Terlalu Kuantitatif Soal Rezeki?

loading...
Terlalu Kuantitatif Soal Rezeki?
KIta biasanya terlalu berhitung soal rezeki hanya dari satu pintu saja, dan terluput menghitung rezeki yang diberikan oleh Allah tak henti-henti dari pintu-pintu yang lain. Foto ilustrasi/ist
Muslimah, sebagai seorang istri mungkin kita pernah terlalu kuantitatif dalam menghitung rezeki . Kita hanya menghitung jumlah yang kita dapatkan dari satu pintu rezeki saja misalnya dari gaji suami, kemudian lupa mensyukuri keberkahan di balik jumlah yang sedikit itu. Dan, terluput menghitung rezeki yang diberikan oleh Allah tak henti-henti dari pintu-pintu yang lain.

Padahal Allah Ta'ala juga mengaruniakan kepada setiap orang jasad yang sehat yang dengannya kita dapat beraktifitas . Allah juga menempatkan kita di tempat berteduh yang menyenangkan walaupun hanya mengontrak rumah petak dan pemilik rumahnya yang baik dan jujur . Tangan yang sehat untuk mencuci, daripada hanya membayangkan mesin cuci yang tak kunjung dibeli. Atau nikmat lainnya yang tiap hari kita rasakan, daripada sibuk membayangkan jumlah celengan kita sampai berapa.

Sanggupkah kita menukar jumlah yang sedikit dengan hal-hal yang tak ternilai harganya? Karena itu, bersyukurlah. Syukur adalah salah satu inti kebahagiaan .

(Baca juga : Zainab binti Jahsy : Memilih Berkarier untuk Terus Bersedekah )

Tak kurang kiranya keutamaan syukur , hingga Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab mendoakan di awal kitab beliau, Al-Qawa’idul Arba’,



أسأل الله الكريم رب العرش العظيم أن يتولاك في الدنيا والآخرة، وأن يجعلك مباركا أينما كنت، وأن يجعلك ممن إذا أعطي شكر، وإذا ابتلي صبر، وإذا أذنب استغفر، فإن هذه الثلاث عنوان السعادة

Saya memohon kepada Allah yang Mahamulia, Rabb yang Maha Agung, pemilik ‘arsy.
Semoga Dia menjagamu di dunia dan di akhirat.
Semoga Dia menjadikanmu penuh berkah di mana pun engkau berada.
Semoga Dia menjadikanmu orang yang selalu bersyukur ketika diberi rezeki, selalu bersabar ketika diuji, dan selalu ber-istigfar bila berbuat dosa.
Karena tiga hal itu adalah inti kebahagiaan.”

(Baca juga : Hati-hati dengan Lisan, Jangan Sembarangan Menuduh Zina )

Muslimah, sudah saatnya kita berhenti “terlalu kuantitatif” dalam menghitung rezeki yang dilimpahkan Allah untuk kita. Ingatlah, sebanyak apa pun jari yang kita gunakan untuk menghitung rezeki dari Allah, kita tak akan sanggup. Kita tak akan sanggup menghitungnya.

Berusahalah untuk selalu bersyukur, dan mohonlah hidayah dari Allah agar Dia berkenan membantu kita agar selalu bersyukur.

اَلَّلهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

“Ya Allah, bantulah aku agar selalu berzikir kepada-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah dengan baik kepada-Mu.” (HR. Abu Daud dan An-Nasa’i, hadis shahih)

(Baca juga : Hati-hati, Ternyata Panca Indera pun Bisa Melakukan Zina )

Jangan Kufur Nikmat


Allah Subhanahu wa Ta'ala sangat tidak menyukai hambanya yang tidak bersyukur. Seorang muslim yang tidak bersyukur kepada Allah bisa disebut mendurhakai atau kufur terhadap nikmat. Bagaimana seorang muslim dan muslimah enggan bersyukur, padahal Allah telah mengaruniakan seluruh kenikmatan yang dirasakan kaum muslimin di dunia ini?

Oleh karena itu, hendaknya setiap muslimah apalagi seorang istri harus bersyukur kepada-Nya dan jangan kufur. Bersyukur harus dilakukan dengan hati, lisan, dan amal perbuatan.

(Baca juga : Moeldoko: Seseorang Bisa Berbeda kalau Sudah Bicara Politik... )

Bersyukur dengan hati dilakukan dengan cara senantiasa menyadari, mengingat dan menghadirkan dalam hati bahwa setiap nikmat yang kita rasakan tersebut dari Allah, dan bukan dari siapa pun. Allah lah, dengan kasih sayang-Nya, keutamaan dan kebaikan-Nya yang telah memberikannya kepada kita. Ingatlah, kapan pun saat hati kita merasakan hal itu, berarti hati kita sedang bersyukur kepada Allah.

Bersyukur dengan lisan dilakukan dengan cara ber-tahadduts (menyebut-nyebut) nikmat tersebut, memuji Allah (mengucapkan Alhamdulillah), dan menisbatkan nikmat itu kepada Allah. Bukan malah merasa sombong dan berbangga diri dengan kenikmatan itu seolah semua itu hanyalah hasil jerih payah kita.
halaman ke-1
cover top ayah
اَللّٰهُ يَتَوَفَّى الۡاَنۡفُسَ حِيۡنَ مَوۡتِهَا وَالَّتِىۡ لَمۡ تَمُتۡ فِىۡ مَنَامِهَا‌ ۚ فَيُمۡسِكُ الَّتِىۡ قَضٰى عَلَيۡهَا الۡمَوۡتَ وَ يُرۡسِلُ الۡاُخۡرٰٓى اِلٰٓى اَجَلٍ مُّسَمًّى‌ ؕ اِنَّ فِىۡ ذٰ لِكَ لَاٰیٰتٍ لِّقَوۡمٍ يَّتَفَكَّرُوۡنَ
Allah memegang nyawa (seseorang) pada saat kematiannya dan nyawa (seseorang) yang belum mati ketika dia tidur; maka Dia tahan nyawa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia lepaskan nyawa yang lain sampai waktu yang ditentukan. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran) Allah bagi kaum yang berpikir.

(QS. Az-Zumar:42)
cover bottom ayah
preload video