Burung-Burung Membicarakan Perjalanan Menuju Simurgh
Sabtu, 22 Agustus 2020 - 05:00 WIB
loading...
A
A
A
Cerita Kecil tentang Bayazid Bistami
Suatu malam ketika Syaikh Bayazid keluar kota, terasa padanya bahwa kesunyian yang dalam meliputi tanah lapang. Bulan menyinari dunia membuat malam seterang siang.
Bintang-bintang berkelompok menurut kecenderungan masing-masing, dan setiap susunan bintang memiliki tugasnya sendiri. Syaikh itu berjalan terus tak melihat sekilas gerak atau seorang pun manusia. (Baca juga: Nuri, Si Penggila Tuhan, dan Khizr )
Hatinya terharu dan ia berkata, "Rabbi, sedih yang menjara mengharu hamba. Mengapa maka istana yang begitu lembut mengesan ini sunyi dari para pemuja yang penuh damba?"
"Tak usah heran," mata suara batin menjawab,
"Raja tak memperkenankan sembarang orang datang ke istana-Nya. Keagungan-Nya tak memungkinkan Dia menerima para petualang di pintunya. Bila tempat-suci keagungan kami melimpahkan kegemilangannya, ia tak menghargai mereka yang pengantuk dan tak peduli. Kau salah seorang di antara seribu yang mohon perkenan dan kau harus menunggu penuh kesabaran." (Baca Juga: Mantiqu't-Thair: Bulbul )
Catatan
Secara harfiah, yang dimaksudkan dengan "bola" di sini (dan juga di tempat-tempat lain dalam buku ini, seperti pada bagian akhir dalam Kisah Syaikh San'an di atas) ialah bola dalam permainan polo berkuda, yang sudah dikenal di Persia Kuno (antara lain dapat kita baca dalam Salaman dan Absal, sebuah karya klasik buah tangan Jami, seorang penyair-sufi Persia, 1414 - 1492 Masehi). Dalam permainan itu, para pemain berkuda, dan bola yang terbuat dari kayu dipukul dengan tongkat-pemukul (mallet).
Secara kias, agaknya yang dimaksud dengan "bola" di sini ialah nasib peruntungan atau lebih luas: hidup. Sedang "tongkat" Pegunungan Kaukasus di sini agaknya ialah kekuasaan Simurgh, karena Pegunungan Kaukasus ialah tempat semayam Simurgh. Maka sebuah parafrase untuk anak kalimat itu agaknya dapat dibuat sebagai berikut: "agar kita dapat menyerahkan nasib peruntungan (hidup) kita pada kekuasaan Simurgh"
Suatu malam ketika Syaikh Bayazid keluar kota, terasa padanya bahwa kesunyian yang dalam meliputi tanah lapang. Bulan menyinari dunia membuat malam seterang siang.
Bintang-bintang berkelompok menurut kecenderungan masing-masing, dan setiap susunan bintang memiliki tugasnya sendiri. Syaikh itu berjalan terus tak melihat sekilas gerak atau seorang pun manusia. (Baca juga: Nuri, Si Penggila Tuhan, dan Khizr )
Hatinya terharu dan ia berkata, "Rabbi, sedih yang menjara mengharu hamba. Mengapa maka istana yang begitu lembut mengesan ini sunyi dari para pemuja yang penuh damba?"
"Tak usah heran," mata suara batin menjawab,
"Raja tak memperkenankan sembarang orang datang ke istana-Nya. Keagungan-Nya tak memungkinkan Dia menerima para petualang di pintunya. Bila tempat-suci keagungan kami melimpahkan kegemilangannya, ia tak menghargai mereka yang pengantuk dan tak peduli. Kau salah seorang di antara seribu yang mohon perkenan dan kau harus menunggu penuh kesabaran." (Baca Juga: Mantiqu't-Thair: Bulbul )
Catatan
Secara harfiah, yang dimaksudkan dengan "bola" di sini (dan juga di tempat-tempat lain dalam buku ini, seperti pada bagian akhir dalam Kisah Syaikh San'an di atas) ialah bola dalam permainan polo berkuda, yang sudah dikenal di Persia Kuno (antara lain dapat kita baca dalam Salaman dan Absal, sebuah karya klasik buah tangan Jami, seorang penyair-sufi Persia, 1414 - 1492 Masehi). Dalam permainan itu, para pemain berkuda, dan bola yang terbuat dari kayu dipukul dengan tongkat-pemukul (mallet).
Secara kias, agaknya yang dimaksud dengan "bola" di sini ialah nasib peruntungan atau lebih luas: hidup. Sedang "tongkat" Pegunungan Kaukasus di sini agaknya ialah kekuasaan Simurgh, karena Pegunungan Kaukasus ialah tempat semayam Simurgh. Maka sebuah parafrase untuk anak kalimat itu agaknya dapat dibuat sebagai berikut: "agar kita dapat menyerahkan nasib peruntungan (hidup) kita pada kekuasaan Simurgh"
(mhy)
Lihat Juga :