Kisah Harun Al-Rasyid Pamer Kemegahan Istana Abbasiyah kepada Raja Konstantin VII
Senin, 07 Oktober 2024 - 17:52 WIB
loading...
A
A
A
Keluarga bangsawan Persia, yaitu Barmaki menjadi penyokong utama bagi Harun, baik dalam mengelola urusan pemerintahan maupun pengembangan ilmu pengetahuan.
Dalam mengelola urusan pemerintahan, Yahya bin Khalid (dari keluarga Barmaki diangkat Harun menjadi Wazir dan penasihatnya.
Empat orang anaknya, yaitu: Fazal, Ja’far, Musa dan Muhammad diangkat Harun menjadi pejabat negara. Mereka sangat cekatan dan memiliki kemampuan administrasi yang tinggi.
Dalam memajukan ilmu pengetahuan, mereka ini berlomba-lomba memberikan hadiah yang mahal kepada para penyair dan pencipta karya.
Baca juga: Kisah Kegagalan Khalifah Al-Hadi Menyingkirkan Harun Al-Rasyid
Selain itu, pengembangan ilmu pengetahuan dan intelektual di Baghdad dapat ditunjang oleh kesejahteraan hidup para cendekiawan.
Kaum sarjana itu telah dapat berpola hidup mewah. Pola hidup mereka sehari-hari pergi ke pemandian umum. Para pelayan telah siap menimbakan air untuk mereka. Selesai mandi, pergi minum, makan, dan berleha-leha tidur. Habis istirahat dapat membakar wangi-wangian untuk mengharumkan tubuh.
Habis itu dapat memesan makanan malam yang terdiri atas sup daging, roti yang dilengkapi dengan beberapa gelas anggur tua dan buah-buahan.
Menurut Syamruddin Nasution, hal itu untuk ukuran saat itu sudah sangat mewah sebagai gambaran betapa sejahteranya hidup para cendekiawan dan para sarjana saat itu. Tidak mengherankan di tangan merekalah berkembang berbagai cabang ilmu pengetahuan, intelektual, seni, dan agama sekaligus.
Baca juga: Kisah Khalifah Harun Al-Rasyid Menangani Pemberontakan di Sejumlah Wilayah Abbasiyah
Dalam mengelola urusan pemerintahan, Yahya bin Khalid (dari keluarga Barmaki diangkat Harun menjadi Wazir dan penasihatnya.
Empat orang anaknya, yaitu: Fazal, Ja’far, Musa dan Muhammad diangkat Harun menjadi pejabat negara. Mereka sangat cekatan dan memiliki kemampuan administrasi yang tinggi.
Dalam memajukan ilmu pengetahuan, mereka ini berlomba-lomba memberikan hadiah yang mahal kepada para penyair dan pencipta karya.
Baca juga: Kisah Kegagalan Khalifah Al-Hadi Menyingkirkan Harun Al-Rasyid
Selain itu, pengembangan ilmu pengetahuan dan intelektual di Baghdad dapat ditunjang oleh kesejahteraan hidup para cendekiawan.
Kaum sarjana itu telah dapat berpola hidup mewah. Pola hidup mereka sehari-hari pergi ke pemandian umum. Para pelayan telah siap menimbakan air untuk mereka. Selesai mandi, pergi minum, makan, dan berleha-leha tidur. Habis istirahat dapat membakar wangi-wangian untuk mengharumkan tubuh.
Habis itu dapat memesan makanan malam yang terdiri atas sup daging, roti yang dilengkapi dengan beberapa gelas anggur tua dan buah-buahan.
Menurut Syamruddin Nasution, hal itu untuk ukuran saat itu sudah sangat mewah sebagai gambaran betapa sejahteranya hidup para cendekiawan dan para sarjana saat itu. Tidak mengherankan di tangan merekalah berkembang berbagai cabang ilmu pengetahuan, intelektual, seni, dan agama sekaligus.
Baca juga: Kisah Khalifah Harun Al-Rasyid Menangani Pemberontakan di Sejumlah Wilayah Abbasiyah
(mhy)
Lihat Juga :