Ketika Kiai Ahmad Dahlan Dituduh Kafir karena Meniru Sekolah Belanda
Sabtu, 09 November 2024 - 16:23 WIB
loading...
A
A
A
Selanjutnya dalam bidang sarana prasarana Kiai Ahmad Dahlan juga mencontek pendidikan Barat. Jika dulunya pendidikan Islam di pesantren diselenggarakan apa adanya dengan duduk lesehan, kali ini Kiai Ahmad Dahlan membuatnya berbeda.
Baca juga: Kisah KH Hasyim Asy'ari dan KH Ahmad Dahlan, Dua Tokoh Satu Guru
Ia membuat ruang kelas lengkap dengan bangku, meja tulis, dan papan tulis, persis seperti sekolah Belanda.
Demi memenuhi sarana pendidikan tersebut, Kiai Ahmad Dahlan menjual perabotan rumahnya dan mengerjakan sendiri pembuatan mebeler dibantu para muridnya.
Di sinilah terlihat bagaimana dedikasi Kiai Ahmad Dahlan untuk memajukan pendidikan.
"Dalam dunia pendidikan sekarang ini pemenuhan sarana pembelajaran modern merupakan suatu keniscayaan. Akan tetapi, pada masa Kai Ahmad Dahlan penggunaan sarana pembelajaran modern dinilai sebagai perbuatan yang menyimpang dari agama," ujar Mu'ti.
Karena langkahnya itu, menurut Mu'ti, Kiai Ahmad Dahlan dicap sebagai seorang kafir. Penggunaan sarana pendidikan modern dianggap sebagai bentuk peniruan terhadap Belanda yang kafir.
Barang siapa meniru orang kafir maka dia adalah kafir pula. Logika ini didasarkan atas hadis yang menyebutkan: man tsyabbaha biqaumin fahuwa minhum (barangsiapa meniru suatu kaum, maka dia adalah bagian dari mereka).
Pandangan tersebut berbeda dengan prinsip Kiai Ahmad Dahlan. Baginya, sarana pembelajaran dan fasilitas pendidikan adalah alat yang membantu dan mempermudah kegiatan belajar.
Baca juga: Tutup Muktamar ke-48 Muhammadiyah, Wapres Ajak Umat Teladani KH Ahmad Dahlan
Baca juga: Kisah KH Hasyim Asy'ari dan KH Ahmad Dahlan, Dua Tokoh Satu Guru
Ia membuat ruang kelas lengkap dengan bangku, meja tulis, dan papan tulis, persis seperti sekolah Belanda.
Demi memenuhi sarana pendidikan tersebut, Kiai Ahmad Dahlan menjual perabotan rumahnya dan mengerjakan sendiri pembuatan mebeler dibantu para muridnya.
Di sinilah terlihat bagaimana dedikasi Kiai Ahmad Dahlan untuk memajukan pendidikan.
"Dalam dunia pendidikan sekarang ini pemenuhan sarana pembelajaran modern merupakan suatu keniscayaan. Akan tetapi, pada masa Kai Ahmad Dahlan penggunaan sarana pembelajaran modern dinilai sebagai perbuatan yang menyimpang dari agama," ujar Mu'ti.
Karena langkahnya itu, menurut Mu'ti, Kiai Ahmad Dahlan dicap sebagai seorang kafir. Penggunaan sarana pendidikan modern dianggap sebagai bentuk peniruan terhadap Belanda yang kafir.
Barang siapa meniru orang kafir maka dia adalah kafir pula. Logika ini didasarkan atas hadis yang menyebutkan: man tsyabbaha biqaumin fahuwa minhum (barangsiapa meniru suatu kaum, maka dia adalah bagian dari mereka).
Pandangan tersebut berbeda dengan prinsip Kiai Ahmad Dahlan. Baginya, sarana pembelajaran dan fasilitas pendidikan adalah alat yang membantu dan mempermudah kegiatan belajar.
Baca juga: Tutup Muktamar ke-48 Muhammadiyah, Wapres Ajak Umat Teladani KH Ahmad Dahlan
Lihat Juga :