Begini Kondisi Perbatasan Utara Negeri-Negeri Arab
Kamis, 04 Januari 2024 - 17:24 WIB
loading...
A
A
A
Orang-orang Arab yang merantau ke Syam dan ke Irak sudah menetap di perbatasan daerah-daerah pemukiman kedua wilayah itu. Dan bukanlah politik negara yang memaksa mereka tinggal di perbatasan ini, melainkan kehidupan pedalaman itu sendiri yang menarik mereka, mereka tergiur melihat keindahannya. Tetapi daerah pemukiman juga memikat mereka.
Mereka ingin berada tidak terlalu jauh dari daerah itu supaya dapat memperoleh rezeki tanpa harus terlalu berat. Memang demikian itulah keadaan penduduk pedalaman sepanjang sejarah.
Kalau sekarang ini kita perhatikan tempat-tempat tinggal mereka di Mesir, di Syam, di Irak atau dimana saja yang perkebunannya berbatasan dengan padang pasir, akan kita lihat mereka berada di pinggiran sahara antara daerah pemukiman dengan daerah pedalaman, dan akan kita lihat perhatian penduduknya lebih banyak dicurahkan ke pedalaman dan memperhatikannya dari waktu ke waktu dengan kafilah-kafilah mereka.
Cara hidup baduinya yang seolah sudah mendarah daging pada mereka itu membuat mereka tak mau lagi hidup menetap atau tinggal seperti penduduk kota dengan sistem kemasyarakatannya itu.
Watak mereka mengharuskan hidup serba sulit, yang sebenarnya tak perlu mereka lakukan kalau tidak karena daerah pedalaman yang memang begitu bebas serta hubungannya dengan alam yang tak terbatas, sebagai ganti melepaskan mereka dari segala kesulitan dan menganggap enteng segala kesukaran itu.
Baca juga: Pra-Islam: Mengapa Orang Arab di Syam dan Irak Lebih Memilih Beragama Nasrani?
Mereka ingin berada tidak terlalu jauh dari daerah itu supaya dapat memperoleh rezeki tanpa harus terlalu berat. Memang demikian itulah keadaan penduduk pedalaman sepanjang sejarah.
Kalau sekarang ini kita perhatikan tempat-tempat tinggal mereka di Mesir, di Syam, di Irak atau dimana saja yang perkebunannya berbatasan dengan padang pasir, akan kita lihat mereka berada di pinggiran sahara antara daerah pemukiman dengan daerah pedalaman, dan akan kita lihat perhatian penduduknya lebih banyak dicurahkan ke pedalaman dan memperhatikannya dari waktu ke waktu dengan kafilah-kafilah mereka.
Cara hidup baduinya yang seolah sudah mendarah daging pada mereka itu membuat mereka tak mau lagi hidup menetap atau tinggal seperti penduduk kota dengan sistem kemasyarakatannya itu.
Watak mereka mengharuskan hidup serba sulit, yang sebenarnya tak perlu mereka lakukan kalau tidak karena daerah pedalaman yang memang begitu bebas serta hubungannya dengan alam yang tak terbatas, sebagai ganti melepaskan mereka dari segala kesulitan dan menganggap enteng segala kesukaran itu.
Baca juga: Pra-Islam: Mengapa Orang Arab di Syam dan Irak Lebih Memilih Beragama Nasrani?
(mhy)
Lihat Juga :