5 Tips Meraih Kelezatan dalam Ibadah : Nomor 3 Soal Makanan
Selasa, 31 Desember 2024 - 18:21 WIB
loading...
Orang yang jujur dalam ibadahnya maka akan merasakan kelezatan di dalamnya. Foto ilustrasi/istimewa
A
A
A
Ketika seseorang melakukan ibadah , tapi dia memikirkan sesuatu selain Allah Ta'ala dan rasul-Nya dalam ibadahnya, maka dijamin dia tidak akan menemukan kelezatan atau kenikmatan dalam ibadah nya. Dirinya mengaku cinta Allah dan rasul-Nya, tapi saat bersamaan dia berlebih-lebihan dalam mencintai hartanya, mencintai profesinya, berlebihan memikirkan kecintaan pada keluarganya, dan lain sebagainya.
Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Akanmerasakanmanisnyaiman, seorang yangridhaAllah sebagai Rabbnya, Islam sebagai agamanya, dan Muhammadshallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai rasul.”(HR. Muslim).
Hadis tersebut menegaskan bahwa hanya kecintaan pada Allah dan rasul-Nya lah yang akan memunculkan rasa lezat dan manisnya ibadah.
Al-Imam Ibnul Qayyimrahimahullahpernah menukil perkataan gurunya, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyahrahimahullahdalam kitab Madarijus Saalikin, bahwa jika seseorang tidak mendapatkan kelezatan dan kebahagiaan pada amalan yang dia kerjakan maka orang itu harus curiga (dengan amalanmu), karena Rabb (Allah) Ta’ala itu adalah yang Maha Mensyukuri.
Maksudnya, adalah Allah pasti memberi bagi orang yang beramal dengan balasan di dunia dari kenikmatan-kenikmatan yang ia dapat temukan di dalam hatinya, besarnya kebahagian dan kesejukan pandangan. Dan sekiranya ia belum mendapatkan semua itu, maka pasti ada kekurangan pada amalannya.
Dengan kata lain, jika seseorang benar ibadahnya maka Allah pasti memberikan kelezatan pada ibadahnya. Karena Allah menjanjikan banyak kebaikan di dalamnya.
Allah berfirman :
“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam Keadaan beriman, Maka Sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan Sesungguhnya akan Kami beri Balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.”(QS. An Nahl : 97)
Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Akanmerasakanmanisnyaiman, seorang yangridhaAllah sebagai Rabbnya, Islam sebagai agamanya, dan Muhammadshallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai rasul.”(HR. Muslim).
Hadis tersebut menegaskan bahwa hanya kecintaan pada Allah dan rasul-Nya lah yang akan memunculkan rasa lezat dan manisnya ibadah.
Al-Imam Ibnul Qayyimrahimahullahpernah menukil perkataan gurunya, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyahrahimahullahdalam kitab Madarijus Saalikin, bahwa jika seseorang tidak mendapatkan kelezatan dan kebahagiaan pada amalan yang dia kerjakan maka orang itu harus curiga (dengan amalanmu), karena Rabb (Allah) Ta’ala itu adalah yang Maha Mensyukuri.
Maksudnya, adalah Allah pasti memberi bagi orang yang beramal dengan balasan di dunia dari kenikmatan-kenikmatan yang ia dapat temukan di dalam hatinya, besarnya kebahagian dan kesejukan pandangan. Dan sekiranya ia belum mendapatkan semua itu, maka pasti ada kekurangan pada amalannya.
Dengan kata lain, jika seseorang benar ibadahnya maka Allah pasti memberikan kelezatan pada ibadahnya. Karena Allah menjanjikan banyak kebaikan di dalamnya.
Allah berfirman :
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam Keadaan beriman, Maka Sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan Sesungguhnya akan Kami beri Balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.”(QS. An Nahl : 97)
Lihat Juga :