Jelang Ajal, Nizhamul Mulk Mengampuni Pembunuhnya
Jum'at, 21 Agustus 2020 - 09:50 WIB
loading...
A
A
A
Sedang pemuda yang membunuhnya bersembunyi di dalam tenda, yang kemudian ditemukan para pengikut setia Nizhamul Mulk, kemudian membunuhnya. Sebagian pelayan Nizhamul Mulk mengatakan pesan terakhir Nizhamul Mulk, “Janganlah kalian membunuh orang yang membunuhku, karena aku telah mengampuninya.” Lalu dia membaca Syahadat dan meninggal.“
Tatkala kabar kematian Nizhamul Mulk sampai kepada penduduk Baghdad, mereka demikian sedih atas kematiannya. Semua pejabat tidak melakukan kegiatan resmi selama tiga hari, sebagai ungkapan bela sungkawa atas kematiannya.
Baca juga: Ini Fatwa yang Lengserkan Sultan Abdul Hamid II dan Hancurkan Khilafah Utsmani
Sedangkan para penyair melantunkan syair dukanya. Di antara yang melantunkan syair duka, Muqatil bin ‘Athiyyah:
”Perdana Menteri Nizhamul Mulk adalah
mutiara yatim yang Allah ciptakan dari bahan mulia
Namun hari-hari tak mengerti nilai harganya
dan dia dikembalikan oleh orang lain ke rumah kerang.”
Lalu, siapa Nizham al-Mulk?
Beliau adalah wazir atau perdana menteri Kesultanan Seljuk dan cendekiawan keturunan Persia. Nama aslinya Abu Ali al-Husain bin Ali bin Ishaq bin al-Abbas at-Thusi. Ia menjabat wazir pada masa pemerintahan Alip Arselan dan Malik Syah. Beliau lahir 10 April 1018 dan wafat 14 Oktober 1092.
Baca juga: Sultan Abdul Hamid II Tolak Rayuan Zionis Kuasai Bumi Palestina
Pada masa Nizham al-Mulk inilah aliran Asy'ariyah menjadi kuat berkembang karena dijadikan aliran resmi negara, dan keilmuan Imam Al-Ghazali mendapat dukungan penuh darinya. Ia memegang kekuasaan selama 20 tahun semenjak meninggalnya Alip Arslan pada tahun 1072.
Menurut Imam Adz-Dzahabi, beliau dikenal sebagai seorang yang cerdas, seorang ahli politik, seorang ahli medan, berperangai baik, seorang yang sangat pemalu. “Dia selalu meramaikan majelisnya dengan para qurra’ dan fukaha'. Dia telah mendirikan universitas yang besar di Baghdad, Naisabur, dan Thus. Dia dikenal sebagai sosok yang sangat menyenangi ilmu pengetahuan, selalu berinteraksi dengan para mahasiswa, dan selalu mendiktekan hadis.”
Baca juga: Bumi Utsmani Jadi Pintu Pertama dan Pondasi Gerakan Yahudi Internasional
Tatkala kabar kematian Nizhamul Mulk sampai kepada penduduk Baghdad, mereka demikian sedih atas kematiannya. Semua pejabat tidak melakukan kegiatan resmi selama tiga hari, sebagai ungkapan bela sungkawa atas kematiannya.
Baca juga: Ini Fatwa yang Lengserkan Sultan Abdul Hamid II dan Hancurkan Khilafah Utsmani
Sedangkan para penyair melantunkan syair dukanya. Di antara yang melantunkan syair duka, Muqatil bin ‘Athiyyah:
”Perdana Menteri Nizhamul Mulk adalah
mutiara yatim yang Allah ciptakan dari bahan mulia
Namun hari-hari tak mengerti nilai harganya
dan dia dikembalikan oleh orang lain ke rumah kerang.”
Lalu, siapa Nizham al-Mulk?
Beliau adalah wazir atau perdana menteri Kesultanan Seljuk dan cendekiawan keturunan Persia. Nama aslinya Abu Ali al-Husain bin Ali bin Ishaq bin al-Abbas at-Thusi. Ia menjabat wazir pada masa pemerintahan Alip Arselan dan Malik Syah. Beliau lahir 10 April 1018 dan wafat 14 Oktober 1092.
Baca juga: Sultan Abdul Hamid II Tolak Rayuan Zionis Kuasai Bumi Palestina
Pada masa Nizham al-Mulk inilah aliran Asy'ariyah menjadi kuat berkembang karena dijadikan aliran resmi negara, dan keilmuan Imam Al-Ghazali mendapat dukungan penuh darinya. Ia memegang kekuasaan selama 20 tahun semenjak meninggalnya Alip Arslan pada tahun 1072.
Menurut Imam Adz-Dzahabi, beliau dikenal sebagai seorang yang cerdas, seorang ahli politik, seorang ahli medan, berperangai baik, seorang yang sangat pemalu. “Dia selalu meramaikan majelisnya dengan para qurra’ dan fukaha'. Dia telah mendirikan universitas yang besar di Baghdad, Naisabur, dan Thus. Dia dikenal sebagai sosok yang sangat menyenangi ilmu pengetahuan, selalu berinteraksi dengan para mahasiswa, dan selalu mendiktekan hadis.”
Baca juga: Bumi Utsmani Jadi Pintu Pertama dan Pondasi Gerakan Yahudi Internasional
Lihat Juga :