Kisah Shalahuddin Al Ayyubi Mengambilalih Kota Hamash dan Humat
Sabtu, 22 Juni 2024 - 12:31 WIB
loading...
A
A
A
Shalahuddin lalu memerintahkannya untuk berangkat menuju Halab guna menyatukan kalimat dalam ta’at kepada Raja Shalih, dan untuk membebaskan Syamsuddin `Ali, Hasan, dan Utsman -putra-putra Ibn al-Dayah- dari penjara. Gourdik pun berangkat ke Halab, dan mengangkat saudaranya sebagai komandan untuk menjaga benteng kota Humat.
Ketika Gourdik tiba di kota Halab, Kamesytakin menangkap dan memenjarakannya. Ketika mengetahui hal tersebut, saudara Gourdik pun akhirnya menyerahkan benteng kepada Shalahuddin.
Setelah menguasai kota Humat, Shalahuddin segera bergerak menuju Halab. Ia mengepung kota ini pada tanggal 3 Jumadil Akhir. Penduduknya melakukan perlawanan terhadap Shalahuddin.
Raja Shalih naik ke mimbar -saat itu ia adalah seorang kanak-kanak berusia 12 tahun, dan mengumpulkan penduduk Halab seraya berkata kepada mereka: “Kalian semua telah mengetahui kebaikan dan rasa cinta ayah saya kepada kalian. Kalian juga telah mengetahui bagaimana kehidupannya di tengah-tengah kalian. Saya adalah anak yatim kalian. Sementara itu si zalim pengkhianat ini datang dengan berbuat baik. Dialah yang mengambil negeriku. Allah dan makhluk-Nya tidak mengawasinya”.
Baca juga: Menunggu Pembebas Al-Aqsha Seperti Umar dan Shalahuddin Al-Ayyubi
Kemudian ia melanjutkan perkataannya: “Berharaplah banyak dari orang ini.” Kemudian ia menangis hingga orang-orang pun menangis dibuatnya. Lalu mereka mengumpulkan untuknya harta dan jiwa, dan bersepakat untuk bertempur membelanya, mempertahankan negerinya, dan bersemangat dalam pertempuran.
Dalam diri mereka telah terkumpul keberanian. Mereka telah menciptakan perang dan mengulanginya ketika dulu Eropa berada dekat dengan mereka.
Mereka keluar dan bertempur melawan Shalahuddin di Gunung Hausyin hingga tidak bisa mendekati kota. Kemudian Sa`duddin mengirim surat kepada Sinan, panglima Isma`iliyyah. Sinan lalu mengumpulkan banyak harta untuk membunuh Shalahuddin dan mengirimkan beberapa orang untuk bergabung dengan pasukan Sa`duddin.
Ketika mereka tiba, salah seorang emir bernama Khamartakin -penguasa benteng Buqays- melihat mereka. Ia mengenal mereka karena bertetangga di kampung halamannya. Ia sering berkumpul dengan dan pergi berperang bersama mereka.
Ketika ia melihat mereka, ia berkata: “Apa yang bisa saya persembahkan untuk kalian, dan untuk urusan apa kalian datang?”
Mereka lalu melukainya dengan luka yang mengenaskan. Kemudian dibawalah seseorang untuk membunuh Shalahuddin, tetapi orang ini malah terbunuh. Lalu orang-orang Isma`iliyyah lainnya pun bertempur hingga terbunuh semuanya. Tinggallah Shalahuddin mengepung Halab sampai akhir Jumadil Akhir, dan kemudian pergi pada awal bulan Rajab.
Baca juga: Kisah Kitab Barzanji, Pemenang Sayembara yang Diselenggarakan Shalahuddin Al-Ayyubi
Ketika Gourdik tiba di kota Halab, Kamesytakin menangkap dan memenjarakannya. Ketika mengetahui hal tersebut, saudara Gourdik pun akhirnya menyerahkan benteng kepada Shalahuddin.
Setelah menguasai kota Humat, Shalahuddin segera bergerak menuju Halab. Ia mengepung kota ini pada tanggal 3 Jumadil Akhir. Penduduknya melakukan perlawanan terhadap Shalahuddin.
Raja Shalih naik ke mimbar -saat itu ia adalah seorang kanak-kanak berusia 12 tahun, dan mengumpulkan penduduk Halab seraya berkata kepada mereka: “Kalian semua telah mengetahui kebaikan dan rasa cinta ayah saya kepada kalian. Kalian juga telah mengetahui bagaimana kehidupannya di tengah-tengah kalian. Saya adalah anak yatim kalian. Sementara itu si zalim pengkhianat ini datang dengan berbuat baik. Dialah yang mengambil negeriku. Allah dan makhluk-Nya tidak mengawasinya”.
Baca juga: Menunggu Pembebas Al-Aqsha Seperti Umar dan Shalahuddin Al-Ayyubi
Kemudian ia melanjutkan perkataannya: “Berharaplah banyak dari orang ini.” Kemudian ia menangis hingga orang-orang pun menangis dibuatnya. Lalu mereka mengumpulkan untuknya harta dan jiwa, dan bersepakat untuk bertempur membelanya, mempertahankan negerinya, dan bersemangat dalam pertempuran.
Dalam diri mereka telah terkumpul keberanian. Mereka telah menciptakan perang dan mengulanginya ketika dulu Eropa berada dekat dengan mereka.
Mereka keluar dan bertempur melawan Shalahuddin di Gunung Hausyin hingga tidak bisa mendekati kota. Kemudian Sa`duddin mengirim surat kepada Sinan, panglima Isma`iliyyah. Sinan lalu mengumpulkan banyak harta untuk membunuh Shalahuddin dan mengirimkan beberapa orang untuk bergabung dengan pasukan Sa`duddin.
Ketika mereka tiba, salah seorang emir bernama Khamartakin -penguasa benteng Buqays- melihat mereka. Ia mengenal mereka karena bertetangga di kampung halamannya. Ia sering berkumpul dengan dan pergi berperang bersama mereka.
Ketika ia melihat mereka, ia berkata: “Apa yang bisa saya persembahkan untuk kalian, dan untuk urusan apa kalian datang?”
Mereka lalu melukainya dengan luka yang mengenaskan. Kemudian dibawalah seseorang untuk membunuh Shalahuddin, tetapi orang ini malah terbunuh. Lalu orang-orang Isma`iliyyah lainnya pun bertempur hingga terbunuh semuanya. Tinggallah Shalahuddin mengepung Halab sampai akhir Jumadil Akhir, dan kemudian pergi pada awal bulan Rajab.
Baca juga: Kisah Kitab Barzanji, Pemenang Sayembara yang Diselenggarakan Shalahuddin Al-Ayyubi
Lihat Juga :