Kisah Amr bin Ash Berusaha Menguasai Benteng Umm Dunain dan Babilon
Selasa, 25 Juni 2024 - 13:06 WIB
loading...
A
A
A
Di padang pasir bagian barat yang sudah kabur terletak antara Memphis dengan al-Jizah, bersambung dengan serangkaian piramid yang mempunyai keagungan dan kebesarannya sendiri, sambung-menyambung sampai ke piramid Khufu dan kedua piramid di dekatnya, serta Sphink yang mendekam di bawahnya menatap dengan mata menyorot ke tempat matahari terbit. Semua itu tegak berhadapan dengan benteng-benteng Babilon dan Umm Dunain.
Pasukan Muslimin berhenti tak jauh dari Umm Dunain. Mereka terperangah melihat pemandangan Sungai Nil dengan ketujuh anak sungainya serta kesuburan yang begitu marak di sekitarnya, pohon-pohon musim semi, tumbuhan hijau segar oleh siraman air di atas tanah dengan hiasan yang begitu menarik bagaikan pemandangan surga.
Baca juga: Kisah 4.000 Orang Pasukan Amr bin Ash Menerobos Farama, Pasukan Romawi Mundur
Akan tetapi perhatian mereka segera berpindah dari semua itu ke bentengĀ-benteng yang berdiri tegak di depan mereka. Mereka sudah tahu bahwa pihak Romawi sudah mengadakan persiapan untuk menghadapi semua itu, karena mereka yakin bahwa bentengĀ-benteng itu adalah tempat perlindungan mereka.
Kalau benteng-benteng itu dapat diterobos, maka mereka tak akan lagi dapat bertahan. Pasukan biasa. Mereka memberikan bala bantuan untuk benteng Umm Dunain dengan persenjataan yang cukup tangguh dan sudah siap berperang, sudah tak dapat diragukan lagi.
Itulah perang hidup atau mati: Memukul mundur pasukan Arab, atau sebagai akibatnya mereka harus berkata seperti kata-kata Heraklius ketika meninggalkan Suriah terakhir kalinya: Selamat tinggal Mesir, selamat tinggal untuk tidak bertemu lagi!
Amr bin As sadar bahwa situasinya kini sangat genting. Dari laporan mata-mata yang dikirimnya ia mengetahui bahwa dengan pasukannya yang ada sekarang ia tak akan mampu menaklukkan atau mengepung benteng Babilon, ia tak akan mampu menaklukkan kota Mesir, yang berada di dekat benteng itu dan dalam perlindungannya.
Akan tetapi ia juga sadar bahwa kalau ia mundur dan tidak menyerang pihak Romawi, akan melemahkan kedudukannya dan mematahkan semangat anak buahnya.
Sebaliknya, pihak musuh akan bertambah kuat dengan akibat ia sendiri dan pasukannya akan terpukul mundur. Ia tidak ingin mengalami akibat yang demikian.
Baca juga: Profil dan Biografi Amr bin Ash, Sahabat Nabi yang Sukses Menaklukkan Mesir
Dia sendiri yang mendesak untuk menaklukkan Mesir, dan ia yakin tak lama lagi Amirulmukminin akan mengirimkan bala bantuan. Mau tak mau ia harus mempertaruhkan diri sampai mencapai kemenangan.
Kala itu, ia harus pandai memancing untuk mengulur waktu sampai nanti datang bala bantuan. Kalaupun benteng Babilon belum dapat ditembus, maka ia harus mengepung benteng Umm Dunain.
Ia harus berusaha sekuat tenaga untuk menaklukkannya. Kalau sudah dapat ia kuasai, kapal-kapal yang membuang jangkar di pelabuhannya akan berada di bawah kekuasaannya. Ia akan mampu mengatur dan menyusun strategi sendiri.
Amr harus waspada untuk tidak terlalu mengerahkan anak buahnya atau akan menjerumuskannya ke dalam bahaya. Ia harus meminta Amirulmukminin agar lebih mempercepat bala bantuan untuk menanamkan harapan yang lebih besar dalam hati pasukannya.
Untuk itu ia mengutus orang ke Madinah membawa surat dengan laporan yang melukiskan perjalanannya ke Mesir itu serta situasi menghadapi benteng-bentengnya. Perlu sekali ia mendapat bala bantuan supaya dapat menerobosnya.
Kemudian ia mengumumkan kepada pasukannya bahwa bala bantuan sudah hampir tiba. Sesudah itu ia melangkah maju ke Umm Dunain dan mulai mengadakan pengepungan dengan mencegah masuknya pasokan senjata dan bahan makanan ke sana.
Pasukan Muslimin berhenti tak jauh dari Umm Dunain. Mereka terperangah melihat pemandangan Sungai Nil dengan ketujuh anak sungainya serta kesuburan yang begitu marak di sekitarnya, pohon-pohon musim semi, tumbuhan hijau segar oleh siraman air di atas tanah dengan hiasan yang begitu menarik bagaikan pemandangan surga.
Baca juga: Kisah 4.000 Orang Pasukan Amr bin Ash Menerobos Farama, Pasukan Romawi Mundur
Akan tetapi perhatian mereka segera berpindah dari semua itu ke bentengĀ-benteng yang berdiri tegak di depan mereka. Mereka sudah tahu bahwa pihak Romawi sudah mengadakan persiapan untuk menghadapi semua itu, karena mereka yakin bahwa bentengĀ-benteng itu adalah tempat perlindungan mereka.
Kalau benteng-benteng itu dapat diterobos, maka mereka tak akan lagi dapat bertahan. Pasukan biasa. Mereka memberikan bala bantuan untuk benteng Umm Dunain dengan persenjataan yang cukup tangguh dan sudah siap berperang, sudah tak dapat diragukan lagi.
Itulah perang hidup atau mati: Memukul mundur pasukan Arab, atau sebagai akibatnya mereka harus berkata seperti kata-kata Heraklius ketika meninggalkan Suriah terakhir kalinya: Selamat tinggal Mesir, selamat tinggal untuk tidak bertemu lagi!
Amr bin As sadar bahwa situasinya kini sangat genting. Dari laporan mata-mata yang dikirimnya ia mengetahui bahwa dengan pasukannya yang ada sekarang ia tak akan mampu menaklukkan atau mengepung benteng Babilon, ia tak akan mampu menaklukkan kota Mesir, yang berada di dekat benteng itu dan dalam perlindungannya.
Akan tetapi ia juga sadar bahwa kalau ia mundur dan tidak menyerang pihak Romawi, akan melemahkan kedudukannya dan mematahkan semangat anak buahnya.
Sebaliknya, pihak musuh akan bertambah kuat dengan akibat ia sendiri dan pasukannya akan terpukul mundur. Ia tidak ingin mengalami akibat yang demikian.
Baca juga: Profil dan Biografi Amr bin Ash, Sahabat Nabi yang Sukses Menaklukkan Mesir
Dia sendiri yang mendesak untuk menaklukkan Mesir, dan ia yakin tak lama lagi Amirulmukminin akan mengirimkan bala bantuan. Mau tak mau ia harus mempertaruhkan diri sampai mencapai kemenangan.
Kala itu, ia harus pandai memancing untuk mengulur waktu sampai nanti datang bala bantuan. Kalaupun benteng Babilon belum dapat ditembus, maka ia harus mengepung benteng Umm Dunain.
Ia harus berusaha sekuat tenaga untuk menaklukkannya. Kalau sudah dapat ia kuasai, kapal-kapal yang membuang jangkar di pelabuhannya akan berada di bawah kekuasaannya. Ia akan mampu mengatur dan menyusun strategi sendiri.
Amr harus waspada untuk tidak terlalu mengerahkan anak buahnya atau akan menjerumuskannya ke dalam bahaya. Ia harus meminta Amirulmukminin agar lebih mempercepat bala bantuan untuk menanamkan harapan yang lebih besar dalam hati pasukannya.
Untuk itu ia mengutus orang ke Madinah membawa surat dengan laporan yang melukiskan perjalanannya ke Mesir itu serta situasi menghadapi benteng-bentengnya. Perlu sekali ia mendapat bala bantuan supaya dapat menerobosnya.
Kemudian ia mengumumkan kepada pasukannya bahwa bala bantuan sudah hampir tiba. Sesudah itu ia melangkah maju ke Umm Dunain dan mulai mengadakan pengepungan dengan mencegah masuknya pasokan senjata dan bahan makanan ke sana.
Lihat Juga :