Dai Ambassador Dompet Dhuafa Hadapi Perbedaan Perhitungan Zakat di Australia
Sabtu, 22 Maret 2025 - 19:26 WIB
loading...
A
A
A
Saya mengangguk, menyadari bahwa perbedaan ini bukan sekadar angka, tetapi bagian dari ijtihad ulama setempat untuk memastikan zakat dapat lebih banyak membantu mereka yang membutuhkan.
Tak sampai di situ, saya juga diperkenalkan dengan cara masyarakat muslim di Australia membayar zakat fitrah.
Apabila di Indonesia zakat fitrah umumnya dikeluarkan dalam bentuk beras seberat 2,5 hingga 3,5 kg atau senilai uang yang disesuaikan dengan harga beras tersebut, maka di Australia zakat fitrah tahun ini telah ditetapkan sekitar 20 dolar Australia per orang.
“Bukan hanya zakat mal, bahkan zakat fitrah pun punya perhitungan yang berbeda,” pikir saya.
Masalah zakat fitrah ini ternyata memang memiliki perbedaan cara perhitungannya antarnegara. Di Indonesia, zakat fitrah sering dihitung dalam bentuk beras yang merupakan makanan pokok mayoritas penduduk, dengan biaya yang sekitar Rp30 ribu hingga Rp45 ribu per orang, sesuai harga beras yang berlaku.
Sementara di Australia, karena perbedaan harga barang pokok dan biaya hidup yang lebih tinggi, zakat fitrah ditetapkan sekitar 20 dolar Australia per orang, setara dengan sekitar Rp200 ribu.
Pendapat ulama di Australia cenderung menetapkan zakat fitrah dalam bentuk uang yang setara dengan kebutuhan pokok setempat. Pendekatan ini dibuat untuk memastikan agar zakat lebih tepat sasaran dan dapat membantu mereka yang membutuhkan sesuai dengan kondisi ekonomi lokal.
Perbedaan dalam perhitungan zakat fitrah bukanlah sesuatu yang memecah belah, melainkan mencerminkan fleksibilitas Islam dalam menyesuaikan diri dengan berbagai keadaan, dengan tujuan utama tetap untuk membersihkan harta dan memberi manfaat bagi yang membutuhkan.
Sebagaimana pendapat Imam Abu Hanifah yang membolehkan pembayaran zakat fitrah dengan uang, hal ini dianggap lebih praktis dan bermanfaat bagi penerima zakat untuk memenuhi kebutuhannya sesuai dengan kondisi zaman dan tempat.
Pengalaman dakwah di Australia membuka mata saya bahwa setiap wilayah memiliki kebijakan zakat yang disesuaikan dengan konteksnya. Ini bukan sekadar perbedaan teknis, tetapi bukti keluasan Islam dalam mengakomodasi keberagaman.
Islam mengajarkan bahwa dalam perbedaan ada hikmah, dan pelajaran pertama saya di Australia datang dari bagaimana zakat dipraktikkan dengan mempertimbangkan kondisi setempat.
Tak sampai di situ, saya juga diperkenalkan dengan cara masyarakat muslim di Australia membayar zakat fitrah.
Apabila di Indonesia zakat fitrah umumnya dikeluarkan dalam bentuk beras seberat 2,5 hingga 3,5 kg atau senilai uang yang disesuaikan dengan harga beras tersebut, maka di Australia zakat fitrah tahun ini telah ditetapkan sekitar 20 dolar Australia per orang.
“Bukan hanya zakat mal, bahkan zakat fitrah pun punya perhitungan yang berbeda,” pikir saya.
Masalah zakat fitrah ini ternyata memang memiliki perbedaan cara perhitungannya antarnegara. Di Indonesia, zakat fitrah sering dihitung dalam bentuk beras yang merupakan makanan pokok mayoritas penduduk, dengan biaya yang sekitar Rp30 ribu hingga Rp45 ribu per orang, sesuai harga beras yang berlaku.
Sementara di Australia, karena perbedaan harga barang pokok dan biaya hidup yang lebih tinggi, zakat fitrah ditetapkan sekitar 20 dolar Australia per orang, setara dengan sekitar Rp200 ribu.
Pendapat ulama di Australia cenderung menetapkan zakat fitrah dalam bentuk uang yang setara dengan kebutuhan pokok setempat. Pendekatan ini dibuat untuk memastikan agar zakat lebih tepat sasaran dan dapat membantu mereka yang membutuhkan sesuai dengan kondisi ekonomi lokal.
Perbedaan dalam perhitungan zakat fitrah bukanlah sesuatu yang memecah belah, melainkan mencerminkan fleksibilitas Islam dalam menyesuaikan diri dengan berbagai keadaan, dengan tujuan utama tetap untuk membersihkan harta dan memberi manfaat bagi yang membutuhkan.
Sebagaimana pendapat Imam Abu Hanifah yang membolehkan pembayaran zakat fitrah dengan uang, hal ini dianggap lebih praktis dan bermanfaat bagi penerima zakat untuk memenuhi kebutuhannya sesuai dengan kondisi zaman dan tempat.
Pengalaman dakwah di Australia membuka mata saya bahwa setiap wilayah memiliki kebijakan zakat yang disesuaikan dengan konteksnya. Ini bukan sekadar perbedaan teknis, tetapi bukti keluasan Islam dalam mengakomodasi keberagaman.
Islam mengajarkan bahwa dalam perbedaan ada hikmah, dan pelajaran pertama saya di Australia datang dari bagaimana zakat dipraktikkan dengan mempertimbangkan kondisi setempat.
(shf)
Lihat Juga :