Kisah Bijak Para Sufi: Kandil Besi dan Harta Karun
Rabu, 27 November 2024 - 18:29 WIB
loading...
Ketika ingin ditunjukkannya emas dan perhiasan yang diambilnya itu kepada ibunya, benda-benda tersebut seperti meleleh dan lenyap. Hanya sisa kandil besi itu. Ilustrasi: AI
A
A
A
KONONada seorang janda miskin sedang melihat keluar jendela rumahnya, ketika dilihatnya seorang darwis bersahaja menyusuri jalan. Darwis itu tampak sangat letih, dan jubahnya yang compang-camping sangat kotor. Jelas sekali bahwa darwis itu membutuhkan pertolongan.
Wanita itu pun segera menghampiri sang darwis dan berkata, "Darwis yang mulia, aku tahu bahwasannya engkau adalah salah satu dari Yang Terpilih, tetapi tentu ada saatnya ketika orang biasa seperti saya pun memiliki kesempatan untuk membantu Para Pencari. Datang dan bermalamlah di rumahku, sebab bukankah ada dikatakan: "Barangsiapa menolong Para Sahabat akan ditolong, dan siapa yang menyakiti mereka akan disakiti, meskipun cara dan waktunya adalah suatu misteri."
"Terima kasih, wanita baik," kata darwis itu. Maka, ia pun masuk ke gubuk tersebut. Di sana ia beristirahat selama beberapa hari.
Wanita ini mempunyai seorang anak bernama Abdullah, yang hidupnya begitu-begitu saja sebab ia menghabiskan hampir seluruh waktunya untuk menebang kayu dan menjualnya di pasar setempat. Abdullah tak dapat menambah pengalaman hidupnya yang niscaya bisa digunakannya untuk menolong ibunya dan dirinya sendiri.
Baca juga: Kisah Sufi, Putri yang Tidak Patuh
Darwis itu berkata kepadanya, "Anakku, aku seorang yang berilmu, meskipun tampak tidak berdaya. Tuan, ikutlah aku berkelana dan akan kutunjukkan padamu kesempatan-kesempatan besar. Hal ini tentu bila ibumu setuju."
Ibu Abdullah sangat senang mengizinkan putranya mengadakan perjalanan bersama orang bijak itu, dan mereka pun segera berangkat.
Ketika mereka telah berkelana menyusuri banyak negeri dan mengalami segala hal berdua, darwis itu pun berkata, "Abdullah, kita telah mencapai akhir dari sebuah jalan. Sekarang aku hendak melakukan upacara tertentu yang bila berhasil, akan menyebabkan bumi terbuka dan memunculkan sesuatu yang hanya diberikan pada sedikit orang. Ini adalah harta karun, tersembunyi di sini berpuluh-puluh tahun lamanya. Kau takut?"
Abdullah setuju untuk mencoba, dan berjanji tidak akan panik, apa pun yang terjadi.
Darwis itu pun melakukan gerakan-gerakan aneh, sambil mulutnya komat-kamit, diikuti oleh Abdullah dan bumi terbuka.
Wanita itu pun segera menghampiri sang darwis dan berkata, "Darwis yang mulia, aku tahu bahwasannya engkau adalah salah satu dari Yang Terpilih, tetapi tentu ada saatnya ketika orang biasa seperti saya pun memiliki kesempatan untuk membantu Para Pencari. Datang dan bermalamlah di rumahku, sebab bukankah ada dikatakan: "Barangsiapa menolong Para Sahabat akan ditolong, dan siapa yang menyakiti mereka akan disakiti, meskipun cara dan waktunya adalah suatu misteri."
"Terima kasih, wanita baik," kata darwis itu. Maka, ia pun masuk ke gubuk tersebut. Di sana ia beristirahat selama beberapa hari.
Wanita ini mempunyai seorang anak bernama Abdullah, yang hidupnya begitu-begitu saja sebab ia menghabiskan hampir seluruh waktunya untuk menebang kayu dan menjualnya di pasar setempat. Abdullah tak dapat menambah pengalaman hidupnya yang niscaya bisa digunakannya untuk menolong ibunya dan dirinya sendiri.
Baca juga: Kisah Sufi, Putri yang Tidak Patuh
Darwis itu berkata kepadanya, "Anakku, aku seorang yang berilmu, meskipun tampak tidak berdaya. Tuan, ikutlah aku berkelana dan akan kutunjukkan padamu kesempatan-kesempatan besar. Hal ini tentu bila ibumu setuju."
Ibu Abdullah sangat senang mengizinkan putranya mengadakan perjalanan bersama orang bijak itu, dan mereka pun segera berangkat.
Ketika mereka telah berkelana menyusuri banyak negeri dan mengalami segala hal berdua, darwis itu pun berkata, "Abdullah, kita telah mencapai akhir dari sebuah jalan. Sekarang aku hendak melakukan upacara tertentu yang bila berhasil, akan menyebabkan bumi terbuka dan memunculkan sesuatu yang hanya diberikan pada sedikit orang. Ini adalah harta karun, tersembunyi di sini berpuluh-puluh tahun lamanya. Kau takut?"
Abdullah setuju untuk mencoba, dan berjanji tidak akan panik, apa pun yang terjadi.
Darwis itu pun melakukan gerakan-gerakan aneh, sambil mulutnya komat-kamit, diikuti oleh Abdullah dan bumi terbuka.
Lihat Juga :