qur’an ke dalam bahasa Turki, sehingga kehilangan makna-maknanya dan cita asa bahasanya.
Baca juga: Sultan Abdul Hamid II Tolak Rayuan Zionis Kuasai Bumi Palestina
Dia memerintahkan agar adzan dilakukan dengan mengunakan Bahasa Turki. Dia melakukan perubahan metode pengajaran dan dilakukannya penulisan ulang sejarah untuk memunculkan kejajayaan nasionalisme masa lalu, sebagaimana bahasa Turki dibersihkan dari semua pengaruh bahasa Arab dan Persia dan menggantinya dengan bahasa Eropa dan bahasa Latin kuno.
Pemerintah juga mengumumkan keinginannya untuk berkiblat pada Eropa dan memisahkan dirinya dari dunia Islam dan Arab. Pemerintah bertekad untuk mengenyampingkan Islam, sehingga dia harus memerangi semua usaha untuk menghidupkan prinsip nilai-nilai Islam dengan cara yang demikian kasar dan keras.
Baca juga: Bumi Utsmani Jadi Pintu Pertama dan Pondasi Gerakan Yahudi Internasional
Langkah-langkah yang diambil Mushtafa Kemal ini memiliki dampak yang luas di Mesir , Afghanistan , Iran , India dan Turkistan serta kawasan dunia Islam lainnya. Sebab memberi peluang bagi kalangan yang menyeru pada westernisasi dan cenderung pada budaya Barat untuk menjadikan Turki sebagai contoh utama dan menjadikannya sebagai sesuatu yang bisa dijadikan teladan.
Media-media di Mesir seperti Al-Ahram, Siyasat dan Al-Muqaththam, yang memiliki orientasi memusuhi Islam menyambut gembira apa yang dilakukan oleh Attaturk. Media-media itu banyak mendapat dukungan dari Yahudi-Freemasonry dan Barat.
Baca juga: Usaha Arabisasi Pemerintahan Utsmani yang Mengundang Pertentangan
Seganas Bolshevik di Rusia
Media-media itu menjustifikasi dan mendukung apa yang dilakukan Mushtafa Kemal Attaturk. Media-media itu menyebarkan apa yang dikatakan oleh Attaturk di antaranya: “Turki baru, sama sekali tidak memiliki hubungan apapun dengan agama.” Atau pada saat yang lain memegang Al-Qur’an di tangannya dan dengan congkaknya menyatakan; "Sesungguhnya kemajuan bangsa-bangsa tidak mungkin dilakukan dengan menerapkan hukum-hukum dan kaidah-kaidah yang telah berlalu beberapa abad lamanya.”
Pemerintahan Turki-- Kemalis sekuler-sebagaimana yang dikatakan Oleh Amir Syakib Arselan-- bukanlah negara agama dalam bentuk yang serupa dengan Prancis ataupun Inggris, bahkan ia lebih ganas dari itu dalam memusuhi agama seperti yang dilakukan oleh pemerintahan Bolshevik di Rusia. Sebab negara-negara sekuler Barat pun dengan segala macam bentuk perlawanannya terhadap agama tidak sampai campur tangan dalam masalah penulisan huruf-huruf Injil, pakaian-pakaian yang harus dikenakan oleh para pemuka agama dan hukum yang khusus buat mereka serta masalah-masalah gereja.
Baca juga: Fitnah Berbalut Islam Sukses Hancurkan Pemerintahan Sultan Abdul Hamid II
Tak hanya itu. Pemerintah memerintahkan kaum wanita untuk menanggalkan jilbab dan membiarkan mereka berkeliaran di mana-mana dengan tanpa jilbab, sebagaimana pemerintah juga menghapuskan qawamah kaum lelaki atas wanita dengan semboyan demi kemerdekaan dan persamaan. Pemerintah mendorong diselenggarakannya pesta-pesta tari dan drama-drama yang menggabungkan antara lelaki dan perempuan.
Baca juga: Ini Fatwa yang Lengserkan Sultan Abdul Hamid II dan Hancurkan Khilafah Utsmani
Ash-Shalabi bercerita, pada saat perkawinannya dengan Lathifah Hanum, putri seorang milyarder Izmir yang memiliki hubungan demikian erat dengan kalangan Yahudi , acara perkawinan itu dilakukan dengan menggunakan cara-cara Barat sebagai usaha untuk menghapuskan adat-adat Islam.
Dia menemani sang putri dan membawanya berkeliling kota, sedangkan Lathifah memakai pakaian yang menimbulkan fitnah dan bergabung dengan kalangan lelaki dengan memakai pakaian yang mempertontonkan bagian-bagian anggota tubuh secara telanjang.
Mushtafa Kemal Ataturk juga memerintahkan penerjemahan Al-Qur’an ke dalam bahasa Turki, sehingga kehilangan makna-maknanya dan cita asa bahasanya.
Baca juga: Sultan Abdul Hamid II Tolak Rayuan Zionis Kuasai Bumi Palestina
Dia memerintahkan agar adzan dilakukan dengan mengunakan Bahasa Turki. Dia melakukan perubahan metode pengajaran dan dilakukannya penulisan ulang sejarah untuk memunculkan kejajayaan nasionalisme masa lalu, sebagaimana bahasa Turki dibersihkan dari semua pengaruh bahasa Arab dan Persia dan menggantinya dengan bahasa Eropa dan bahasa Latin kuno.
Pemerintah juga mengumumkan keinginannya untuk berkiblat pada Eropa dan memisahkan dirinya dari dunia Islam dan Arab. Pemerintah bertekad untuk mengenyampingkan Islam, sehingga dia harus memerangi semua usaha untuk menghidupkan prinsip nilai-nilai Islam dengan cara yang demikian kasar dan keras.
Baca juga: Bumi Utsmani Jadi Pintu Pertama dan Pondasi Gerakan Yahudi Internasional
Langkah-langkah yang diambil Mushtafa Kemal ini memiliki dampak yang luas di Mesir , Afghanistan , Iran , India dan Turkistan serta kawasan dunia Islam lainnya. Sebab memberi peluang bagi kalangan yang menyeru pada westernisasi dan cenderung pada budaya Barat untuk menjadikan Turki sebagai contoh utama dan menjadikannya sebagai sesuatu yang bisa dijadikan teladan.
Media-media di Mesir seperti Al-Ahram, Siyasat dan Al-Muqaththam, yang memiliki orientasi memusuhi Islam menyambut gembira apa yang dilakukan oleh Attaturk. Media-media itu banyak mendapat dukungan dari Yahudi-Freemasonry dan Barat.
Baca juga: Usaha Arabisasi Pemerintahan Utsmani yang Mengundang Pertentangan
Seganas Bolshevik di Rusia
Media-media itu menjustifikasi dan mendukung apa yang dilakukan Mushtafa Kemal Attaturk. Media-media itu menyebarkan apa yang dikatakan oleh Attaturk di antaranya: “Turki baru, sama sekali tidak memiliki hubungan apapun dengan agama.” Atau pada saat yang lain memegang Al-Qur’an di tangannya dan dengan congkaknya menyatakan; "Sesungguhnya kemajuan bangsa-bangsa tidak mungkin dilakukan dengan menerapkan hukum-hukum dan kaidah-kaidah yang telah berlalu beberapa abad lamanya.”
Pemerintahan Turki-- Kemalis sekuler-sebagaimana yang dikatakan Oleh Amir Syakib Arselan-- bukanlah negara agama dalam bentuk yang serupa dengan Prancis ataupun Inggris, bahkan ia lebih ganas dari itu dalam memusuhi agama seperti yang dilakukan oleh pemerintahan Bolshevik di Rusia. Sebab negara-negara sekuler Barat pun dengan segala macam bentuk perlawanannya terhadap agama tidak sampai campur tangan dalam masalah penulisan huruf-huruf Injil, pakaian-pakaian yang harus dikenakan oleh para pemuka agama dan hukum yang khusus buat mereka serta masalah-masalah gereja.
Baca juga: Fitnah Berbalut Islam Sukses Hancurkan Pemerintahan Sultan Abdul Hamid II
Lihat Juga :