Ajaran Sufi Hanya Bisa Dilakukan oleh Seorang Sufi
Minggu, 16 Agustus 2020 - 06:07 WIB
loading...
A
A
A
Cerita ini bukan sekadar suatu cara mengubah "redaksi" pernyataan, "Kerjakan seperti yang kukatakan, bukan seperti yang kulakukan!" Jauh dari wujud ajaran etis, ini merupakan suatu keharusan yang tidak bisa ditawar. (Baca juga: Nashruddin Sering Mainkan Peranan Orang yang Belum Tercerahkan )
Ajaran Sufi hanya bisa dilakukan oleh seorang Sufi, bukan oleh seorang teoritisi atau eksponen intelektual. Karena sejalan dengan realitas-sejati, maka Sufisme tidak bisa dibuat secara dekat untuk menyerupai apa yang kita anggap sebagai realitas, tetapi ia benar-benar merupakan aturan yang didasarkan atas pengalaman nyata yang lebih mendasar. (Baca juga: Mullah Nashruddin, Keledai, dan Kualitas Magis Berkah )
Sebagai contoh, kita cenderung melihat peristiwa-peristiwa secara sepihak. Kita juga beranggapan tanpa suatu pembenaran, bahwa suatu peristiwa terjadi seolah-olah hal itu terjadi pada suatu "ruang hampa". (Baca juga: Kala Sampai di Samudera, Anda Tidak Akan Berbicara tentang Arus Sungai )
Dalam hakikatnya, semua peristiwa terkait dengan peristiwa-peristiwa lainnya. Hanya ketika kita telah mengalami keterkaitan dengan organisme kehidupan itulah kita bisa memahami pengalaman mistis.
Jika Anda melihat tindakan yang Anda lakukan, atau yang dilakukan orang lain, menurut Idries Shah, Anda akan menemukan bahwa hal itu didorong oleh salah satu dari berbagai stimulan; dan Anda juga menyadari bahwa hal itu bukan suatu tindakan yang "terkecil" -- ia memiliki akibat-akibat, kebanyakan justru yang tidak Anda harapkan. (Baca juga: Imam Al-Ghazali (1): Karya-Karyanya Tak Hanya Mendahului Zamannya)
Ajaran Sufi hanya bisa dilakukan oleh seorang Sufi, bukan oleh seorang teoritisi atau eksponen intelektual. Karena sejalan dengan realitas-sejati, maka Sufisme tidak bisa dibuat secara dekat untuk menyerupai apa yang kita anggap sebagai realitas, tetapi ia benar-benar merupakan aturan yang didasarkan atas pengalaman nyata yang lebih mendasar. (Baca juga: Mullah Nashruddin, Keledai, dan Kualitas Magis Berkah )
Sebagai contoh, kita cenderung melihat peristiwa-peristiwa secara sepihak. Kita juga beranggapan tanpa suatu pembenaran, bahwa suatu peristiwa terjadi seolah-olah hal itu terjadi pada suatu "ruang hampa". (Baca juga: Kala Sampai di Samudera, Anda Tidak Akan Berbicara tentang Arus Sungai )
Dalam hakikatnya, semua peristiwa terkait dengan peristiwa-peristiwa lainnya. Hanya ketika kita telah mengalami keterkaitan dengan organisme kehidupan itulah kita bisa memahami pengalaman mistis.
Jika Anda melihat tindakan yang Anda lakukan, atau yang dilakukan orang lain, menurut Idries Shah, Anda akan menemukan bahwa hal itu didorong oleh salah satu dari berbagai stimulan; dan Anda juga menyadari bahwa hal itu bukan suatu tindakan yang "terkecil" -- ia memiliki akibat-akibat, kebanyakan justru yang tidak Anda harapkan. (Baca juga: Imam Al-Ghazali (1): Karya-Karyanya Tak Hanya Mendahului Zamannya)
(mhy)
Lihat Juga :