Menumpas Kekuasaan Para Kisra: Perintah Khalifah Umar untuk Membebaskan Isfahan
Kamis, 25 April 2024 - 13:44 WIB
loading...
Persia akan terus mengadakan perlawanan terhadap pasukan Muslimin selama Yazdigird masih berada di tengah-tengah mereka. Ilustrasi: Andriano Laruccia
A
A
A
Pasukan Islam telah menguasai sebagian besar wilayah Persia setelah memenangkan perang Nahawand. Hanya saja, Raja Kisra Yazdigird masih hidup dan menggerakkan pasukan Persia di sejumlah wilayah.
Khalifah Umar bin Khattab bertekad menghabisi para Kisra itu. Hal itu karena teringat akan kata-kata Ahnaf bin Qais . "Persia akan terus mengadakan perlawanan terhadap pasukan Muslimin selama Yazdigird masih berada di tengah-tengah mereka."
Muhammad Husain Haekal dalam bukunya berjudul "Al-Faruq Umar" yang diterjemahkan Ali Audah menjadi "Umar bin Khattab" (PT Pustaka Litera AntarNusa, April 2000) mengisahkan ketika pasukan Arab memasuki Nahawand dan Hamazan, Yazdigird tinggal di Ray.
"Sesudah ia melihat mereka mendekati tempat kediamannya, cepat-cepat ia ke Isfahan untuk membakar semangat warga kota itu agar mengadakan perlawanan," tulis Haekal.
Baca juga: Kisah Pasukan Muslim Menumpas Kekuasaan Para Kisra Persia
Begitu berita ini sampai kepada Umar, ia segera memerintahkan pasukannya berangkat ke Isfahan dengan harapan yang memimpin pertahanan kota itu Yazdigird sendiri supaya kemudian ia dapat ditawan, dan dengan demikian seluruh perlawanan Persia akan hancur.
Ia memerintahkan Abdullah bin Abdullah bin Itban segera berangkat ke sana bersama pasukan Kufah yang dipimpinnya dan pasukan Nu'man bin Muqarrin di Nahawand yang mengikutinya.
Dalam sebuah sumber disebutkan bahwa Umar bin Khattab meminta pendapat Hormuzan dengan mengatakan: "Bagaimana pendapat Anda? Akan saya mulai dengan Persia atau dengan Azerbaijan ataukah dengan Isfahan?"
Jawaban Hormuzan: "Persia dan Azerbaijan keduanya adalah sayap, sedangkan Isfahan kepalanya. Kalau salah satu sayap itu dipotong, sayap yang sebelah lagi masih akan berfungsi; kalau yang dipotong kepalanya kedua sayap itu akan terkulai, maka mulailah dengan kepala."
Khalifah Umar bin Khattab puas dengan pendapatnya itu dan ia memerintahkan gerakan dimulai dari Isfahan.
Isfahan atau Ispahan sebuah kota besar yang dijadikan ibu kota salah satu provinsi di Irak-Persia, terdiri atas dua kota bertetangga: Jay dan Yahudiah. Yang terakhir ini pada mulanya merupakan daerah koloni Yahudi, dibangun oleh Yazdigird I memenuhi keinginan istrinya yang orang Yahudi, Shushandukht (Suzan).
Baca juga: Pertempuran Nahawand Iran: Kisah Matinya Panglima Perang Persia Firozan
Sedangkan Jay merupakan ibu kotanya, terletak di tanah yang subur dan udaranya paling sehat dengan air tawar yang paling sedap.
Khalifah Umar bin Khattab bertekad menghabisi para Kisra itu. Hal itu karena teringat akan kata-kata Ahnaf bin Qais . "Persia akan terus mengadakan perlawanan terhadap pasukan Muslimin selama Yazdigird masih berada di tengah-tengah mereka."
Muhammad Husain Haekal dalam bukunya berjudul "Al-Faruq Umar" yang diterjemahkan Ali Audah menjadi "Umar bin Khattab" (PT Pustaka Litera AntarNusa, April 2000) mengisahkan ketika pasukan Arab memasuki Nahawand dan Hamazan, Yazdigird tinggal di Ray.
"Sesudah ia melihat mereka mendekati tempat kediamannya, cepat-cepat ia ke Isfahan untuk membakar semangat warga kota itu agar mengadakan perlawanan," tulis Haekal.
Baca juga: Kisah Pasukan Muslim Menumpas Kekuasaan Para Kisra Persia
Begitu berita ini sampai kepada Umar, ia segera memerintahkan pasukannya berangkat ke Isfahan dengan harapan yang memimpin pertahanan kota itu Yazdigird sendiri supaya kemudian ia dapat ditawan, dan dengan demikian seluruh perlawanan Persia akan hancur.
Ia memerintahkan Abdullah bin Abdullah bin Itban segera berangkat ke sana bersama pasukan Kufah yang dipimpinnya dan pasukan Nu'man bin Muqarrin di Nahawand yang mengikutinya.
Dalam sebuah sumber disebutkan bahwa Umar bin Khattab meminta pendapat Hormuzan dengan mengatakan: "Bagaimana pendapat Anda? Akan saya mulai dengan Persia atau dengan Azerbaijan ataukah dengan Isfahan?"
Jawaban Hormuzan: "Persia dan Azerbaijan keduanya adalah sayap, sedangkan Isfahan kepalanya. Kalau salah satu sayap itu dipotong, sayap yang sebelah lagi masih akan berfungsi; kalau yang dipotong kepalanya kedua sayap itu akan terkulai, maka mulailah dengan kepala."
Khalifah Umar bin Khattab puas dengan pendapatnya itu dan ia memerintahkan gerakan dimulai dari Isfahan.
Isfahan atau Ispahan sebuah kota besar yang dijadikan ibu kota salah satu provinsi di Irak-Persia, terdiri atas dua kota bertetangga: Jay dan Yahudiah. Yang terakhir ini pada mulanya merupakan daerah koloni Yahudi, dibangun oleh Yazdigird I memenuhi keinginan istrinya yang orang Yahudi, Shushandukht (Suzan).
Baca juga: Pertempuran Nahawand Iran: Kisah Matinya Panglima Perang Persia Firozan
Sedangkan Jay merupakan ibu kotanya, terletak di tanah yang subur dan udaranya paling sehat dengan air tawar yang paling sedap.
Lihat Juga :