Konspirasi Yahudi: Kisah Chamberlain Mengundurkan Diri, Orang Kepercayaan Hitler Berkhianat
Rabu, 27 Desember 2023 - 05:15 WIB
loading...
Arthur Neville Chamberlain. Foto/Ilustrasi: wikipedia
A
A
A
Pada tahun 1939, Pasukan Jerman menyerbu bagaikan angin topan dan menduduki Polandia , lalu melalap Prancis dan Eropa Barat . Pasukan lapis baja Jerman yang dilengkapi dengan tank jenis panser yang terkenal itu, mampu menumbangkan pasukan Inggris, atau memaksa mereka menyerah dalam sekejap mata.
"Hanya saja, pada saat itu tiba-tiba Adolf Hitler mengeluarkan perintah tertanggal 22 Mei 1940, agar pasukannya berhenti menyerang," tulis William G. Carr dalam bukunya berjudul "Yahudi Menggenggam Dunia" (Pustaka Kautsar, 1993).
Perintah yang ditujukan kepada komandan pasukan lapis baja Jerman, jenderal Von Klaist itu berbunyi sebagai berikut, "Seluruh divisi lapis baja supaya menghentikan operasinya dengan mengambil jarak yang cukup dari battery meriam kota Dankert, yang memungkinkan bisa melakukan gerakan defensif atau berjaga-jaga".
Baca juga: Konspirasi Yahudi: Pembantaian Januari dan Revolusi Manshevik
Sudah tentu, jenderal Von Klaist sangat terkejut adanya perintah itu. Sebab, pasukannya ketika itu mampu menghancurkan pasukan Inggris sama sekali kalau dikehendaki.
Ia lebih terkejut lagi ketika mendapat perintah yang kedua yang lebih membingungkan lagi. Hitler memberi instruksi untuk menarik mundur pasukannya ke belakang garis front pertempuran di dekat kota itu, setelah pasukan lapis baja Jerman berhasil menyeberang masuk melewati garis tersebut. Pasukan Jerman itu terpaksa berhenti selama tiga hari dalam keadaan tidak menentu.
Dalam bukunya berjudul "Ujung Lembah yang Lain" (Another End of the Plain), seorang kapten dalam pasukan Von Klaist bernama Liddle Hart menulis, bahwa dua perwira tinggi jenderal Ronchidt dan Von Klaist menghadap Hitler untuk menyampaikan protes atas instruksi Hitler yang membingungkan.
Namun kedua perwira itu lebih terkejut lagi setelah mendengar jawaban sang Fuhrer yang menjelaskan, bahwa perintahnya itu bermaksud memberikan kesempatan pasukan Inggris untuk menarik mundur pasukannya, tanpa memerlukan jatuhnya korban, dan untuk menjaga wibawa angkatan bersenjata Inggris yang telah dikenal oleh dunia itu.
Hitler punya keyakinan, bahwa kelestarian kerajaan Inggris masih sangat diperlukan. Di samping itu, Hitler mengharapkan agar terbuka kesempatan untuk mengadakan pembicaraan damai dengan Inggris, yang berarti akan mengakhiri perang melawan Inggris, dengan syarat Inggris harus memenuhi tuntutan Jerman.
Baca juga: Konspirasi Yahudi: Kisah Rothschild Mengacaukan Ekonomi Amerika
"Hanya saja, pada saat itu tiba-tiba Adolf Hitler mengeluarkan perintah tertanggal 22 Mei 1940, agar pasukannya berhenti menyerang," tulis William G. Carr dalam bukunya berjudul "Yahudi Menggenggam Dunia" (Pustaka Kautsar, 1993).
Perintah yang ditujukan kepada komandan pasukan lapis baja Jerman, jenderal Von Klaist itu berbunyi sebagai berikut, "Seluruh divisi lapis baja supaya menghentikan operasinya dengan mengambil jarak yang cukup dari battery meriam kota Dankert, yang memungkinkan bisa melakukan gerakan defensif atau berjaga-jaga".
Baca juga: Konspirasi Yahudi: Pembantaian Januari dan Revolusi Manshevik
Sudah tentu, jenderal Von Klaist sangat terkejut adanya perintah itu. Sebab, pasukannya ketika itu mampu menghancurkan pasukan Inggris sama sekali kalau dikehendaki.
Ia lebih terkejut lagi ketika mendapat perintah yang kedua yang lebih membingungkan lagi. Hitler memberi instruksi untuk menarik mundur pasukannya ke belakang garis front pertempuran di dekat kota itu, setelah pasukan lapis baja Jerman berhasil menyeberang masuk melewati garis tersebut. Pasukan Jerman itu terpaksa berhenti selama tiga hari dalam keadaan tidak menentu.
Dalam bukunya berjudul "Ujung Lembah yang Lain" (Another End of the Plain), seorang kapten dalam pasukan Von Klaist bernama Liddle Hart menulis, bahwa dua perwira tinggi jenderal Ronchidt dan Von Klaist menghadap Hitler untuk menyampaikan protes atas instruksi Hitler yang membingungkan.
Namun kedua perwira itu lebih terkejut lagi setelah mendengar jawaban sang Fuhrer yang menjelaskan, bahwa perintahnya itu bermaksud memberikan kesempatan pasukan Inggris untuk menarik mundur pasukannya, tanpa memerlukan jatuhnya korban, dan untuk menjaga wibawa angkatan bersenjata Inggris yang telah dikenal oleh dunia itu.
Hitler punya keyakinan, bahwa kelestarian kerajaan Inggris masih sangat diperlukan. Di samping itu, Hitler mengharapkan agar terbuka kesempatan untuk mengadakan pembicaraan damai dengan Inggris, yang berarti akan mengakhiri perang melawan Inggris, dengan syarat Inggris harus memenuhi tuntutan Jerman.
Baca juga: Konspirasi Yahudi: Kisah Rothschild Mengacaukan Ekonomi Amerika
Lihat Juga :