Muhammadiyah Dekat dengan Kaum Proletar: Simak Pidato Kiai Ahmad Dahlan
Jum'at, 29 November 2024 - 18:21 WIB
loading...
A
A
A
Wahyu Allah dan sunnah Rasul yang berkaitan dengan masalah serupa yang dipahami secara harfiah menjadi arus utama sosialisasi ajaran Islam.
Ajaran kehidupan duniawi tidak lebih dari sekadar permainan, fata morgana, sesuatu yang sia-sia (laibun wa lahwun atau mataa-ul ghurur), sedang kehidupan yang sesungguhnya baru mulai berlangsung sesudah kematian, lebih dipahami secara harfiah, menjadi doktrin yang taken for granted.
Dalam hubungan inilah, muncul kritik bahwa dakwah, pengajian, khotbah, dan juga pengajaran di bangku-bangku sekolah lebih fokus sebagai “persiapan kematian” daripada “perjuangan hidup”.
Ajaran Islam seolah dipahami menjadi ajaran untuk mati, bukan untuk mempersiapkan diri guna menghadapi dan memecahkan persoalan kehidupan.
Pidato KH Ahmad Dahlan
Dalam pidatonya di Kongres Muhammadiyah Desember 1922, Kiai Ahmad Dahlan menyatakan: “Sesungguhnya tidak ada yang lain dari maksud dan kehendak manusia itu ialah menuju kepada keselamatan dunia dan akhirat. Adapun jalan untuk mencapai maksud dan tujuan manusia tersebut harus dengan mempergunakan akal yang sehat. ...Adapun akal yang sehat itu ialah yang dapat memilih segala hal dengan cermat dan pertimbangan, kemudian memegang teguh hasil pilihannya tersebut."
"Adapun akal manusia mempunyai watak dasar menerima segala pengetahuan, karena pengetahuan bagi akal adalah merupakan kebutuhannya.”
Baca juga: Kiai Hasyim Memanggil Kiai Dahlan dengan Panggilan Mas...
Kiai Ahmad Dahlan selanjutnya menyatakan: “Akal itu bagaikan sebuah biji atau bibit yang terbenam dalam bumi, agar supaya bibit (akal) itu tumbuh dari bumi dan kemudian menjadi pohon yang besar, harus disiangi, disiram secara terus menerus."
"Demikian juga halnya dengan akal manusia, tidak akan tumbuh dan bertambah sempurna apabila tidak disirami dengan pengetahuan."
" ...Setinggi-tingginya pendidikan akal ialah pendidikan dengan Ilmu Mantiq ialah suatu ilmu yang membicarakan sesuatu yang cocok dengan kenyataan sesuatu itu.”
“Selanjutnya, agar akal manusia memperoleh kesempurnaan, dan agar supaya tetap pada keadaannya sebagai akal, harus memenuhi enam hal sebagai berikut:
Baca juga: Pendidikan Muhammadiyah: Kisah KH Ahmad Dahlan Dianggap Muktazilah sampai Murtad
1. Dalam memilih berbagai perkara harus dengan belas kasih. ...
2. Bersungguh-sungguh dalam mencari,...
3. Harus memilih secara jelas dan terang benderang. ...banyak orang yang mencari sesuatu lalu mendapatkan sesuatu yang sesungguhnya harus ditolak karena bertentangan dengan kehendaknya semula, karena mencarinya sesuatu hanya dengan ikut-ikutan ...dan hanya mengikuti adat-istiadat saja.
4. Harus beritikad baik dalam menetapkan pilihan yang dicarinya dan tetap teguh dalam hati ...
5. Harus dipelihara dengan baik barang yang diperolehnya, karena manusia itu bersifat alpa dan lena.
6. Dapat menempatkan sesuatu pada tempatnya, karena segala pengetahuan tidak akan bermanfaat apabila tidak dikerjakan sejalan dengan keadaan.”
Kiai Ahmad Dahlan dalam pidato tersebut menyatakan selanjutnya: “Sesungguhnya pengajaran yang berguna bagi akal manusia itu jauh lebih dibutuhkan oleh manusia daripada makanan yang mengisi perutnya. Pengajaran bagi manusia akan lebih cepat menambah besarnya akal dibandingkan dengan tambah besarnya badan oleh makanan. Sebenarnya mencari harta benda dunia itu lebih payah daripada mencari pengetahuan yang berfaedah dan memperbaiki perbuatan atau sikap dan tindakan.”
Baca juga: Kisah KH Hasyim Asy'ari dan KH Ahmad Dahlan, Dua Tokoh Satu Guru
Ajaran kehidupan duniawi tidak lebih dari sekadar permainan, fata morgana, sesuatu yang sia-sia (laibun wa lahwun atau mataa-ul ghurur), sedang kehidupan yang sesungguhnya baru mulai berlangsung sesudah kematian, lebih dipahami secara harfiah, menjadi doktrin yang taken for granted.
Dalam hubungan inilah, muncul kritik bahwa dakwah, pengajian, khotbah, dan juga pengajaran di bangku-bangku sekolah lebih fokus sebagai “persiapan kematian” daripada “perjuangan hidup”.
Ajaran Islam seolah dipahami menjadi ajaran untuk mati, bukan untuk mempersiapkan diri guna menghadapi dan memecahkan persoalan kehidupan.
Pidato KH Ahmad Dahlan
Dalam pidatonya di Kongres Muhammadiyah Desember 1922, Kiai Ahmad Dahlan menyatakan: “Sesungguhnya tidak ada yang lain dari maksud dan kehendak manusia itu ialah menuju kepada keselamatan dunia dan akhirat. Adapun jalan untuk mencapai maksud dan tujuan manusia tersebut harus dengan mempergunakan akal yang sehat. ...Adapun akal yang sehat itu ialah yang dapat memilih segala hal dengan cermat dan pertimbangan, kemudian memegang teguh hasil pilihannya tersebut."
"Adapun akal manusia mempunyai watak dasar menerima segala pengetahuan, karena pengetahuan bagi akal adalah merupakan kebutuhannya.”
Baca juga: Kiai Hasyim Memanggil Kiai Dahlan dengan Panggilan Mas...
Kiai Ahmad Dahlan selanjutnya menyatakan: “Akal itu bagaikan sebuah biji atau bibit yang terbenam dalam bumi, agar supaya bibit (akal) itu tumbuh dari bumi dan kemudian menjadi pohon yang besar, harus disiangi, disiram secara terus menerus."
"Demikian juga halnya dengan akal manusia, tidak akan tumbuh dan bertambah sempurna apabila tidak disirami dengan pengetahuan."
" ...Setinggi-tingginya pendidikan akal ialah pendidikan dengan Ilmu Mantiq ialah suatu ilmu yang membicarakan sesuatu yang cocok dengan kenyataan sesuatu itu.”
“Selanjutnya, agar akal manusia memperoleh kesempurnaan, dan agar supaya tetap pada keadaannya sebagai akal, harus memenuhi enam hal sebagai berikut:
Baca juga: Pendidikan Muhammadiyah: Kisah KH Ahmad Dahlan Dianggap Muktazilah sampai Murtad
1. Dalam memilih berbagai perkara harus dengan belas kasih. ...
2. Bersungguh-sungguh dalam mencari,...
3. Harus memilih secara jelas dan terang benderang. ...banyak orang yang mencari sesuatu lalu mendapatkan sesuatu yang sesungguhnya harus ditolak karena bertentangan dengan kehendaknya semula, karena mencarinya sesuatu hanya dengan ikut-ikutan ...dan hanya mengikuti adat-istiadat saja.
4. Harus beritikad baik dalam menetapkan pilihan yang dicarinya dan tetap teguh dalam hati ...
5. Harus dipelihara dengan baik barang yang diperolehnya, karena manusia itu bersifat alpa dan lena.
6. Dapat menempatkan sesuatu pada tempatnya, karena segala pengetahuan tidak akan bermanfaat apabila tidak dikerjakan sejalan dengan keadaan.”
Kiai Ahmad Dahlan dalam pidato tersebut menyatakan selanjutnya: “Sesungguhnya pengajaran yang berguna bagi akal manusia itu jauh lebih dibutuhkan oleh manusia daripada makanan yang mengisi perutnya. Pengajaran bagi manusia akan lebih cepat menambah besarnya akal dibandingkan dengan tambah besarnya badan oleh makanan. Sebenarnya mencari harta benda dunia itu lebih payah daripada mencari pengetahuan yang berfaedah dan memperbaiki perbuatan atau sikap dan tindakan.”
Baca juga: Kisah KH Hasyim Asy'ari dan KH Ahmad Dahlan, Dua Tokoh Satu Guru
(mhy)
Lihat Juga :