Adakah Kesialan dan Buang Sial Menurut Islam?
Rabu, 07 Agustus 2024 - 13:11 WIB
loading...
Pada hakikatnya, kesialan muncul dari maksiat yang dilakukan oleh seorang hamba, baik kepada Rabbnya maupun sesama. Itulah pantangan yang wajib dijauhi oleh setiap insan Muslim. Foto ilustrasi/ist
A
A
A
Dalam keyakinan masyarakat kita, masih ada yang percaya akan kesialan, sampai harus melakukan tradisi buang sial . Lantas adakah kesialan dan buang sial itu dalam Islam? Bagaimana penjelasan dan dalilnya?
Dalam islam, keyakinan-keyakinan seperti itu, merupakan bentuk khurafat (tahayul). Islam yang bertumpu pada tauhid, tidak membenarkannya. Pada hakikatnya, kesialan muncul dari maksiat yang dilakukan oleh seorang hamba, baik kepada Rabbnya maupun sesama. Itulah pantangan yang wajib dijauhi oleh setiap insan Muslim.
Dalam hadis riwayat Ahmad, Nabi Muhammad shallalahu 'alaihi wa sallam bersabda : "Tidak ada yang mampu menolak takdir kecuali doa.”(HR Ahmad)
Sebab, doa yang dipanjatkan pada Allah Ta'ala tentu langsung didengar Allah. Karena Allah Ta'ala sebagai dzat yang maha mengabulkan doa pasti akan mengabulkan permintaan hamba-Nya, baik secara langsung ataupun tidak. Intinya, dalam pandangan Islam tidak ada namanya sial. Nasib tidak baik yang dialami manusia atau lingkungannya merupakan bentuk ujian yang diberikan oleh Allah Ta'ala.
Bahkan merasa bernasib buruk atau sial bisa masuk kategori syirik. Di dalam Islam dinamakan at thatayyur . Contohnya antara lain, adanya keyakinan bahwa dirinya kerap mendatangkan kesialan bagi lingkungannya, sialnya angka 13, dan kepercayaan-kepercayaan yang lain yang diyakini oleh banyak manusia. Semua hal itu hukumnya haram dan termasuk syirik.
Islam memandang at tathayyur ini sebagai perbuatan syirik asgor (syirik kecil). Syirik merupakan dosa yang paling besar. Pelakunya tidak diampuni oleh Allah apabila dia mati dalam keadaan tersebut dan belum sempat bertaubat kepada Allah.
Allah Ta'ala berfirman :
”Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik dan mengampuni dosa yang lain selain syirik bagi siapa saja yang dikehendaki-Nya” (QS. an-Nisa :48).
Allah berfirman dalam Quran Surah Al-a'raf 131 :
"Kemudian apabila datang kepada mereka kemakmuran mereka berkata ini ini adalah karena usaha kami. Dan jika mereka ditimpa kesusahan mereka lemparkan sebab kesialan itu kepada Musa dan orang-orang yang bersamanya." (QS Al A'raf 131)
Dalam sebuah hadis Rasul Sahallalahu 'alaihi wa sallam mengingatkan umatnya dengan sabda beliau :
Dalam islam, keyakinan-keyakinan seperti itu, merupakan bentuk khurafat (tahayul). Islam yang bertumpu pada tauhid, tidak membenarkannya. Pada hakikatnya, kesialan muncul dari maksiat yang dilakukan oleh seorang hamba, baik kepada Rabbnya maupun sesama. Itulah pantangan yang wajib dijauhi oleh setiap insan Muslim.
Dalam hadis riwayat Ahmad, Nabi Muhammad shallalahu 'alaihi wa sallam bersabda : "Tidak ada yang mampu menolak takdir kecuali doa.”(HR Ahmad)
Sebab, doa yang dipanjatkan pada Allah Ta'ala tentu langsung didengar Allah. Karena Allah Ta'ala sebagai dzat yang maha mengabulkan doa pasti akan mengabulkan permintaan hamba-Nya, baik secara langsung ataupun tidak. Intinya, dalam pandangan Islam tidak ada namanya sial. Nasib tidak baik yang dialami manusia atau lingkungannya merupakan bentuk ujian yang diberikan oleh Allah Ta'ala.
Bahkan merasa bernasib buruk atau sial bisa masuk kategori syirik. Di dalam Islam dinamakan at thatayyur . Contohnya antara lain, adanya keyakinan bahwa dirinya kerap mendatangkan kesialan bagi lingkungannya, sialnya angka 13, dan kepercayaan-kepercayaan yang lain yang diyakini oleh banyak manusia. Semua hal itu hukumnya haram dan termasuk syirik.
Islam memandang at tathayyur ini sebagai perbuatan syirik asgor (syirik kecil). Syirik merupakan dosa yang paling besar. Pelakunya tidak diampuni oleh Allah apabila dia mati dalam keadaan tersebut dan belum sempat bertaubat kepada Allah.
Allah Ta'ala berfirman :
إِنَّ اللَّهَ لاَ يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَن يَشَاء
”Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik dan mengampuni dosa yang lain selain syirik bagi siapa saja yang dikehendaki-Nya” (QS. an-Nisa :48).
Dalil At Thatayyur
At thatayyur atau thiyarah yaitu merasa bernasib sial karena sesuatu. Diambil dari kalimat: زَجَرَ الطَّيْرَ (menerbangkan burung). Dalam buku karangan Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid, Thiyarah adalah merasa bernasib sial atau meramal nasib buruk karena melihat burung binatang lainnya atau apa saja.Allah berfirman dalam Quran Surah Al-a'raf 131 :
فَاِذَا جَآءَتۡهُمُ الۡحَسَنَةُ قَالُوۡا لَـنَا هٰذِهٖ ۚ وَاِنۡ تُصِبۡهُمۡ سَيِّئَةٌ يَّطَّيَّرُوۡا بِمُوۡسٰى وَمَنۡ مَّعَهٗ ؕ اَلَاۤ اِنَّمَا طٰٓٮِٕرُهُمۡ عِنۡدَ اللّٰهِ وَلٰـكِنَّ اَكۡثَرَهُمۡ لَا يَعۡلَمُوۡنَ
"Kemudian apabila datang kepada mereka kemakmuran mereka berkata ini ini adalah karena usaha kami. Dan jika mereka ditimpa kesusahan mereka lemparkan sebab kesialan itu kepada Musa dan orang-orang yang bersamanya." (QS Al A'raf 131)
Dalam sebuah hadis Rasul Sahallalahu 'alaihi wa sallam mengingatkan umatnya dengan sabda beliau :
Lihat Juga :