Benarkah Bulan Safar Identik dengan Kesialan?
Rabu, 31 Juli 2024 - 11:21 WIB
loading...
Dalam pandangan Islam, sebenarnya semua bulan sama dan tidak ada kesialan-kesialan dalam Islam. Di setiap bulan selalu ada kebaikan dan juga keburukan yang terjadi. Foto ilustrasi/ist
A
A
A
Benarkah bulan Safar adalah bulan kesialan atau selalu diindetikan dengan kesialan? Bagaimana dalam pandangan Islam tentang 'kesialan-kesialan ini?
Seperti diketahui, dalam waktu dekat, umat Islam akan memasuki bulan kedua dalam kalender hijriah yakni bulan Safar . Penamaan safar sendiri sangat terkait dengan keadaan mamsyarakat Arab jahiliyah dahulu.
Safar memiliki arti “sepi” atau “sunyi” sesuai keadaan masyarakat Arab pada zaman dahulu yang yang selalu sepi pada bulan Safar. Sepi dalam arti senyapnya rumah-rumah mereka karena orang-orang keluar meninggalkan rumah untuk perang dan bepergian.
Mengutip pendapat Imam Ibnu Katsir (wafat 774 H) di laman NU Online, beliau menjelaskan:
Artinya : Safar dinamakan dengan nama tersebut, karena sepinya rumah-rumah mereka dari mereka, ketika mereka keluar untuk perang dan bepergian (Tafsîrubnu Katsîr, [Dârut Thayyibah, 1999], juz IV, halaman 146).
Sementara Ibnu Manzhur (wafat 771 H), menyampaikan alasan yang lebih lengkap. Menurutnya, ada beberapa alasan mendasar di balik penamaan bulan Safar, di antaranya:
1. Sama seperti penjelasan Ibnu Katsir, yaitu sepinya rumah-rumah orang Arab.
2. Oang Arab memiliki kebiasaan memanen semua tanaman yang mereka tanam, dan mengosongkan tanah-tanah mereka dari tanaman pada bulan Safar.
3. Pada Safar orang Arab memiliki kebiasaan memerangi setiap kabilah yang datang, sehingga kabilah-kabilah tersebut harus pergi tanpa bekal (kosong) karena mereka tinggalkan akibat rasa takut pada serangan orang Arab.
Akan tetapi di dalam pandangan Islam, sebenarnya semua bulan sama dan tidak ada kesialan-kesialan dalam Islam. Seperti disampaikan Ibnu Rajab al-Hanbali (wafat 795 H), bulan Safar dan bulan lainnya tidak memiliki perbedaan sama sekali.
Menurutnya sebagaimana dalam bulan lain, dalam bulan Safar dapat terjadi keburukan dan kebaikan. Dengan kata lain, tidak boleh menganggap bulan Safar diyakini sebagai bulan yang dipenuhi dengan kejelekan dan musibah. Beliau menegaskan:
Seperti diketahui, dalam waktu dekat, umat Islam akan memasuki bulan kedua dalam kalender hijriah yakni bulan Safar . Penamaan safar sendiri sangat terkait dengan keadaan mamsyarakat Arab jahiliyah dahulu.
Safar memiliki arti “sepi” atau “sunyi” sesuai keadaan masyarakat Arab pada zaman dahulu yang yang selalu sepi pada bulan Safar. Sepi dalam arti senyapnya rumah-rumah mereka karena orang-orang keluar meninggalkan rumah untuk perang dan bepergian.
Mengutip pendapat Imam Ibnu Katsir (wafat 774 H) di laman NU Online, beliau menjelaskan:
صَفَرْ: سُمِيَ بِذَلِكَ لِخُلُوِّ بُيُوْتِهِمْ مِنْهُمْ، حِيْنَ يَخْرُجُوْنَ لِلْقِتَالِ وَالْأَسْفَارِ
Artinya : Safar dinamakan dengan nama tersebut, karena sepinya rumah-rumah mereka dari mereka, ketika mereka keluar untuk perang dan bepergian (Tafsîrubnu Katsîr, [Dârut Thayyibah, 1999], juz IV, halaman 146).
Sementara Ibnu Manzhur (wafat 771 H), menyampaikan alasan yang lebih lengkap. Menurutnya, ada beberapa alasan mendasar di balik penamaan bulan Safar, di antaranya:
1. Sama seperti penjelasan Ibnu Katsir, yaitu sepinya rumah-rumah orang Arab.
2. Oang Arab memiliki kebiasaan memanen semua tanaman yang mereka tanam, dan mengosongkan tanah-tanah mereka dari tanaman pada bulan Safar.
3. Pada Safar orang Arab memiliki kebiasaan memerangi setiap kabilah yang datang, sehingga kabilah-kabilah tersebut harus pergi tanpa bekal (kosong) karena mereka tinggalkan akibat rasa takut pada serangan orang Arab.
Mengapa Dimitoskan dengan Kesialan?
Di sebagian masyarakat banyak yang menyakini, pada bulan safar akan terjadi musibah yang luar biasa dan akan terjadi cobaan melebihi bulan-bulan lainnya.Akan tetapi di dalam pandangan Islam, sebenarnya semua bulan sama dan tidak ada kesialan-kesialan dalam Islam. Seperti disampaikan Ibnu Rajab al-Hanbali (wafat 795 H), bulan Safar dan bulan lainnya tidak memiliki perbedaan sama sekali.
Menurutnya sebagaimana dalam bulan lain, dalam bulan Safar dapat terjadi keburukan dan kebaikan. Dengan kata lain, tidak boleh menganggap bulan Safar diyakini sebagai bulan yang dipenuhi dengan kejelekan dan musibah. Beliau menegaskan:
وَأَمَّا تَخْصِيْصُ الشُّؤْمِ بِزَمَانٍ دُوْنَ زَمَانٍ كَشَهْرِ صَفَرٍ أَوْ غَيْرِهِ فَغَيْرُ صَحِيْحٍ
Lihat Juga :