Jadikan Anak 'Periwayat' yang Baik Amalan Orang Tuanya
Senin, 21 September 2020 - 14:30 WIB
loading...
A
A
A
‘Seorang bayi tidak dilahirkan (ke dunia ini) melainkan ia berada dalam kesucian (fitrah). Kemudian kedua orang tuanyalah yang akan membuatnya menjadi Yahudi, Nashrani, ataupun Majusi -sebagaimana hewan yang dilahirkan dalam keadaan selamat tanpa cacat. Maka, apakah kalian merasakan adanya cacat? ‘ kemudian beliau membaca firman Allah yang berbunyi: ‘…tetaplah atas fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrahnya itu. Tidak ada perubahan atas fitrah Allah.’ (QS: Ar Ruum (30): 30). (HR. Bukhari)
(Baca juga : Inilah Masjid Terbaik Bagi Muslimah )
Hadis ini mudah dipahami. Karena memang anak lebih banyak waktu dengan orang tua dibandingkan dengan di sekolah, lingkungan bermain, sepanjang malam mereka bersama orang tua. Pada hadis di atas, bukan hanya aktifitas keseharian, perkataan dan perbuatan, bahkan agama sekalipun orang tua mampu mengubah dan menggantinya.
Di rumah, anak menerima pembelajaran (riwayat) ilmu pertamanya. Aktifitas mereka pun sangat kompleks. Mereka melakukan aktivitas penuh pengulangan, mulai dari bangun tidur hingga tidur lagi. Hal ini dilakukan hari demi hari. Bulan demi bulan hingga berganti tahun. Bersama orang tua mereka anak melakukan aktifitas ruh, fisik, keterampilan, bahkan ibadah seperti salat, puasa dan ibadah lainnya.
Anak-anak bisa mempraktikkan majelis ilmu, adab, tadabbur ayat-ayat Al-Qur’an, latihan sedekah, doa-doa harian, dan seterusnya. Karena itulah, semua aktifitas akan terekam kuat oleh anak (dhabit). Orang tua adalah guru utamanya saat di rumah.
(Baca juga : Istana Tegaskan Pilkada 2020 Dilaksanakan Sesuai Jadwal )
Kemudian, mereka pun akan sangat menurut pada gurunya ketika dia sudah bersekolah. Banyak contoh, guru sebagai 'orang' yang sangat berperan dalam kehidupan keilmuan anak pula. Lihat betapa banyak ahli hadis meriwayatkan dari gurunya.
Tak sedikit anak-anak kita meniru bahkan lebih tunduk pada gurunya. Betapa banyak para ulama dalam biografi-biografinya juga terpengaruh oleh gurunya bahkan meneruskan bidang keilmuan gurunya.
Di dalam Kitab Ta’lim, Sultan Iskandar Dzulqarnain pernah ditanya, mengapa engkau lebih menghormati guru dibandingkan ayahmu?
لان ابى انزلنى من السماء الى الارض واستاذى يرفعنى من الارض الى السماء
(Baca juga : Inilah Masjid Terbaik Bagi Muslimah )
Hadis ini mudah dipahami. Karena memang anak lebih banyak waktu dengan orang tua dibandingkan dengan di sekolah, lingkungan bermain, sepanjang malam mereka bersama orang tua. Pada hadis di atas, bukan hanya aktifitas keseharian, perkataan dan perbuatan, bahkan agama sekalipun orang tua mampu mengubah dan menggantinya.
Di rumah, anak menerima pembelajaran (riwayat) ilmu pertamanya. Aktifitas mereka pun sangat kompleks. Mereka melakukan aktivitas penuh pengulangan, mulai dari bangun tidur hingga tidur lagi. Hal ini dilakukan hari demi hari. Bulan demi bulan hingga berganti tahun. Bersama orang tua mereka anak melakukan aktifitas ruh, fisik, keterampilan, bahkan ibadah seperti salat, puasa dan ibadah lainnya.
Anak-anak bisa mempraktikkan majelis ilmu, adab, tadabbur ayat-ayat Al-Qur’an, latihan sedekah, doa-doa harian, dan seterusnya. Karena itulah, semua aktifitas akan terekam kuat oleh anak (dhabit). Orang tua adalah guru utamanya saat di rumah.
(Baca juga : Istana Tegaskan Pilkada 2020 Dilaksanakan Sesuai Jadwal )
Kemudian, mereka pun akan sangat menurut pada gurunya ketika dia sudah bersekolah. Banyak contoh, guru sebagai 'orang' yang sangat berperan dalam kehidupan keilmuan anak pula. Lihat betapa banyak ahli hadis meriwayatkan dari gurunya.
Tak sedikit anak-anak kita meniru bahkan lebih tunduk pada gurunya. Betapa banyak para ulama dalam biografi-biografinya juga terpengaruh oleh gurunya bahkan meneruskan bidang keilmuan gurunya.
Di dalam Kitab Ta’lim, Sultan Iskandar Dzulqarnain pernah ditanya, mengapa engkau lebih menghormati guru dibandingkan ayahmu?
لان ابى انزلنى من السماء الى الارض واستاذى يرفعنى من الارض الى السماء
Lihat Juga :