Mullah Nashruddin Masuk Jebakan Kepala Biara
Minggu, 23 Agustus 2020 - 11:23 WIB
loading...
A
A
A
Nashruddin, sebagai gelandangan karena banyak rumah kosong, selalu meninggalkan sesuatu -- jika si penghuni bisa mengenalinya.
Dalam sufisme, cara-cara praktis bagi pengajaran adalah penting. Hal ini sebagian karena sufisme merupakan suatu upaya aktif; sebagian karena, meskipun orang-orang menunaikan kebenaran sekadar penghormatan manakala dikatakan kepada mereka, realitas kebenaran biasanya tidak jauh memasuki fakultas diskursif mereka.
Nashruddin tengah menambal atap rumahnya ketika seseorang memanggilnya untuk turun ke jalan. Ketika turun, ia bertanya kepada orang tersebut tentang apa yang ia inginkan.
"Uang," jawabnya.
"Mengapa engkau tidak mengatakannya ketika memanggilku di atas?" ucap Nashruddin.
Baca juga: Mullah Nashruddin: Bagaimana Aku Tahu Apakah Aku Mati atau Hidup?
"Aku malu untuk mengemis."
"Naiklah ke atas!" ucap Nashruddin.
Ketika mereka sampai di atap, Nashruddin mulai meletakkan genteng-genteng itu kembali. Orang tersebut batuk-batuk, dan Nashruddin, tanpa menoleh, lalu berkata, "Aku tidak punya uang untukmu."
"Apa? Anda bisa mengatakannya tanpa harus membawaku ke atas sini!"
"Lantas bagaimana engkau bisa membayarku karena telah membawaku turun?!"
Dalam sufisme, cara-cara praktis bagi pengajaran adalah penting. Hal ini sebagian karena sufisme merupakan suatu upaya aktif; sebagian karena, meskipun orang-orang menunaikan kebenaran sekadar penghormatan manakala dikatakan kepada mereka, realitas kebenaran biasanya tidak jauh memasuki fakultas diskursif mereka.
Nashruddin tengah menambal atap rumahnya ketika seseorang memanggilnya untuk turun ke jalan. Ketika turun, ia bertanya kepada orang tersebut tentang apa yang ia inginkan.
"Uang," jawabnya.
"Mengapa engkau tidak mengatakannya ketika memanggilku di atas?" ucap Nashruddin.
Baca juga: Mullah Nashruddin: Bagaimana Aku Tahu Apakah Aku Mati atau Hidup?
"Aku malu untuk mengemis."
"Naiklah ke atas!" ucap Nashruddin.
Ketika mereka sampai di atap, Nashruddin mulai meletakkan genteng-genteng itu kembali. Orang tersebut batuk-batuk, dan Nashruddin, tanpa menoleh, lalu berkata, "Aku tidak punya uang untukmu."
"Apa? Anda bisa mengatakannya tanpa harus membawaku ke atas sini!"
"Lantas bagaimana engkau bisa membayarku karena telah membawaku turun?!"
Lihat Juga :