Mukjizat Turun Ketika Pasukan Muslim Perangi Kaum Murtad di Bahrain
Kamis, 13 Agustus 2020 - 13:03 WIB
loading...
A
A
A
Pada saat itulah mereka hanya dipengaruhi oleh perasaan sedih. Mereka yakin hanya berhadapan dengan maut. Satu sama lain mereka sudah saling berwasiat. Tetapi Ala' berkata kepada mereka: "Apa yang ini terjadi? Apa yang mempengaruhi kamu?"
"Bagaimana kami dapat disalahkan," jawab mereka. "Kalau sampai besok, sebelum terik matahari sempat membakar kami, kami sudah tinggal jadi cerita orang."
Dengan kalbu penuh iman Ala' berkata lagi: "Saudara-saudara! Jangan takut. Bukankah kita Muslimin? Bukankah kita berjuang di jalan Allah? Bukankah kita berjuang membela agama Allah?"
"Benar," sahut mereka.
"Bergembiralah! Sungguh, Allah tidak akan mengecewakan orang semacam kita," ujarnya. (Baca juga: Maaf dan Marah Khalifah Abu Bakar kepada Kaum yang Murtad )
Bertalian dengan ini juga ada sumber lain yang menyebutkan bahwa selesai salat subuh mereka hanyut dalam doa, hingga begitu matahari terbit tampak oleh mereka sekilas bayangan udara (fatamorgana), kemudian menyusul yang kedua lalu yang ketiga. Pemimpin mereka berkata: "Air!"
Mereka pergi mendatangi tempat itu. Mereka minum, mandi dan mengambil air sepuas-puasnya. Matahari pun sudah makin tinggi. Tiba-tiba dari segenap penjuru unta-unta itu datang kembali dan menderum (berlutut) di depan mereka.
Mereka pun menaiki kembali unta masing-masing dan meneruskan perjalanan. Diceritakan juga bahwa Abu Hurairah dan seorang sahabatnya dari orang Arab pedalaman yang sudah mengenal daerah ini, ketika kembali ke tempat ditemukannya air tadi, ternyata tak melihat kolam ataupun bekas air.
Orang yang sudah mengenal benar daerah-daerah ini mengatakan bahwa ia tahu benar tempat ini, dan sebelum kejadian itu memang tak pernah ia melihat ada air tergenang di sana. Itu sebabnya dikatakan bahwa kejadian ini adalah salah satu mukjizat Allah, dan bahwa air itu merupakan anugerah dari Allah.
Beberapa Orientalis menyatakan kesangsiannya mengenal cerita ini. Baik kesangsian itu beralasan atau tidak, yang jelas Ala' dan pasukan untanya sudah berangkat dan meneruskan perjalanan sampai tiba di Bahrain. (Baca juga: Gampang Menangis, Sayyidah Aisyah Ragukan Abu Bakar Bisa Jadi Imam Salat )
Dalam pada itu Ala' tetap memberi semangat kepada Jarud dan teman-temannya. Dia sendiri memang sudah siap- menghadapi Hutam. Tetapi dilihatnya jumlah kaum murtad dan persenjataan cukup besar. Mereka tak akan mudah diserang begitu saja. Oleh karena itu kedua pihak, Muslimin dan kaum murtad sama-sama membuat parit dan mereka mengadakan serangan silih berganti kemudian kembali ke parit masing-masing.
Selama sebulan mereka dalam keadaan begitu tanpa mengetahui bagaimana nasib mereka kelak. Sementara mereka dalam keadaan demikian itu, suatu malam Muslimin mendapat kesempatan berharga, lawan itu mendapat pukulan yang sangat menentukan. Ketika itu pihak Muslimin mendengar suara-suara ribut di markas kaum musyrik itu seperti yang biasa terjadi bila orang sedang panik atau sedang dalam perang.
Ala' mengirim orangnya untuk mencari berita. Kemudian diketahuinya bahwa malam itu mereka sedang hanyut dalam minum minuman keras, sedang dalam keadaan mabuk, sudah tak menyadari dirinya. Ketika itulah Muslimin keluar dari dalam parit dan langsung menyerbu markas mereka, menghantam dan membantai mereka dengan pedang. (Baca juga: Murtad dan Penolakan Membayar Zakat Pascawafatnya Rasulullah )
Kaum murtad yang lain melarikan diri, ada yang mundar mandir di parit, ada yang kebingungan, ada yang terbunuh dan yang ditawan, dan ada pula yang selamat tapi mereka gelisah.
Ketika itu Qais bin Asim mendekati Hutam yang sudah tergeletak di tanah lalu dihabisinya. Sedang Afif bin Munzir al-Garur ditawan. "Engkau telah menyesatkan mereka," kata Ala'.
Al-Garur kemudian masuk Islam dan dia berkata: "Aku bukan yang Garur — bukan yang menyesatkan, tapi aku disesatkan orang."' Oleh Ala' ia maafkan.
Baca juga: Ketika Para Pembangkang Zakat Menyerbu Madinah
"Bagaimana kami dapat disalahkan," jawab mereka. "Kalau sampai besok, sebelum terik matahari sempat membakar kami, kami sudah tinggal jadi cerita orang."
Dengan kalbu penuh iman Ala' berkata lagi: "Saudara-saudara! Jangan takut. Bukankah kita Muslimin? Bukankah kita berjuang di jalan Allah? Bukankah kita berjuang membela agama Allah?"
"Benar," sahut mereka.
"Bergembiralah! Sungguh, Allah tidak akan mengecewakan orang semacam kita," ujarnya. (Baca juga: Maaf dan Marah Khalifah Abu Bakar kepada Kaum yang Murtad )
Bertalian dengan ini juga ada sumber lain yang menyebutkan bahwa selesai salat subuh mereka hanyut dalam doa, hingga begitu matahari terbit tampak oleh mereka sekilas bayangan udara (fatamorgana), kemudian menyusul yang kedua lalu yang ketiga. Pemimpin mereka berkata: "Air!"
Mereka pergi mendatangi tempat itu. Mereka minum, mandi dan mengambil air sepuas-puasnya. Matahari pun sudah makin tinggi. Tiba-tiba dari segenap penjuru unta-unta itu datang kembali dan menderum (berlutut) di depan mereka.
Mereka pun menaiki kembali unta masing-masing dan meneruskan perjalanan. Diceritakan juga bahwa Abu Hurairah dan seorang sahabatnya dari orang Arab pedalaman yang sudah mengenal daerah ini, ketika kembali ke tempat ditemukannya air tadi, ternyata tak melihat kolam ataupun bekas air.
Orang yang sudah mengenal benar daerah-daerah ini mengatakan bahwa ia tahu benar tempat ini, dan sebelum kejadian itu memang tak pernah ia melihat ada air tergenang di sana. Itu sebabnya dikatakan bahwa kejadian ini adalah salah satu mukjizat Allah, dan bahwa air itu merupakan anugerah dari Allah.
Beberapa Orientalis menyatakan kesangsiannya mengenal cerita ini. Baik kesangsian itu beralasan atau tidak, yang jelas Ala' dan pasukan untanya sudah berangkat dan meneruskan perjalanan sampai tiba di Bahrain. (Baca juga: Gampang Menangis, Sayyidah Aisyah Ragukan Abu Bakar Bisa Jadi Imam Salat )
Dalam pada itu Ala' tetap memberi semangat kepada Jarud dan teman-temannya. Dia sendiri memang sudah siap- menghadapi Hutam. Tetapi dilihatnya jumlah kaum murtad dan persenjataan cukup besar. Mereka tak akan mudah diserang begitu saja. Oleh karena itu kedua pihak, Muslimin dan kaum murtad sama-sama membuat parit dan mereka mengadakan serangan silih berganti kemudian kembali ke parit masing-masing.
Selama sebulan mereka dalam keadaan begitu tanpa mengetahui bagaimana nasib mereka kelak. Sementara mereka dalam keadaan demikian itu, suatu malam Muslimin mendapat kesempatan berharga, lawan itu mendapat pukulan yang sangat menentukan. Ketika itu pihak Muslimin mendengar suara-suara ribut di markas kaum musyrik itu seperti yang biasa terjadi bila orang sedang panik atau sedang dalam perang.
Ala' mengirim orangnya untuk mencari berita. Kemudian diketahuinya bahwa malam itu mereka sedang hanyut dalam minum minuman keras, sedang dalam keadaan mabuk, sudah tak menyadari dirinya. Ketika itulah Muslimin keluar dari dalam parit dan langsung menyerbu markas mereka, menghantam dan membantai mereka dengan pedang. (Baca juga: Murtad dan Penolakan Membayar Zakat Pascawafatnya Rasulullah )
Kaum murtad yang lain melarikan diri, ada yang mundar mandir di parit, ada yang kebingungan, ada yang terbunuh dan yang ditawan, dan ada pula yang selamat tapi mereka gelisah.
Ketika itu Qais bin Asim mendekati Hutam yang sudah tergeletak di tanah lalu dihabisinya. Sedang Afif bin Munzir al-Garur ditawan. "Engkau telah menyesatkan mereka," kata Ala'.
Al-Garur kemudian masuk Islam dan dia berkata: "Aku bukan yang Garur — bukan yang menyesatkan, tapi aku disesatkan orang."' Oleh Ala' ia maafkan.
Baca juga: Ketika Para Pembangkang Zakat Menyerbu Madinah
Lihat Juga :