Kisah Para Ulama Mendidik Muridnya dengan Cara yang Unik
Kamis, 13 Agustus 2020 - 14:30 WIB
loading...
A
A
A
Santri bernama Manab itu kelak menjadi ulama besar di zamannya, mendirikan pesantren yang memiliki ribuan santri hingga saat ini, ia dikenal dengan KH Abdul Karim, pendiri Pondok Pesantren Lirboyo Kediri. (Baca Juga: Mengapa Kita Harus Mencintai Wali Allah? Ini Alasannya )
Lain lagi yang dialami santri bernama Muhammadun. Sehari sebelum santri asal Lasem itu datang ke Bangkalan, Syaikhona Kholil menyuruh murid-muridnya untuk membuat 'kurungan' ayam. Keesokan harinya Syaikhona Kholil menyambut kedatangan Muhammadun lalu memerintahkannya untuk menjebloskan diri ke dalam kurung ayam itu. Sam'an wa tho'atan ia laksanakan perintah sang guru tanpa protes sedikitpun. Kelak ialah yang akan menjadi salah satu jago tanah Jawa, menjadi Kiyai Alim nan Kharismatik yang dikenal dengan Mbah Kiyai Maksum Lasem.
Santri asal Tambak Beras Jombang bernama Abdul Wahhab malah memiliki pengalaman yang seru dan menegangkan. Ketika baru sampai di gerbang pondok Syaikhona Kholil , ia disambut oleh puluhan santri yang membawa celurit dan pedang dan hendak menyerangnya. Tentu saja ia lari terbirit-birit.
Ternyata Syaikhona Kholil sudah mewanti-wanti para muridnya untuk bersiaga di hari itu, kata beliau akan ada 'Macan' yang hendak memasuki area pondok. Dan sialnya, Santri baru bernama Abdul Wahhab itu yang Syaikhona Kholil tuduh sebagai 'Macan' hingga ia menjadi target serbuan para santri .
Esok harinya ia kembali lagi, masih juga disambut dengan celurit dan pedang. Ia belum menyerah, ia mencoba lagi di malam ketiga, dan di malam itu ia berhasil memasuki area ponpes. Karena kelelahan ia tertidur di Mushalla Pesantren, Syaikhona Kholil lalu datang dan membangunkannya.
Di malam itu, ia resmi diterima menjadi santri Kiyai Kholil. Di masa depan, ialah yang akan menjadi macan NU. Pengasuh Pesantren Tambak Beras yang kita kenal sebagai Kiyai Wahhab Hasbullah.
Dawuh Imam Al-Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad , "Orang yang mencari ilmu itu ibarat orang yang membawa wadah untuk meminta madu. Jika ia membawa wadah yang kotor, apakah sang pemilik madu akan menuangkan madunya untuknya? Tentunya ia akan menyuruhnya untuk membersihkan wadahnya terlebih dahulu".
Itulah hakikat ilmu layaknya madu, sedangkan Hati kita adalah wadah untuk 'menampaninya' (menerimanya). Semakin besar rasa takzhim dan keyakinan kita terhadap guru kita, semakin besar pula wadah yang kita miliki.
Pemberian dan pertolongan Allah yang akan kita peroleh lewat guru kita tergantung rasa takzhim, keyakinan dan cara pandang kita terhadapnya. Semoga kita tetap bisa menjaga adab dan sikap takzhim terhadap guru dan ulama kita. (Baca Juga: Begini Cara Sultan Muhammad Al-Fatih Memuliakan Ulama )
Wallahu Ta'ala A'lam
Lain lagi yang dialami santri bernama Muhammadun. Sehari sebelum santri asal Lasem itu datang ke Bangkalan, Syaikhona Kholil menyuruh murid-muridnya untuk membuat 'kurungan' ayam. Keesokan harinya Syaikhona Kholil menyambut kedatangan Muhammadun lalu memerintahkannya untuk menjebloskan diri ke dalam kurung ayam itu. Sam'an wa tho'atan ia laksanakan perintah sang guru tanpa protes sedikitpun. Kelak ialah yang akan menjadi salah satu jago tanah Jawa, menjadi Kiyai Alim nan Kharismatik yang dikenal dengan Mbah Kiyai Maksum Lasem.
Santri asal Tambak Beras Jombang bernama Abdul Wahhab malah memiliki pengalaman yang seru dan menegangkan. Ketika baru sampai di gerbang pondok Syaikhona Kholil , ia disambut oleh puluhan santri yang membawa celurit dan pedang dan hendak menyerangnya. Tentu saja ia lari terbirit-birit.
Ternyata Syaikhona Kholil sudah mewanti-wanti para muridnya untuk bersiaga di hari itu, kata beliau akan ada 'Macan' yang hendak memasuki area pondok. Dan sialnya, Santri baru bernama Abdul Wahhab itu yang Syaikhona Kholil tuduh sebagai 'Macan' hingga ia menjadi target serbuan para santri .
Esok harinya ia kembali lagi, masih juga disambut dengan celurit dan pedang. Ia belum menyerah, ia mencoba lagi di malam ketiga, dan di malam itu ia berhasil memasuki area ponpes. Karena kelelahan ia tertidur di Mushalla Pesantren, Syaikhona Kholil lalu datang dan membangunkannya.
Di malam itu, ia resmi diterima menjadi santri Kiyai Kholil. Di masa depan, ialah yang akan menjadi macan NU. Pengasuh Pesantren Tambak Beras yang kita kenal sebagai Kiyai Wahhab Hasbullah.
Dawuh Imam Al-Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad , "Orang yang mencari ilmu itu ibarat orang yang membawa wadah untuk meminta madu. Jika ia membawa wadah yang kotor, apakah sang pemilik madu akan menuangkan madunya untuknya? Tentunya ia akan menyuruhnya untuk membersihkan wadahnya terlebih dahulu".
Itulah hakikat ilmu layaknya madu, sedangkan Hati kita adalah wadah untuk 'menampaninya' (menerimanya). Semakin besar rasa takzhim dan keyakinan kita terhadap guru kita, semakin besar pula wadah yang kita miliki.
Pemberian dan pertolongan Allah yang akan kita peroleh lewat guru kita tergantung rasa takzhim, keyakinan dan cara pandang kita terhadapnya. Semoga kita tetap bisa menjaga adab dan sikap takzhim terhadap guru dan ulama kita. (Baca Juga: Begini Cara Sultan Muhammad Al-Fatih Memuliakan Ulama )
Wallahu Ta'ala A'lam
(rhs)
Lihat Juga :