Penaklukan Fasa dan Darabgird: Kisah Mimpi dan Karamah Khalifah Umar bin Khattab
Kamis, 02 Mei 2024 - 10:28 WIB
loading...
Setelah mencapai markas pasukan Persia di kedua kota itu ia berhasil mengepung dalam waktu yang cukup lama. Ilustrasi: Ist
A
A
A
Suatu ketika Khalifah Umar bin Khattab memerintahkan Abu Musa alĀ-Asy'ari berangkat dari Basrah, dan bergabung dengan pasukan yang dipimpin Utsman bin AbilĀ-As dalam perang penaklukan Persia .
Gabungan pasukan tersebut sama-sama menaklukkan Arrajan dengan jalan damai atas dasar membayar jizyah dan lcharaj. Kemudian keduanya membebaskan Syiraz, juga penduduk akan mendapat jaminan atas dasar kharaj, kecuali mereka yang mau meninggalkan tempat.
Muhammad Husain Haekal dalam bukunya berjudul "Al-Faruq Umar" yang diterjemahkan oleh Ali Audah menjadi "Umar bin Khattab" (PT Pustaka Litera AntarNusa, 2000) mengisahkan bahwa mereka tak boleh dibunuh atau diperbudak.
Sama halnya dengan ketika membebaskan Siniz di kawasan Ardasyir dan mereka biarkan penduduk mengolah tanah sendiri. Kemudian Usman bin Abil-As memasuki Darabgird (Darabjird).
Baca juga: Pertempuran Nahawand Iran: Kisah Matinya Panglima Perang Persia Firozan
Bagi orang Persia tempat ini merupakan pusat ilmu dan agama. Harbaz mengadakan persetujuan dengan mereka atas dasar pembayaran uang yang diberikan kepadanya serta persamaan penduduk dengan yang lain, yang negerinya telah diduduki di Persia. Kemudian perdamaian serupa juga diadakan dengan kota Fasa tak jauh dari Darabgird.
Sumber Balazuri mengenai penaklukan Fasa dan Darabgird berbeda dengan Tabari dan mereka yang mengutip dari dia. Mereka menyebutkan bahwa yang memasuki kedua kota itu Sariah bin Zunain.
Setelah mencapai markas pasukan Persia di kedua kota itu ia berhasil mengepung dalam waktu yang cukup lama. Mereka meminta bala bantuan dan yang datang bergabung kepada mereka orang-orang Kurdi Persia, dan pihak Persia sendiri dari segenap penjuru.
Sesudah dengan kekuatan yang begitu besar tak seimbang dengan kekuatan pasukan Muslimin, keesokan harinya mereka bermaksud melakukan serangan.
Malam itu Umar bin Khattab bermimpi melihat fajar sudah menyingsing dan dimulainya pertempuran, posisi kedua pihak serta jumlah mereka, dan bahwa pasukan Muslimin yang di padang pasir kalau tetap di sana mereka akan dikepung, dan kalau berlindung ke sebuah gunung di sana dan gunung akan berada di belakang mereka, mereka tak akan dapat dijangkau selain dari satu arah.
Gabungan pasukan tersebut sama-sama menaklukkan Arrajan dengan jalan damai atas dasar membayar jizyah dan lcharaj. Kemudian keduanya membebaskan Syiraz, juga penduduk akan mendapat jaminan atas dasar kharaj, kecuali mereka yang mau meninggalkan tempat.
Muhammad Husain Haekal dalam bukunya berjudul "Al-Faruq Umar" yang diterjemahkan oleh Ali Audah menjadi "Umar bin Khattab" (PT Pustaka Litera AntarNusa, 2000) mengisahkan bahwa mereka tak boleh dibunuh atau diperbudak.
Sama halnya dengan ketika membebaskan Siniz di kawasan Ardasyir dan mereka biarkan penduduk mengolah tanah sendiri. Kemudian Usman bin Abil-As memasuki Darabgird (Darabjird).
Baca juga: Pertempuran Nahawand Iran: Kisah Matinya Panglima Perang Persia Firozan
Bagi orang Persia tempat ini merupakan pusat ilmu dan agama. Harbaz mengadakan persetujuan dengan mereka atas dasar pembayaran uang yang diberikan kepadanya serta persamaan penduduk dengan yang lain, yang negerinya telah diduduki di Persia. Kemudian perdamaian serupa juga diadakan dengan kota Fasa tak jauh dari Darabgird.
Sumber Balazuri mengenai penaklukan Fasa dan Darabgird berbeda dengan Tabari dan mereka yang mengutip dari dia. Mereka menyebutkan bahwa yang memasuki kedua kota itu Sariah bin Zunain.
Setelah mencapai markas pasukan Persia di kedua kota itu ia berhasil mengepung dalam waktu yang cukup lama. Mereka meminta bala bantuan dan yang datang bergabung kepada mereka orang-orang Kurdi Persia, dan pihak Persia sendiri dari segenap penjuru.
Sesudah dengan kekuatan yang begitu besar tak seimbang dengan kekuatan pasukan Muslimin, keesokan harinya mereka bermaksud melakukan serangan.
Malam itu Umar bin Khattab bermimpi melihat fajar sudah menyingsing dan dimulainya pertempuran, posisi kedua pihak serta jumlah mereka, dan bahwa pasukan Muslimin yang di padang pasir kalau tetap di sana mereka akan dikepung, dan kalau berlindung ke sebuah gunung di sana dan gunung akan berada di belakang mereka, mereka tak akan dapat dijangkau selain dari satu arah.
Lihat Juga :