Dianggap Timbulkan Perpecahan, Musthafa Kemal Tolak Ajaran Salat

loading...
Dianggap Timbulkan Perpecahan, Musthafa Kemal Tolak Ajaran Salat
Upacara militer saat warga mengunjungi Anitkabir, makam Mustafa Kemal Ataturk pada 2019. Foto/Ilustrasi/Ali Bal?k?/Anadolu Agency
SEBAGIAN kaum muslimin melakukan perlawanan dan revolusi bersenjata menghadapi pemerintahan Turki yang makin memusuhi Islam. Revolusi yang paling penting terjadi di wilayah Tenggara pada tahun 1344 H, kemudian di Manyamin pada tahun 1349 H. (Baca juga: Musthafa Kemal, Akhir Utsmani, dan Ratapan Para Penyair)

Hanya saja, perlawanan ini berhasil dipadamkan Pemerintah Musthafa Kemal Ataturk. Banyak ulama menjadi korban atas kekejaman pemerintah. Setelah itu, wilayah pemberontak tidak mendapat perhatian dalam bidang ekonomi dan ilmu pengetahuan.

Lalu ada gerakan An-Nur yang dipimpin oleh Syaikh Badiuz Zaman Said An-Nursi dan murid-muridnya. Mereka melakukan perlawanan tidak dengan senjata. Mereka menulis dan menerbitkan beberapa buku-buku keislaman yang diberi judul “Risalat An-Nuur”. Tujuan penerbitan buku ini untuk memberikan penyadaran keislaman dan melawan prinsip-prinsip Kemalisme dan sekularisme.

Prof Dr Ali Muhammad Ash-Shalabi, dalam Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Utsmaniyah memaparkan jihad yang mereka lakukan hanya melalui lisan. Inipun membuat Musthafa Kemal Ataturk tidak nyaman. Ia berusaha membujuk Syaikh Badiuz agar berpihak padanya. Bujukan itu ditolak.

Mustafa Kemal tidak setuju ajakannya kepada manusia untuk melakukan salat dengan alasan bahwa ini hanya akan menimbulkan perpecahan. Maka syaikh Badiduzzaman Said An-Nursi menjawab: “Sesungguhnya hakikat yang utama yang muncul setelah Islam adalah salat dan sesungguhnya orang yang tidak melakukan salat adalah seorang pengkhianat, sedangkan pemerintahan seorang pengkhianat ditolak.”



Akibat perkataannya, dia dipenjarakan kemudian diasingkan setelah dituduh melakukan konspirasi untuk menggulingkan pemerintahan. Namun demikian, dakwah dan seruannya terus berlangsung dan menyebar dengan cara rahasia di tengah-tengah kalangan akademisi dan kalangan militer, serta pejabat-pejabat pemerintah.

Kemudian dia dihadapkan ke pengadilan dengan tuduhan mengatakan Ataturk itu sebagai Dajjal. (Baca juga: Yahudi Dunamah Anggap Kemal Ataturk Bagian dari Mereka)

Saat itulah dia berdiri di depan pengadilan seraya berkata:; “Sungguh saya merasa heran bagaimana manusia-manusia yang saling memberi salam dengan salam Al-Qur’an, bayan-bayannya dan mukjizat-mukjizatnya, dituduh mengikuti gerakan politik rahasia, dan pada saat yang sama orang-orang biadab itu diberi hak untuk melakukan pelecehan pada Al-Qur’an dan hakikat-hakikatnya, dengan cara yang sinis dan menjijikkan, setelah itu apa yang mereka lakukan dianggap sebagai sesuatu yang kudus dengan dalih kebebasan. Sedangkan cahaya Al-Qur’an yang kini bersinar di sekian juta kaum muslimin yang terikat dengan undang-undangnya, dianggap sebagai kejahatan, kehinaan dan kelicikan.”

Baca juga: Utsmani Runtuh, Mereka Menyesal Jadi Tunggangan Freemasonry

“Dengarlah, Wahai orang-orang yang menjual agamanya dengan akhiratnya, yang terjerembab dalam kekufuran yang mutlak, sesungguhnya aku katakan dengan segala kekuatan yang Allah berikan kepadaku; ‘Lakukan apa yang mungkin kalian lakukan, sebab puncak keinginan kami adalah meniadikan kepala-kepala kami sebagai tebusan dari sekecil apapun hakikat dari kebenaran-kebenaran Islam....”



Dia pun dikembalikan ke pengasingannya hingga tahun 1367 H, tatkala pemerintah terpaksa harus memenuhi tuntutan masyarakat muslim untuk melakukan aktivitas keagamaan mereka. (Baca juga: Musthafa Kemal, Boneka Inggris yang Disejajarkan dengan Khalid bin Walid)

Menanggalkan Peradaban Islam
Musthafa Kemal meniupkan ruh nasionalisme di tengah-tengah bangsa Turki dengan menanggalkan ruh Islam. Dia mempergunakan kesempatan apa yang sering didengungkan oleh kalangan sejarawan, bahwa bahasa Sumeria yang merupakan bahasa orang-orang yang memiliki peradaban lama di negeri yang berada di antara dua sungai memiliki hubungan dengan bahasa Turki.

Dia berkata; "Sesungguhnya Turki adalah pemilik perabadan paling tua di dunia, maka sudah tiba saatnya kini untuk diambil kembali dan menggantikan peradaban Islam.”

Mushtafa Kemal menyandang gelar Ataturk pada dirinya yang berarti "Bapak orang-orang Turki”.

Baca juga: Ini Dia Tokoh yang Ubah Hagia Sophia dari Masjid Menjadi Museum

Pemerintahan menaruh perhatian yang demikian tinggi terhadap semua yang berbau Eropa. “Maka maraklah beragam kesenian dan diukirlah patung-patung Ataturk di lapangan berbagai kota. Perhatian terhadap seni gambar dan musik demikian tinggi. Delegasi seniman berdatangan ke Turki dan kebanyakan berasal dari Prancis dan Austria,” tutur Ash-Shalabi.

Tak hanya itu. Pemerintah memerintahkan kaum wanita untuk menanggalkan jilbab dan membiarkan mereka berkeliaran di mana-mana dengan tanpa jilbab, sebagaimana pemerintah juga menghapuskan qawamah kaum lelaki atas wanita dengan semboyan demi kemerdekaan dan persamaan. Pemerintah mendorong diselenggarakannya pesta-pesta tari dan drama-drama yang menggabungkan antara lelaki dan perempuan.

Baca juga: Ini Fatwa yang Lengserkan Sultan Abdul Hamid II dan Hancurkan Khilafah Utsmani

Ash-Shalabi bercerita, pada saat perkawinannya dengan Lathifah Hanum, putri seorang milyarder Izmir yang memiliki hubungan demikian erat dengan kalangan Yahudi, acara perkawinan itu dilakukan dengan menggunakan cara-cara Barat sebagai usaha untuk menghapuskan adat-adat Islam.

Dia menemani sang putri dan membawanya berkeliling kota, sedangkan Lathifah memakai pakaian yang menimbulkan fitnah dan bergabung dengan kalangan lelaki dengan memakai pakaian yang mempertontonkan bagian-bagian anggota tubuh secara telanjang.

Mushtafa Kemal Ataturk juga memerintahkan penerjemahan Al-Qur’an ke dalam bahasa Turki, sehingga kehilangan makna-maknanya dan cita asa bahasanya.

Baca juga: Sultan Abdul Hamid II Tolak Rayuan Zionis Kuasai Bumi Palestina

Dia memerintahkan agar adzan dilakukan dengan mengunakan Bahasa Turki. Dia melakukan perubahan metode pengajaran dan dilakukannya penulisan ulang sejarah untuk memunculkan kejajayaan nasionalisme masa lalu, sebagaimana bahasa Turki dibersihkan dari semua pengaruh bahasa Arab dan Persia dan menggantinya dengan bahasa Eropa dan bahasa Latin kuno.

Pemerintah juga mengumumkan keinginannya untuk berkiblat pada Eropa dan memisahkan dirinya dari dunia Islam dan Arab. Pemerintah bertekad untuk mengenyampingkan Islam, sehingga dia harus memerangi semua usaha untuk menghidupkan prinsip nilai-nilai Islam dengan cara yang demikian kasar dan keras.

Baca juga: Bumi Utsmani Jadi Pintu Pertama dan Pondasi Gerakan Yahudi Internasional

Langkah-langkah yang diambil Mushtafa Kemal ini memiliki dampak yang luas di Mesir, Afghanistan, Iran, India dan Turkistan serta kawasan dunia Islam lainnya. Sebab memberi peluang bagi kalangan yang menyeru pada westernisasi dan cenderung pada budaya Barat untuk menjadikan Turki sebagai contoh utama dan menjadikannya sebagai sesuatu yang bisa dijadikan teladan.

Media-media di Mesir seperti Al-Ahram, Siyasat dan Al-Muqaththam, yang memiliki orientasi memusuhi Islam menyambut gembira apa yang dilakukan oleh Attaturk. Media-media itu banyak mendapat dukungan dari Yahudi-Freemasonry dan Barat.

Baca juga: Usaha Arabisasi Pemerintahan Utsmani yang Mengundang Pertentangan

Seganas Bolshevik di Rusia
Media-media itu menjustifikasi dan mendukung apa yang dilakukan Mushtafa Kemal Attaturk. Media-media itu menyebarkan apa yang dikatakan oleh Attaturk di antaranya: “Turki baru, sama sekali tidak memiliki hubungan apapun dengan agama.” Atau pada saat yang lain memegang Al-Qur’an di tangannya dan dengan congkaknya menyatakan; "Sesungguhnya kemajuan bangsa-bangsa tidak mungkin dilakukan dengan menerapkan hukum-hukum dan kaidah-kaidah yang telah berlalu beberapa abad lamanya.”

Pemerintahan Turki-- Kemalis sekuler-sebagaimana yang dikatakan Oleh Amir Syakib Arselan-- bukanlah negara agama dalam bentuk yang serupa dengan Prancis ataupun Inggris, bahkan ia lebih ganas dari itu dalam memusuhi agama seperti yang dilakukan oleh pemerintahan Bolshevik di Rusia. Sebab negara-negara sekuler Barat pun dengan segala macam bentuk perlawanannya terhadap agama tidak sampai campur tangan dalam masalah penulisan huruf-huruf Injil, pakaian-pakaian yang harus dikenakan oleh para pemuka agama dan hukum yang khusus buat mereka serta masalah-masalah gereja.

Baca juga
: Fitnah Berbalut Islam Sukses Hancurkan Pemerintahan Sultan Abdul Hamid II

Media Yahudi memiliki peran yang sangat besar dalam memasarkan pemurtadan ini, sebagaimana mereka juga memiliki peran besar dalam mendorong Kemal Ataturk untuk melakukan tindakan yang kejam terhadap perlawanan yang dilakukan kalangan Islam. Bahkan di depan matanya digambarkan, bahwa pembantaian yang demikian ganas ini dalam melawan kaum muslimin adalah bentuk perang kepahlawanan sebagaimana dia selalu berkoar di mimbar-mimbar agar rakyat Turki meniru apa yang ada di Barat-Salibis dan mengajak pada kebebasan yang berbau kekufuran bagi kalangan wanita Turki.

Dia mengajak pada degradasi akhlak dengan anggapan bahwa minum minuman keras, judi, perzinaan tak lain sebagai gambaran dari tingginya peradaban dan kemajuan.

Baca juga: Ketika Freemasonry Masuk dan Atur Detak Jantung Kekuasaan Utsmani

Satu kenyataan pahit adalah bahwa Mushtafa Kemal Ataturk telah menjadi percontohan besar bagi para penguasa di dunia Islam, sedangkan tindakannya yang diktator telah menimbulkan dampak yang begitu jauh terhadap kebijakan-kebijakan para penguasa yang datang setelahnya.

Ia telah membuka pintu yang demikian luas bagi penjajah Barat untuk meruntuhkan Islam. Prancis misalnya, seakan mendapat pembenaran untuk mewujudkan keinginannya mengkristenkan kawasan Afrika Utara dan mengeluarkan mereka dari agama, akidah Islamnya, sebagaimana dihembuskan, bahwa tidaklah wajib bagi mereka untuk memegang keislamannya lebih daripada apa yang dilakukan oleh orang-orang Islam di Turki sendiri.

Baca juga: Sultan Abdul Hamid: “Tangan-Tangan Asing Menggerayang Dalam Hati Kita

Mushtafa Kemal menjadi pemimpin "spiritual" bagi banyak penguasa yang menjual akhiratnya untuk kepentingan dunia mereka yang akan segera sirna.

Enam Anak Panah
Kebijakan politis-sekuler Ataturk tampak dalam program partainya-- Republikan People Party-- yang tampak tahun 1349 dan tahun 1355 H dalam undang-undang Turki yang memuat tujuh hal pokok yang kemudian digambarkan dengan menggunakan enam anak panah di bendera Partai yakni; Nasionalisme, republik, kebangsaan, sekularisme, revolusi dan kekuasaan pemerintah.

Ataturk meninggal pada tahun 1356 H setelah berhasil menancapkan kuku sekularisme di Turki walaupun tidak disukai oleh kaum muslimin. Kemal Attaturk ditimpa satu penyakit menjelang kematiannya dalam jangka waktu beberapa tahun.

Baca juga: Bumi Utsmani Dikapling-kapling, Yahudi Dirikan Negara di Palestina

Penyakitnya berupa penyakit otot di buah pinggangnya yang tidak diketahui apa sebenarnya penyakit itu. Dia menderita sakit yang sangat perih dan kronis yang tidak sanggup dia tanggung.

Penyebabnya adalah karena kecanduannya dalam minum minuman keras, sehingga mengakibatkan kerusakan pada hati dan mengakibatkan panas pada ujung-ujung ototnya.

Hal ini menimbulkan kesedihan dan rasa lapar yang sangat. Dia mengalami kerusakan otak bagian atas. Diktator ini menjadi contoh utama dalam kebengisan dan egoisme yang menghancurkan. (Baca juga: Selain Hagia Sophia, Ini yang Jadi Korban Setelah Kesultanan Utsmani Runtuh)
(mhy)
cover top ayah
قَالَا رَبَّنَا ظَلَمۡنَاۤ اَنۡفُسَنَا وَاِنۡ لَّمۡ تَغۡفِرۡ لَـنَا وَتَرۡحَمۡنَا لَـنَكُوۡنَنَّ مِنَ الۡخٰسِرِيۡنَ
Keduanya berkata, “Ya Tuhan kami, kami telah menzhalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi.”

(QS. Al-A’raf:23)
cover bottom ayah
preload video