Musailamah, Nabi Palsu yang Perkasa karena Didukung Seorang Ahli Al-Qur’an
Selasa, 25 Agustus 2020 - 12:57 WIB
loading...
A
A
A
Pada Tahun Perutusan ia pergi kepada Nabi bersama-sama delegasi Banu Hanifah. Sesudah sampai di Madinah delegasi itu tak mengajaknya bersama-sama menemui Nabi, tapi ia ditinggalkan di kendaraan. Setelah memberi salam Nabi memberikan bingkisan kepada mereka. Mereka menyebut juga ada Musailamah. Lalu dimintanya supaya mereka memberikan juga bingkisan itu kepadanya, seraya katanya ramah: "Sebenarnya dia bukan orang paling jahat di antara kamu", yakni karena ia ditinggalkan di kendaraan teman-temannya.
Baca juga: Debat Khalifah Abu Bakar dengan Umar Bin Khattab Soal Pembangkang Zakat
Orang inikah yang mendakwakan diri nabi di tengah-tengah kaumnya? Karenanya, pada mulanya hanya sedikit orang yang mempercayainya. Suatu mukjizatkah yang membuat ribuan bahkan puluhan ribu orang mengikutinya dalam waktu kurang dari dua tahun? Menurut Haekal, yang memegang peranan hingga banyak yang terbawa menjadi pengikutnya karena adanya permainan dan tipu muslihat seorang tukang sulap.
Di kawasan itu ada seorang laki-laki bernama Nahar ar-Rajjal — atau ar-Rahhal bin Unfuwah. Ia ke Madinah mengikuti Rasulullah. Ia belajar membaca Qur'an, mendalami hukum fikih dan menguasai ajaran-ajaran Islam, karena ia memang pandai dan cerdas. Oleh Rasulullah ia dikirim ke Yamamah untuk mengajarkan Islam di sana. (Baca juga: 11 Brigade Basmi Kaum Murtad, Khalid Bin Walid Pimpin Brigade Pertama )
Di antara mereka terdapat juga Musailamah. Ia memperkuat Muslimin dan bersama-sama mereka mau mengacaukan nabi palsu itu. Tetapi sebenarnya Nahar ini lebih berbahaya bagi Banu Hanifah daripada Musailamah sendiri. Ketika dilihatnya Musailamah banyak pengikutnya, serta merta ia mengakui kenabiannya dan menjadi saksi bahwa Muhammad mengatakan Musailamah adalah sekutunya dalam kenabian.
Apa gerangan kata penduduk Yamamah mengenai ini! Ya, ada pengikut Muhammad yang sudah memberikan kesaksiannya, mengakui kenabian Musailamah, dan yang memberikan kesaksian ini orang yang mengerti, ahli fikih, mengajarkan Qur'an Muhammad kepada mereka, mengajarkan kisah-kisahnya, memperdalam ajaran agamanya dan ia menjadi saksi kenabian Musailamah. (Baca juga: Dendam Perempuan Nabi Palsu dari Banu Tamim )
Tak ada jalan sekarang untuk menolak kebenarannya. Karenanya, orang datang kepada Musailamah berbondong-bondong, percaya bahwa dia utusan Allah kepada Banu Hanifah. Dengan begitu jalan buat dia terbuka dan apa pun yang dikehendakinya tersedia di hadapannya.
Haekal mengatakan kepercayaan sepenuhnya dapat diberikan oleh Musailamah kepada Nahar ar-Rajjal ini, dan segala yang ingin ditiru dari Muhammad dapat terlaksana. Untuk itu, Nahar pun dapat memperoleh segala kesenangan dunia yang diinginkannya. “Kalau ulama dan ahli-ahli Qur'an sudah tunduk pada kesenangan, dan menyerahkan ilmunya di bawah kekuasaan orang yang menguasai kesenangan, celakalah ilmu dan agama, celakalah kebenaran!” tutur Haekal. (Baca juga: Beda Haluan Politik antara Umar bin Khattab dan Abu Bakar )
Selanjutnya, Haekal menjelaskan kita tak perlu mempertanyakan bagaimana orang-orang yang berpikir sehat di kalangan Musailamah itu sampai menjadi pengikutnya. Kita tahu fanatisma Arab dan kabilah-kabilahnya yang begitu kukuh hendak bertahan pada kebebasan.
Disebutkan bahwa ketika Tulaihah an-Nimari datang ke Yamamah dan berkata: "Mana Musailamah?" mendapat jawaban: "He, rasulullah." (Baca juga: Kisah Konsolidasi Nabi-Nabi Palsu di Era Khalifah Abu Bakar )
Baca juga: Debat Khalifah Abu Bakar dengan Umar Bin Khattab Soal Pembangkang Zakat
Orang inikah yang mendakwakan diri nabi di tengah-tengah kaumnya? Karenanya, pada mulanya hanya sedikit orang yang mempercayainya. Suatu mukjizatkah yang membuat ribuan bahkan puluhan ribu orang mengikutinya dalam waktu kurang dari dua tahun? Menurut Haekal, yang memegang peranan hingga banyak yang terbawa menjadi pengikutnya karena adanya permainan dan tipu muslihat seorang tukang sulap.
Di kawasan itu ada seorang laki-laki bernama Nahar ar-Rajjal — atau ar-Rahhal bin Unfuwah. Ia ke Madinah mengikuti Rasulullah. Ia belajar membaca Qur'an, mendalami hukum fikih dan menguasai ajaran-ajaran Islam, karena ia memang pandai dan cerdas. Oleh Rasulullah ia dikirim ke Yamamah untuk mengajarkan Islam di sana. (Baca juga: 11 Brigade Basmi Kaum Murtad, Khalid Bin Walid Pimpin Brigade Pertama )
Di antara mereka terdapat juga Musailamah. Ia memperkuat Muslimin dan bersama-sama mereka mau mengacaukan nabi palsu itu. Tetapi sebenarnya Nahar ini lebih berbahaya bagi Banu Hanifah daripada Musailamah sendiri. Ketika dilihatnya Musailamah banyak pengikutnya, serta merta ia mengakui kenabiannya dan menjadi saksi bahwa Muhammad mengatakan Musailamah adalah sekutunya dalam kenabian.
Apa gerangan kata penduduk Yamamah mengenai ini! Ya, ada pengikut Muhammad yang sudah memberikan kesaksiannya, mengakui kenabian Musailamah, dan yang memberikan kesaksian ini orang yang mengerti, ahli fikih, mengajarkan Qur'an Muhammad kepada mereka, mengajarkan kisah-kisahnya, memperdalam ajaran agamanya dan ia menjadi saksi kenabian Musailamah. (Baca juga: Dendam Perempuan Nabi Palsu dari Banu Tamim )
Tak ada jalan sekarang untuk menolak kebenarannya. Karenanya, orang datang kepada Musailamah berbondong-bondong, percaya bahwa dia utusan Allah kepada Banu Hanifah. Dengan begitu jalan buat dia terbuka dan apa pun yang dikehendakinya tersedia di hadapannya.
Haekal mengatakan kepercayaan sepenuhnya dapat diberikan oleh Musailamah kepada Nahar ar-Rajjal ini, dan segala yang ingin ditiru dari Muhammad dapat terlaksana. Untuk itu, Nahar pun dapat memperoleh segala kesenangan dunia yang diinginkannya. “Kalau ulama dan ahli-ahli Qur'an sudah tunduk pada kesenangan, dan menyerahkan ilmunya di bawah kekuasaan orang yang menguasai kesenangan, celakalah ilmu dan agama, celakalah kebenaran!” tutur Haekal. (Baca juga: Beda Haluan Politik antara Umar bin Khattab dan Abu Bakar )
Selanjutnya, Haekal menjelaskan kita tak perlu mempertanyakan bagaimana orang-orang yang berpikir sehat di kalangan Musailamah itu sampai menjadi pengikutnya. Kita tahu fanatisma Arab dan kabilah-kabilahnya yang begitu kukuh hendak bertahan pada kebebasan.
Disebutkan bahwa ketika Tulaihah an-Nimari datang ke Yamamah dan berkata: "Mana Musailamah?" mendapat jawaban: "He, rasulullah." (Baca juga: Kisah Konsolidasi Nabi-Nabi Palsu di Era Khalifah Abu Bakar )
Lihat Juga :